Arinal Haq Fauziah: Mahasiswa Inspiratif Dengan Segudang Prestasi
Pamekasan, 8 Desember 2024 – Di tengah kesibukan di dunia perkuliahan yang penuh tantangan, ada seorang mahasiswa yang berhasil membuktikan bahwa segalanya bisa dicapai dengan kerja keras, dedikasi, dan semangat juang.
Arinal Haq Fauziah, atau yang biasa di sapa Arin, merupakan mahasiswa Prodi BKPI (Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam) di Universitas Islam Negeri Madura yang telah mencuri perhatian banyak orang. Di usianya yang kini menginjak 19 tahun, ia telah berhasil memperoleh berbagai prestasi luar biasa di berbagai bidang, meskipun terbilag muda, Arin sudah membuktikan dirinya sebagai sosok yang penuh dedikasi dan semangat juang, dengan meraih sejumlah penghargaan yang membanggakan.
Arin adalah seorang lulusan Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata Bata, Pamekasan, Madura. Dibalik profil pendidikannya, yang melatar belakangi sebagai seorang santri, ia pernah berfikir bahwa seorang lulusan pondok sangat susah menghadapi dunia luar, namun hal tersebut tidak mematahkan arin untuk terus berkembang dan menjadi mahasiswa berprestasi yang penuh inspiratif.
Kisah perjalanan awalnya, yang kini bisa menjadi seorang mahasiswa berprestasi dan menginspirasi banyak orang yaitu berawal dari prinsip yang ia bangun bahwa, “sebenarnya orang lain itu tidak pernah memikirkan kita, kalo kita hanya fokus dan takut dengan pandangan orang lain, maka kita tidak akan tumbuh, atau malah kita sendiri yang rugi, karena orang lain, juga fokus dengan perkembangannya masing-masing” Ujar Arin, Minggu (08/12/24), Pamekasan.
Sebagai mahasiswa, Arina selalu menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama. Ia dikenal sebagai sosok yang cerdas dan rajin, selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam setiap mata kuliah yang diambilnya. Di awal perkuliahannya, Arin mampu meraih IPK yang sangat memuaskan, yang membuatnya dikenal di kalangan dosen dan teman-temannya.
Sejak duduk di bangku perkuliahan ia aktif berorganisasi dan berbagai kegiatan lomba, baik tingkat nasional hingga internasional. Dan Organisasi yang ia jabat saat ini adalah Himpunan Mahasiswa BKPI (Bagian Konseling Pendidikan Islam), di dalam keorganisasiannya tersebut, ia sering menjadi moderator dan mc. Selain aktif berorganisasi ia banyak meraih pengharaggan yaitu 4 conference internasional yang diadakan di Malang, Madura dan Lampung, dan beberapa prestasi nasional yaitu, juara 2 karya tulis ilmiah, juara 3 presenter, juara 3 esai nasional, dibidang karya tulis cerpen dan puisi.
“Yang berorganisasi ga salah, yang ga berorganisasi juga ga salah, yang salah adalah yang menyepelekan akademik. Apakah pemicunya adalah organisasi? Oh tentu tidak! Pemicunya adalah mindset diri sendiri.. karena, yang ga berorganisasi belum tentu tidak menyepelekan akademik. Arin selalu bangga sama kalian yang tetap menomorsatukan akademik diatas apapun, dan itu harus menjadi prioritas utama dan pertama! Dari berbagai prestasi yang bisa ku raih, sebenarnya hanya ingin menunjukkan bahwasanya organisasi ga pernah jadi penghambat dan penghalang, semua tergantung bagaimana cara kita memanage waktu” ucap Arin dengan penuh inspiratif. Dengan ucapanya tersebut, Arin telah membuktikan bahwa aktif berorganisasi tidak membuat nilai akademik kita menjadi terancam, hanya saja tergantung bagaimana kita memanage waktu dengan baik”, kata Arin, Minggu (08/12/24), Pamekasan.
Salah satu pencapaian terbesar Arin adalah saat ia mengukti Conference Internasional Pendidikan Islam ke – 9 (ICIED) 2024 yang diadakan di Universitas Islam Negeri Malang, Arin menunjukkan kemampuan luar biasa dalam berbicara didepan umum dan menyampaikan argumen dengan penuh percaya diri. Arin juga sangat bersyukur dan ia menyampaikan,
“Alhamdulillah bisa berpartisipasi dalam Conference Internasional Iconis ke-8, pengalaman baru bisa jadi salah satu presenter, bersyukur juga bisa bertemu dengan banyak mahasiswa S1, S2, S3 bahkan dosen-dosen dari berbagai Universitas di Indonesia, dan berkesempatan bertemu dengan orang-orang dari China, Malaysia dan Sudan. Sungguh hal ini tidak akan Arin dapatkan rasanya jika bukan takdir dan kemurahan hati Allah”. Minggu, (08/12/24), Pamekasan.
Selain itu ia juga meraih empat medali emas dalam kompetisi nasional, ia juga pernah menulis banyak buku dan artikel yang penuh inspirasi salah satunya yaitu “Lebih Baik Gagal, Dari Pada Menyesal Tidak Mencoba”, “Menggapai Mimpi Lewat Bidikmisi”, “Berani Menerjang Hujan”, dan masih banyak karya tulis lainnya.
“Sama seperti yang selalu saya katakana kepada teman-teman lainnya, selagi masih muda, kejar apa yang kita sukai! Selama itu positif, go for it!. Pegang prinsip mau belajar, berani mencoba, dan jangan takut gagal. Lebih baik gagal saat ini, dari pada menyesal tidak mencoba sama sekali. Sebab, titik akhir pencapaian bukan tergantung pada sukses atau gagal, melainkan menghargai sebuah proses”. Ucap Arin, Minggu, (08/12/24), Pamekasan.
Dokumentasi Arinal Haq Fauziah sebagai peserta terbaik Duta Moderasi Beragama IAIN Madura
Selain penghargaan dari prestasi akademik yang ia dapat, ia juga sedang menjabat beberapa duta saat ini, yaitu: Duta Gen z Indonesia, Duta Baca IAIN Madura, Duta Gen-r Kabupaten Sampang. “Bohong rasanya jika aku tidak senang berada di posisi ini, tapi jika boleh jujur, lebih banyak beban yang bersarang di kepala, apakah aku mampu dan apakah aku bisa untuk melanjutkan perjuangan keluarga genre agar dapat mewujudkan misi besar untuk berdampak positif pada sesama remaja, tapi aku yakin satu hal, aku berada di lingkungan yang positif yang dapat membangun diri sendiri dan orang lain nanti. Sesuai dengan gaungan genre bahwa kami akan “menjabat selama setahun, menginspirasi seumur hidup” pada dasarnya, bukankah hidup hanya tentang terinspirasi dan menginspirasi? akan sangat rugi rasanya jika masa remaja yang dianugerahi dengan sehat fisik yang mumpuni hanya digunakan untuk berdiam diri. tidak ada yang memintamu untuk menjadi aku atau orang lain, jadi dirimu yang terus berusaha upgrade diri dan lebih baik dari kemarin itu sudah sangat lebih dari cukup, mimpi saja tidak cukup, kita butuh aksi agar nanti bisa mendapatkan hasil sebagai bukti. Semangatttt!!” Ujar Arin dengan penuh semangat, Minggu, (08/12/24), Pamekasan.
Di tengah kecintaanya, dalam ber- public speaking, ia pernah memberikan argumennya di sebuah acara sharing inspiration yang berjudul “Gender Tidak Menjadi Penghalang Perempuan Untuk Maju Dan Berprestasi” judul itu berawal dari kisahnya, bermula dari seorang anak desa yang dianggap beruntung bisa melanjutkan pendidikannya di jenjang perguruan tinggi, dan di Desa tempat ia tinggal, kini masih memegang teguh budaya patriarki. Pendidikan bagi perempuan masih menjadi hal yang tabu dan tidak penting. ia menjadi salah satu perempuan yang ingin menghapus stigma tersebut dengan berkuliah dan menorehkan banyak prestasi. Ia juga ingin menunjukkan bahwa gender bukanlah penghalang untuk maju. Laki-laki ataupun perempuan memiliki hak dan kedudukan yang sama dalam dunia pendidikan.
Kisah Arin sangat mengispirasi untuk banyak orang, tentunya di negeri kita saat ini, yang masih banyak desa desa terpencil, yang didalamnya masih sagat terasa keberadaan gender tersebut.
Sebagai mahasiswa yang masih terbilang muda, Arin saat ini berhasil meng-cosplay beberapa figur public, yaitu: Speaker, Autor Fiksi (penulis Novel, Cerpen, Puisi, dll), Host Podcast, Content Creator, Voice offer, Reporter, Affiliator, volunteer, Mawapres, Founder Komunitas, Autor non Fiksi, Panitia, Pemenang Lomba, Host and MC all event, Duta, Mahasiswa.
Dokumentasi pribadi: beberapa prestasi yang diraih oleh Arin
Motivasi yang Arin punya ialah “setiap orang pasti ingin berkembang dan saya menyukai proses, dan setiap ada kesempatan saya akan berfikir bahwa kesempatan tidak akan datang dua kali, jadi saya selalu mengupayakan untuk selalu berproses dalam hidup ini”, Kata Arin, Minggu (08/12/24), Pamekasan. Dari tantangan yang Arin hadapi saat ini yaitu rasa malas dan kurangnya motivasi dari segi internal, dan cara mengatasi tantangannya yaitu, kesadaraan diri karena menurut Arin “gaadaa gunanya hidup kalo cuman berdiam diri” Ucap nya.
Meskipun banyak prestasi yang ia dapat, tentu banyak rintangan yang harus ia hadapi, termasuk kegagalan, ia mengatakan bahwa meskipun banyak kegagalan, ia tak kan berhenti untuk terus mencoba karena menurutnya kemenangan adalah bonus di setiap proses yang kita lalui.(Shafa)

