Berita  

Dinamika Konfercab NU Bukittinggi: Sorotan atas Inkonsistensi Sikap Sejumlah Pihak

Bukittinggi (WartaBaru) – Sekretaris PCNU Bukittinggi periode sebelumnya, Yefri Joni, bersama Sekretaris Tanfidziyah MWCNU ABTB, Zuwardi, menyoroti dinamika pasca Konfercab PCNU Bukittinggi yang dinilai menyisakan persoalan terkait konsistensi sikap dalam tubuh organisasi.

Keduanya menilai terdapat ironi dalam proses yang berjalan, terutama ketika sebagian pihak yang sebelumnya berada dalam posisi penolakan terhadap kehadiran dan aktivitas NU di Bukittinggi, bahkan disebut pernah melontarkan kritik keras terhadap tokoh PBNU, kini justru berada dalam struktur kepengurusan hasil konferensi.

Dok.Foto Sekretaris PC NU Kota Bukittinggi Yefri Joni, MA (Masa khitmad 2022-2026)

“Yang menjadi catatan serius kader adalah konsistensi sikap. Ada pihak yang sebelumnya berada pada posisi penolakan, tetapi kemudian justru terlibat dan masuk dalam struktur hasil proses yang sama. Ini yang menjadi tanda tanya di kalangan kader,” ujar Yefri Joni.

Menurutnya, kondisi tersebut memunculkan pertanyaan di tingkat akar rumput, terutama terkait sikap sebagian pihak di PWNU Sumatera Barat yang dalam proses berjalan dinilai tidak konsisten dalam menentukan posisi terhadap kelompok-kelompok yang terlibat dalam dinamika organisasi.

Sementara itu, Zuwardi menegaskan bahwa NU dibangun di atas prinsip khidmat, kaderisasi, dan etika organisasi yang semestinya menjadi ukuran utama dalam setiap proses kepengurusan.

“NU bukan ruang instan. Ada proses panjang, ada kaderisasi, dan ada etika organisasi. Yang menjadi ironi di lapangan adalah ketika kelompok yang sebelumnya keras menolak bahkan mencemooh tokoh-tokoh NU dan PBNU, kemudian dalam proses berikutnya justru mendapat ruang dan dukungan dalam struktur yang sama,” katanya.

Ia menambahkan, kondisi tersebut oleh sebagian kader dipandang sebagai bentuk inkonsistensi sikap dalam tubuh organisasi.

“Pertanyaan yang muncul di bawah sederhana saja: kalau dulu menolak, bahkan mencemooh, lalu sekarang didukung dan diberi ruang, maka di mana letak konsistensi sikap organisasi itu sendiri,” ujarnya.

Zuwardi juga menilai PWNU Sumatera Barat semestinya menjadi penyangga konsistensi, bukan justru memunculkan kesan perubahan sikap dalam proses yang sama.

“Organisasi sebesar NU semestinya memiliki sikap yang tegas dan konsisten dari awal sampai akhir proses. Ketika itu tidak terlihat, maka yang muncul adalah kebingungan dan hilangnya kepercayaan di tingkat akar rumput,” tegasnya.

Keduanya berharap dinamika tersebut menjadi evaluasi serius agar ke depan PWNU Sumatera Barat dapat memperkuat konsistensi sikap, keterbukaan proses, serta menjaga marwah organisasi di mata kader.

(EditorWartaBaru/169)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *