Oleh : Editor WartaBaru.Id /BiroSumatera/169
Puasa selama ini lebih sering dipahami sebagai ibadah spiritual. Namun di balik praktik menahan lapar dan dahaga, para ahli kesehatan melihat adanya proses biologis penting yang terjadi di dalam tubuh. Sejumlah penelitian menyebut, saat seseorang berpuasa, tubuh memasuki fase recovery atau pemulihan alami—sebuah mekanisme cerdas yang telah terpasang dalam sistem biologis manusia.
Tubuh manusia, dalam pandangan medis, memang dirancang dengan sistem pertahanan dan perbaikan diri yang kompleks. Di dalamnya terdapat miliaran sel hidup, jaringan, serta sistem imun yang bekerja tanpa henti menjaga keseimbangan. Ketika asupan makanan dihentikan sementara, tubuh tidak berhenti bekerja. Justru, di saat itulah sejumlah proses “pembersihan” dan regenerasi berlangsung lebih optimal.
Autophagy: Mekanisme Pembersihan Sel
Istilah ilmiah yang sering dikaitkan dengan puasa adalah autophagy, yakni proses ketika sel-sel tubuh “memakan” dan mendaur ulang komponen yang rusak atau sudah tidak berfungsi. Konsep ini mendapat perhatian luas setelah penelitian dari ilmuwan Jepang, Yoshinori Ohsumi, yang meraih Nobel Prize in Physiology or Medicine atas temuannya mengenai mekanisme autophagy.
Menurut Ohsumi, autophagy adalah sistem daur ulang alami sel yang penting untuk menjaga keseimbangan dan kesehatan tubuh. Saat tubuh berada dalam kondisi kekurangan asupan energi—seperti ketika berpuasa—proses ini meningkat. Sel akan memecah dan membersihkan bagian-bagian yang rusak, kemudian memanfaatkannya kembali sebagai sumber energi dan bahan pembentukan sel baru.
“Autophagy memainkan peran penting dalam respons tubuh terhadap stres dan kelaparan,” tulis Ohsumi dalam publikasi ilmiahnya. Proses inilah yang diyakini berkontribusi pada peremajaan sel dan pencegahan berbagai penyakit degeneratif.
Puasa dan Regenerasi Sistem Imun
Selain autophagy, penelitian lain menunjukkan bahwa puasa juga berpengaruh terhadap sistem imun. Studi dari tim peneliti di University of Southern California menemukan bahwa puasa dalam periode tertentu dapat membantu regenerasi sel-sel sistem kekebalan tubuh.
Ahli gerontologi dan ilmu biologi di universitas tersebut, Valter Longo, menjelaskan bahwa puasa jangka pendek dapat “mengaktifkan sakelar regeneratif” pada sel punca, yang kemudian memicu pembentukan sel-sel imun baru. Dalam kondisi normal, tubuh secara rutin mengganti sel-sel yang rusak atau mati. Namun saat berpuasa, proses ini dapat berlangsung lebih efisien karena tubuh tidak disibukkan dengan metabolisme makanan yang terus-menerus.
“Ketika Anda berpuasa, tubuh mencoba menghemat energi. Salah satu caranya adalah dengan mendaur ulang sel-sel imun yang rusak atau tidak diperlukan,” ujar Longo dalam laporan penelitiannya.
Sinyal Sakit dan Keseimbangan Tubuh
Tubuh manusia bekerja berdasarkan prinsip keseimbangan atau homeostasis. Ketika terjadi gangguan—baik akibat stres, kurang istirahat, maupun pola makan tidak sehat—tubuh akan mengirimkan sinyal berupa rasa nyeri, demam, lemas, atau gejala lainnya. Itu adalah bentuk komunikasi biologis bahwa ada sistem yang terganggu.
Menurut banyak pakar nutrisi, konsumsi makanan tinggi gula, lemak trans, dan zat aditif berlebihan dapat memicu peradangan kronis tingkat rendah. Kondisi ini dalam jangka panjang dapat melemahkan daya tahan tubuh dan membuka pintu bagi berbagai penyakit metabolik.
Dalam konteks ini, puasa dapat menjadi momen “istirahat metabolik”. Ketika tidak ada asupan makanan untuk dicerna, sistem pencernaan beristirahat, kadar insulin menurun, dan tubuh beralih menggunakan cadangan energi. Peralihan ini memicu berbagai respons adaptif yang mendukung perbaikan sel dan efisiensi fungsi imun.
Recovery Tubuh: Ikhtiar Alami yang Terpasang
Secara ilmiah, recovery tubuh saat puasa bukanlah sesuatu yang mistis, melainkan bagian dari desain biologis manusia. Sistem imun, sel-sel hidup, hingga mekanisme daur ulang internal telah terprogram untuk menjaga kelangsungan hidup.
Dalam perspektif keimanan, banyak orang memandang kesempurnaan sistem ini sebagai bagian dari kebesaran Sang Pencipta. Secara medis, para ilmuwan melihatnya sebagai bukti betapa kompleks dan canggihnya sistem tubuh manusia.
Puasa, dengan demikian, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia dapat menjadi sarana pembenahan sistem tubuh—memicu pembersihan sel, memperkuat daya tahan, serta membantu tubuh menemukan kembali keseimbangannya.
Tentu saja, para ahli mengingatkan bahwa puasa harus dijalankan dengan bijak. Asupan gizi saat sahur dan berbuka tetap harus seimbang, hidrasi terpenuhi, serta memperhatikan kondisi kesehatan individu. Bagi mereka dengan penyakit tertentu, konsultasi medis tetap diperlukan.
Namun satu hal yang semakin jelas dalam kajian ilmiah modern: ketika perut kosong dalam ritme yang teratur dan terkontrol, tubuh tidak melemah. Sebaliknya, ia bekerja dalam sunyi—membersihkan, memperbaiki, dan memperbarui dirinya sendiri. Sebuah proses pemulihan alami yang oleh sains disebut regenerasi dan autophagy, dan oleh banyak orang dimaknai sebagai tanda kesempurnaan ciptaan.








