
Penulis : Zuyyinah Salim (Mahasiswa Doktoral Islamic Studies UIN MADURA)
Setiap tanggal 25 November, bangsa ini merayakan Hari Guru sebagai sebuah momentum reflektif untuk menghargai kontribusi para pendidik yang telah menuntun generasi muda menuju masa depan. Dalam konteks tersebut, keberadaan guru perempuan memiliki makna yang sangat strategis dan Urgen. Mereka tidak hanya hadir sebagai penyampai ilmu pengetahuan(Transfer of knowledge), tetapi juga sebagai figur moral, pengasuh emosional, dan sumber keteladanan bagi murid-muridnya. Peran ini menjadikan guru perempuan sebagai aktor pendidikan yang memiliki kedalaman fungsi sosial sekaligus kekuatan simbolik di masyarakat.
Guru perempuan kerap menghadirkan dimensi afektif yang sangat penting dalam proses belajar-mengajar. Kehangatan dalam komunikasi, kemampuan membaca kebutuhan emosional murid, serta kesabaran dalam membimbing perkembangan karakter menjadikan mereka agen pendidikan yang tidak hanya fokus pada aspek kognitif, tetapi juga pada pembentukan manusia secara holistik. Dalam perspektif pedegogi kritis, kemampuan seperti ini menciptakan safe learning environment—ruang belajar yang aman, inklusif, dan mendukung proses tumbuh kembang anak didik. Kelembutan mereka bukanlah bentuk kelemahan, tetapi justru menjadi sumber kekuatan relasional yang memperkuat efektivitas dalam proses pembelajaran .
Di balik profesionalitas tersebut, tak sedikit guru perempuan yang menjalankan peran ganda. Mereka bangun lebih awal, menyelesaikan tanggung jawab domestik, mengatur kebutuhan keluarga, sebelum kemudian mempersiapkan pembelajaran dan menjalankan tugas di sekolah. Setelah pulang, mereka masih menyelesaikan administrasi pembelajaran atau mendampingi anak didik yang membutuhkan perhatian ekstra. Beban kerja ini menunjukkan bagaimana guru perempuan sering beroperasi dalam “beban ganda” (double burden) yang khas dalam masyarakat patriarkal. Namun, di tengah kompleksitas peran tersebut, mereka tetap menghadirkan komitmen dan senyum yang tulus. Bagi banyak dari mereka, mengajar bukan semata profesi, melainkan panggilan hati yang berakar pada nilai pengabdian.
Dalam masyarakat yang terkadang masih membatasi peran perempuan dalam ruang publik, guru perempuan menjadi bukti nyata bahwa pendidikan adalah arena yang memungkinkan perempuan untuk tampil sebagai pemimpin, pembaharu, dan agen perubahan sosial. Melalui kewibawaan moral dan kecakapan profesional, mereka menunjukkan bahwa perempuan memiliki kapasitas penuh untuk memengaruhi struktur sosial melalui pembentukan generasi muda. Mereka bukan hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga meneladankan keberanian, kemandirian, ketangguhan, dan kecerdasan. Hal ini sejalan dengan pendekatan gender dalam pendidikan yang menekankan pentingnya representasi perempuan sebagai figur otoritatif dalam dunia ilmu.
Kontribusi mereka juga sangat signifikan dalam memperluas kesempatan yang setara bagi murid. Melalui interaksi sehari-hari di kelas, guru perempuan menanamkan nilai bahwa setiap anak—baik laki-laki maupun perempuan—memiliki hak yang sama untuk bermimpi, berpikir kritis, dan meraih masa depan yang mereka inginkan. Dalam perspektif pendidikan yang berkeadilan gender, peran ini sangat penting karena membantu menciptakan generasi yang lebih egaliter dan terbebas dari stereotipe. Guru perempuan, dalam posisi ini, menjadi jembatan yang menghubungkan nilai kesetaraan dengan praksis pendidikan yang nyata.
Dengan demikian, penghormatan kepada guru perempuan bukan hanya bentuk apresiasi, tetapi juga pengakuan atas kontribusi mereka dalam membentuk ekosistem pendidikan yang lebih inklusif, humanis, dan transformatif. Hari Guru adalah kesempatan untuk menegaskan kembali bahwa keberadaan mereka merupakan fondasi penting bagi kemajuan pendidikan nasional.
Selamat Hari Guru. Terima kasih kepada seluruh guru perempuan Indonesia yang terus mengajar dengan hati, integritas, dan keteguhan.
Semoga pengabdian Anda menjadi sumber cahaya bagi masa depan bangsa.