JAKARTA – Antusiasme calon mahasiswa untuk menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) terus menunjukkan tren positif. Hingga Rabu (13/5), Panitia Nasional mencatat sebanyak 60.000 peserta telah mendaftarkan diri. Meski angka pendaftar terus meroket, panitia memberikan perhatian khusus pada keberlangsungan program studi keagamaan yang menjadi ciri khas institusi.
Ketua Panitia Nasional PMB PTKIN, Prof. Dr. Abd Aziz, M.Pd.I, menegaskan bahwa program studi (prodi) seperti Akidah dan Filsafat Islam serta Ilmu Hadis adalah “ruh” utama dari PTKIN. Untuk menjaga eksistensinya di tengah persaingan prodi umum, pemerintah telah menyiapkan skema khusus.
“Prodi ini tidak boleh hilang. Kami memberikan stimulus bisa berupa beasiswa khusus atu tergantung bagi kebijakan kampus masing-masing bagi pendaftar di prodi keagamaan, agar nilai-nilai keislaman moderat tetap terjaga melalui kaderisasi ulama dan pemikir Islam yang mumpuni,” jelas Prof. Aziz dalam konferensi pers di Jakarta.
Senada dengan upaya penjaringan minat tersebut, Koordinator Penjamin Mutu PMB PTKIN, Prof. Zulfahmi Alwi, M.Ag., Ph.D., memastikan bahwa peningkatan kuantitas pendaftar dibarengi dengan kualitas seleksi yang ketat. Menurutnya, standar mutu adalah fondasi untuk menghasilkan input mahasiswa yang unggul.
“Tugas kami adalah memastikan bahwa standar mutu dari hulu ke hilir terpenuhi tanpa celah. Kami melakukan sinkronisasi antara tim pembuat soal dan tim sistem Sistem Seleksi Elektronik (SSE) agar ujian berjalan objektif. Penjaminan mutu ini juga mencakup pengawasan ketat terhadap integritas pelaksana di setiap titik lokasi ujian di seluruh Indonesia,” tegas Prof. Zulfahmi.
Dari sisi kesiapan manajemen dan operasional, Bendahara Forum Pimpinan PTKN, Prof. Dr. Martin Kustanti, M.Pd., menekankan pentingnya dukungan fasilitas di setiap kampus untuk menyukseskan gelaran nasional ini. Ia memastikan bahwa alokasi anggaran telah diarahkan untuk memperkuat sarana prasarana yang mendukung semua lapisan pendaftar.
“Kami di jajaran bendahara memastikan dukungan finansial kampus telah disinkronkan dengan kebutuhan sistem inklusif yang dicanangkan panitia pusat. Fokus utama kami adalah memperkuat infrastruktur ujian, terutama dalam penyediaan fasilitas bagi pendaftar disabilitas. Kami ingin memastikan tidak ada kendala teknis maupun aksesibilitas saat ujian berlangsung nanti,” jelas Prof. Martin.












