Oleh : Abdul Jalil, S.E., M.M.
Sekretaris Jurusan Ilmu Ekonomi dan Keuangan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Datokarama Palu
Palu (Wartabaru.Id) – Hari Kebangkitan Nasional bukan hanya peringatan sejarah lahirnya kesadaran bangsa, tetapi juga momentum untuk menata kembali cara kita memaknai kepemimpinan. Kebangkitan bangsa tidak cukup hanya dibangun dengan slogan, jabatan, atau kekuasaan, melainkan dengan kepemimpinan yang hadir untuk melayani.
Kepemimpinan melayani menempatkan pemimpin bukan sebagai pusat kekuasaan, tetapi sebagai penggerak kebaikan bersama. Pemimpin yang melayani tidak hanya memberi perintah, tetapi mendengar, memahami, mengayomi, dan memastikan bahwa masyarakat merasakan manfaat dari setiap kebijakan. Dalam konteks kebangsaan, pemimpin seperti ini sangat dibutuhkan untuk menjawab berbagai tantangan, mulai dari kemiskinan, pendidikan, pelayanan publik, hingga ketimpangan sosial.
Semangat Kebangkitan Nasional mengajarkan bahwa perubahan besar lahir dari kesadaran kolektif. Para tokoh pergerakan tidak berjuang untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk membangkitkan martabat bangsa. Nilai inilah yang seharusnya menjadi dasar kepemimpinan hari ini: berani berkorban, dekat dengan rakyat, dan bekerja untuk kepentingan umum.
Di tengah masyarakat yang semakin kritis, kepemimpinan melayani menjadi kebutuhan mendesak. Rakyat tidak lagi cukup diberi janji, tetapi membutuhkan keteladanan. Pemimpin harus hadir di tengah persoalan, bukan hanya tampil dalam seremoni. Ia harus mampu membangun kepercayaan melalui integritas, empati, dan kerja nyata.
Karena itu, Hari Kebangkitan Nasional perlu dimaknai sebagai panggilan moral bagi setiap pemimpin, baik di pemerintahan, pendidikan, organisasi, maupun masyarakat. Kebangkitan Indonesia akan semakin kuat apabila kepemimpinan dijalankan dengan hati yang melayani, pikiran yang jernih, dan tindakan yang berpihak kepada rakyat.
Pada akhirnya, bangsa ini tidak hanya membutuhkan pemimpin yang pandai berbicara, tetapi pemimpin yang mau mendengar; bukan hanya pemimpin yang ingin dihormati, tetapi pemimpin yang bersedia mengabdi. Di situlah makna sejati kebangkitan nasional: ketika kepemimpinan menjadi jalan pelayanan untuk memajukan bangsa.












