Belajar Memanusiakan dari Tanah Bencana Banjir

Oleh: Randa Kurnia
Mahasiswa UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan turun langsung ke lokasi bencana. Apa yang saya saksikan benar-benar mengubah cara pandang saya sebagai mahasiswa. Selama ini kita sering terjebak dalam rutinitas kampus—kuliah, rapat, tugas, dan kegiatan organisasi—hingga lupa bahwa di luar sana ada kenyataan hidup yang jauh lebih keras dari yang kita bayangkan.

Daerah yang dulunya penuh kehidupan kini berubah menjadi hamparan tanah retak, pohon tumbang, dan rumah-rumah yang kehilangan bentuknya. Namun, yang paling menghentak perasaan saya adalah tatapan anak-anak yang saya temui. Mereka tersenyum, memeluk, dan tampak ceria dalam foto, tetapi di balik senyum itu tersimpan luka dan kehilangan yang mungkin belum sepenuhnya mereka pahami.

Dari pengalaman itu saya menyadari bahwa kepekaan sosial tidak muncul begitu saja. Ia tumbuh ketika kita berani membuka mata dan hati. Saat menemani anak-anak itu, berbicara dan bermain bersama mereka, saya merasakan bahwa kepedulian bisa hadir dari hal-hal kecil. Mungkin saya tidak membawa bantuan besar, tetapi saya mencoba membawa sedikit ketenangan, sedikit tawa, dan sedikit harapan—dan kadang, itu sudah cukup membuat mereka merasa tidak sendirian.

Pengalaman ini menegaskan pada diri saya bahwa mahasiswa tidak boleh hanya berkutat pada urusan kampus. Masyarakat membutuhkan kehadiran kita, terutama di masa-masa sulit. Ada isu kemanusiaan, lingkungan, dan sosial yang menunggu untuk ditanggapi. Ada orang-orang yang perlu didengar, anak-anak yang perlu ditemani, dan keluarga yang perlu diyakinkan bahwa bantuan tetap datang.

Saya juga belajar bahwa peka bukan berarti harus sempurna. Kepekaan lahir dari keberanian untuk peduli, untuk mendekati ketika orang lain menjauh, dan untuk tetap memberi walau yang kita punya tidak banyak. Foto-foto dari lokasi bencana mengingatkan saya bahwa di balik identitas “mahasiswa”, kita tetap manusia. Dan tugas manusia adalah saling memanusiakan.

Bencana ini mungkin meninggalkan luka mendalam, tetapi saya percaya bahwa melalui gotong royong, empati, dan aksi nyata, masyarakat bisa bangkit kembali. Saya bersyukur bisa hadir di sana, meski dalam kapasitas kecil. Setidaknya, saya tidak hanya menjadi penonton dari jauh—saya memilih untuk hadir, dan dari sana saya belajar arti kemanusiaan yang sesungguhnya.

 

 

(EditorWartabaru.Id/BiroSumatera/169)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *