Valen Berhasil Memperkenalkan, Mampukah Pamekasan Membuktikan?

Foto: Khafifatus Zahrah (Ketua PC IPPNU Pamekasan)

Kehadiran Ach Valen Akbar—atau yang lebih dikenal dengan nama Valen—pasca ajang pencarian bakat D Academy 7 menjadi fenomena yang menyita perhatian publik. Gaungnya tidak hanya terasa di Pamekasan dan Madura, tetapi meluas hingga menjadi perbincangan nasional. Respons masif di media sosial menunjukkan bahwa Valen bukan sekadar peserta kompetisi, melainkan telah menjelma menjadi magnet perhatian publik Indonesia.

Secara tidak langsung, popularitas Valen turut menyeret nama Pamekasan ke ruang diskursus nasional. Rasa penasaran publik bermunculan: bagaimana daerah asal Valen, seperti apa lingkungannya, budayanya, hingga masyarakatnya. Sebagian ingin mengetahui latar sosial yang membentuk karakter Valen, sebagian lainnya bahkan mulai tertarik untuk datang langsung dan merasakan “udara yang sama” dengan idolanya.

Fenomena ini seharusnya dibaca sebagai peluang besar, bukan sekadar euforia sesaat. Kemenangan Valen tidak dapat dipahami hanya sebagai keberhasilan individu, tetapi juga sebagai kemenangan simbolik masyarakat Pamekasan. Saat Valen berdiri di panggung megah D Academy, ia membawa serta identitas budaya, nilai, dan citra daerah asalnya. Maka, kepulangannya idealnya tidak hanya disambut dengan keramaian, konser, dan kerumunan, tetapi juga dengan kesiapan daerah untuk membuktikan apa yang telah diperkenalkan Valen kepada publik luas.

Karisma Valen adalah karisma Pamekasan. Keramahannya adalah keramahan Pamekasan. Kreativitas dan multitalenta-nya mencerminkan potensi generasi muda Pamekasan. Pertanyaannya kemudian, apakah Pamekasan siap dan mampu membuktikan bahwa citra tersebut memang nyata?

Sorotan publik terhadap Valen pada dasarnya juga merupakan sorotan terhadap Pamekasan. Kondisi ini menuntut kesiapan daerah sebagai kabupaten yang berpotensi mulai ramai dikunjungi. Penataan kota, perbaikan destinasi wisata, pengelolaan lingkungan, akses jalan, hingga ketersediaan transportasi umum bukan lagi sekadar kebutuhan lokal, melainkan peluang strategis yang harus digarap secara serius dan kolektif.

Pamekasan sejatinya memiliki modal besar. Ada pusat sejarah dan budaya yang tersimpan di Museum Mandhilaras, makam-makam tokoh karismatik yang sarat nilai historis, pantai-pantai dengan panorama menarik, sentra batik yang kaya filosofi, hingga api abadi yang menyimpan daya tarik unik. Sayangnya, banyak dari potensi tersebut masih terjebak dalam persoalan klasik: minim perawatan, kurang promosi, akses sulit, dan persoalan kebersihan.

Di sisi lain, Pamekasan juga memiliki sumber daya manusia muda, salah satunya melalui wadah Kacong Cebbhing Pamekasan, yang sejatinya dapat digerakkan lebih progresif sebagai duta promosi daerah. Dengan pengelolaan yang tepat, mereka dapat menjadi penghubung informasi yang akurat, menarik, dan meyakinkan bagi publik digital bahwa Pamekasan layak dikunjungi.

Bayangkan jika magnet popularitas Valen disinergikan dengan pembenahan kota, pengelolaan wisata yang serius, serta promosi digital yang masif dan terarah. Bukan mustahil Pamekasan akan menjadi salah satu tujuan kunjungan baru, tidak hanya bagi masyarakat Madura, tetapi juga dari luar pulau, bahkan nasional. Dampaknya bukan sekadar citra, melainkan juga perputaran roda ekonomi masyarakat.

Pada akhirnya, Valen telah melakukan bagiannya: memperkenalkan Pamekasan lewat karya, karisma, dan kreativitasnya. Kini, tanggung jawab itu beralih kepada Pamekasan sendiri. Mampukah Pamekasan membuktikan bahwa apa yang telah diperkenalkan Valen bukan sekadar citra, melainkan realitas yang bisa disaksikan dan dirasakan langsung?

Exit mobile version