Indonesia tengah menikmati lonjakan ekonomi digital yang belum pernah terjadi sebelumnya. Laporan e-Conomy SEA 2025 dari Google, Temasek, dan Bain & Company memperkirakan nilai ekonomi digital Indonesia mendekati US$100 miliar, tertinggi di Asia Tenggara. E-commerce, pembayaran digital, dan video commerce telah mengubah cara masyarakat berbelanja sekaligus membuka peluang usaha bagi siapa saja.Memulai bisnis kini terasa lebih mudah. Bermodal telepon pintar dan koneksi internet, seseorang dapat membuka toko, melakukan siaran langsung, lalu menjangkau ribuan calon pembeli dalam waktu singkat. Digitalisasi seolah menghadirkan janji bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi entrepreneur.Namun, di balik pertumbuhan yang mengesankan itu, tersimpan kenyataan yang berbeda. Banyak usaha tumbuh dengan cepat, tetapi tidak sedikit yang menghilang sebelum mampu membangun fondasi yang kuat. Ketika algoritma berubah, biaya promosi meningkat, atau tren bergeser, penjualan ikut merosot. Bisnis menjadi sangat bergantung pada platform, bukan pada kekuatan merek atau loyalitas pelanggan.Di sinilah persoalan sesungguhnya bermula. Apakah pertumbuhan ekonomi digital benar-benar melahirkan entrepreneur yang tangguh, atau hanya menciptakan penjual yang bergantung pada algoritma? Lalu, bagaimana Indonesia dapat membangun kewirausahaan digital yang tidak sekadar tumbuh cepat, tetapi juga mampu bertahan menghadapi perubahan zaman?Pertumbuhan Cepat, Fondasi Masih RapuhSelama ini keberhasilan transformasi digital sering diukur dari semakin banyaknya UMKM yang masuk ke marketplace. Ukuran tersebut memang mudah dihitung, tetapi belum tentu mencerminkan kualitas kewirausahaan sesungguhnya. Esensi seorang entrepreneur bukan sekadar mampu menjual produk, melainkan menciptakan nilai yang membedakannya dari pelaku usaha lain.Bagi Boutillier dan Uzunidis (2014), entrepreneur adalah penggerak perubahan melalui inovasi. Sementara itu, Léger-Jarniou dan Tegtmeier (2017) memandang kewirausahaan sebagai kemampuan menangkap peluang dan mengubahnya menjadi nilai ekonomi. Artinya, inti kewirausahaan bukan sekadar berjualan, melainkan menciptakan pembaruan yang bernilai.Ironisnya, bisnis digital Indonesia justru bergerak ke arah sebaliknya. Produk semakin seragam, promosi saling meniru, dan perang harga menjadi andalan. Keberhasilan live shopping sering hanya sesaat; ketika algoritma berubah, penjualan merosot. Perhatian dikejar, tetapi keunggulan bisnis justru terabaikan.Ketika Pelanggan Menjadi Milik PlatformDigitalisasi membuka pasar yang semakin luas, tetapi juga melahirkan ketergantungan baru. White (2023) menilai internet mendemokratisasi pasar sehingga usaha kecil dapat bersaing dengan perusahaan besar. Sebaliknya, Maréchal (2021) mengingatkan bahwa ekonomi digital membuat data dan perhatian pengguna menjadi sumber kekuasaan platform.Paradoks itu tampak pada integrasi TikTok Shop dan Tokopedia. Di satu sisi, penjual memperoleh akses pasar yang lebih luas dan sistem yang lebih efisien. Di sisi lain, sebagian UMKM mengeluhkan migrasi sistem, perubahan mekanisme penjualan, hingga turunnya performa toko.Fenomena tersebut menunjukkan bahwa ketika sebagian besar transaksi terkonsentrasi pada sedikit platform, perubahan kebijakan satu ekosistem dapat mempengaruhi secara lansung ribuan pelaku usaha.Dalam situasi seperti itu, banyak pengusaha sesungguhnya tidak memiliki pelanggan mereka sendiri. Mereka tidak menguasai data konsumen, tidak mengendalikan arus kunjungan, bahkan tidak mengetahui mengapa penjualan tiba-tiba naik atau turun. Mereka sedang menyewa pasar yang dikelola platform, bukan membangun pasar yang menjadi aset bisnisnya.Membangun Entrepreneur, Bukan Sekadar Penjual DigitalKarena itu, orientasi pembangunan kewirausahaan perlu diubah. Keberhasilan tidak cukup diukur dari banyaknya UMKM yang berhasil masuk ke platform digital, tetapi dari berapa banyak usaha yang mampu bertahan, naik kelas, membangun merek, serta menciptakan inovasi yang memberi nilai tambah. Literasi digital juga harus berkembang menjadi literasi kewirausahaan digital, yakni kemampuan mengelola merek, membangun komunitas pelanggan, memanfaatkan data konsumen secara etis, dan mengembangkan berbagai saluran pemasaran agar tidak bergantung pada satu platform.Pemerintah, perguruan tinggi, dan pelaku industri perlu mendorong lahirnya model bisnis yang berbasis aset, bukan sekadar berbasis algoritma. Marketplace harus dipandang sebagai pintu masuk memperoleh pasar, bukan fondasi utama sebuah usaha. Dengan cara itu, pengusaha tetap memiliki kendali ketika aturan platform berubah, biaya promosi meningkat, atau tren digital bergeser.Pada akhirnya, tantangan Indonesia bukan kekurangan orang yang mampu berjualan secara digital. Tantangan sesungguhnya adalah melahirkan entrepreneur yang tetap tumbuh ketika algoritma berubah, platform berganti, dan euforia digital berlalu. Sebab, ekonomi digital yang sehat tidak diukur dari banyaknya toko yang viral hari ini, melainkan dari banyaknya pengusaha yang masih bertahan, berinovasi, dan menciptakan nilai bagi masyarakat pada tahun-tahun berikutnya.
Bisnis Digital Indonesia: Tumbuh Cepat Tanpa Fondasi
Oleh: Dr. Yuni Candra, S.E., M.M Sekretaris Prospektif Riset Indonesia & Dosen FEB Universitas Tamansiswa Padang
Read Also
Recommendation for You

Pendahuluan Salah satu indikator keberhasilan sebuah negara adalah kemampuannya memenuhi kebutuhan dasar rakyat dengan biaya…

Pendahuluan Aksi demonstrasi mahasiswa merupakan salah satu bentuk partisipasi politik dan sosial yang telah menjadi…

I. PENDAHULUAN Tahun Baru Islam 1 Muharram bukan sekadar pergantian kalender Hijriah, melainkan momentum refleksi…
Pendahuluan Kasus bunuh diri menjadi salah satu persoalan sosial yang semakin mendapat perhatian di…
Pendahuluan Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi, berkomunikasi, dan menyampaikan aspirasi….
Catatan tahunan Komnas Perempuan yang dirilis pada Maret 2026 mencatat sebanyak 376.529 kasus kekerasan…



