Palu (UIN Datokarama) – Lima mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu tampil sebagai presenter dalam 5th International Conference on Islamic and Interdisciplinary Studies (ICIIS) Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Pascasarjana UIN Datokarama Palu, Jumat, 16 Oktober 2026.
Dalam forum akademik internasional tersebut, para mahasiswa mempresentasikan empat makalah penelitian yang mengangkat isu keuangan berkelanjutan, inklusi keuangan digital, aksesibilitas pangan, serta penguatan penghidupan perempuan melalui pembiayaan usaha mikro. Keempat penelitian tersebut mengintegrasikan perspektif ekonomi Islam dengan pendekatan interdisipliner untuk menjawab berbagai persoalan pembangunan dan kebutuhan masyarakat.
Partisipasi mahasiswa FEBI dalam konferensi ini menjadi ruang strategis untuk memperkenalkan hasil penelitian, menguji gagasan secara akademik, serta memperkuat kemampuan menyampaikan argumentasi ilmiah di hadapan peserta konferensi. Topik yang diangkat juga memperlihatkan perhatian mahasiswa terhadap penerapan prinsip ekonomi Islam dalam menjawab tantangan sosial dan ekonomi, baik pada tingkat lokal maupun dalam kerangka pembangunan berkelanjutan.
Dekan FEBI UIN Datokarama Palu, Dr. Sagir Muhammad Amin, M.Pd.I., menyampaikan apresiasi atas keterlibatan mahasiswa dalam forum akademik internasional tersebut. Menurutnya, keikutsertaan mahasiswa sebagai presenter merupakan bagian penting dari pengembangan budaya akademik yang mendorong penelitian, publikasi ilmiah, dan keberanian menyampaikan gagasan berdasarkan hasil kajian yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ia menegaskan bahwa mahasiswa perguruan tinggi tidak hanya dituntut menguasai teori di ruang perkuliahan, tetapi juga perlu mampu mengidentifikasi persoalan nyata di tengah masyarakat dan merumuskan solusi melalui penelitian ilmiah.
“Keikutsertaan mahasiswa FEBI dalam konferensi internasional ini merupakan capaian yang patut diapresiasi. Kami berharap pengalaman tersebut dapat meningkatkan kepercayaan diri, kemampuan berpikir kritis, serta keterampilan komunikasi ilmiah mahasiswa. Lebih dari itu, penelitian yang dilakukan hendaknya tidak berhenti pada presentasi akademik, tetapi dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan penyelesaian persoalan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Dekan, penguatan kapasitas penelitian dan publikasi ilmiah perlu menjadi bagian integral dari proses pendidikan di FEBI. Dengan demikian, mahasiswa diharapkan mampu menghasilkan karya akademik yang relevan dengan perkembangan ilmu ekonomi dan keuangan Islam sekaligus responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Empat Makalah Angkat Persoalan Ekonomi dan Sosial
Makalah pertama dipresentasikan oleh Khalisah Humairah dan Oryza Shatifa dengan judul “Bridging Islamic Social and Commercial Finance for the Sustainable Development Goals: A Systematic Literature Review.”
Penelitian tersebut mengkaji hubungan komplementer antara keuangan sosial Islam dan keuangan komersial Islam dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Melalui tinjauan sistematis terhadap 37 artikel yang bersumber dari basis data Scopus dengan mengikuti kerangka Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA), penelitian ini memetakan kontribusi berbagai instrumen keuangan Islam terhadap agenda pembangunan berkelanjutan.
Hasil kajian menunjukkan bahwa instrumen keuangan sosial, seperti zakat dan wakaf, berperan dalam mendukung pengentasan kemiskinan dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Sementara itu, instrumen keuangan komersial, seperti sukuk hijau dan perbankan syariah, memiliki potensi untuk mendukung pengembangan energi bersih, infrastruktur, serta kegiatan ekonomi produktif.
Penelitian ini juga menyoroti peluang integrasi kedua sektor melalui instrumen seperti Cash Waqf Linked Sukuk dan skema pembiayaan campuran berbasis syariah. Integrasi tersebut dinilai dapat memperluas sumber pembiayaan pembangunan sekaligus memperkuat kontribusi keuangan Islam terhadap pencapaian SDGs.
Makalah kedua dipresentasikan oleh Winda Rahmawati dan Nina Rezkiah dengan judul “Can Banking Agents Bridge the Digital Divide? Human-Assisted Branchless Banking and Ḥifẓ al-Māl among Generation X in Tolitoli.”
Penelitian kualitatif yang dilakukan di Kecamatan Dondo, Kabupaten Tolitoli, ini mengkaji peran agen layanan perbankan dalam membantu masyarakat mengakses layanan keuangan digital. Penelitian melibatkan tiga agen BRILink dan sembilan pengguna dari kelompok Generasi X.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa pendampingan langsung, kepercayaan, kedekatan lokasi layanan, dan fleksibilitas transaksi membantu masyarakat memanfaatkan layanan perbankan tanpa harus mengunjungi kantor bank. Keberadaan agen menjadi penting bagi pengguna yang belum sepenuhnya mampu mengoperasikan teknologi digital secara mandiri.
Meskipun demikian, efektivitas layanan tersebut masih dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antara lain keandalan jaringan, ketersediaan uang tunai dan saldo pada agen, kompetensi petugas, serta transparansi biaya transaksi.
Dalam perspektif ḥifẓ al-māl atau perlindungan harta, penelitian ini menekankan pentingnya keamanan transaksi, efisiensi penggunaan sumber daya, dan kesinambungan pengelolaan keuangan. Hasil kajian tersebut memberikan gambaran bahwa inklusi keuangan digital tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan teknologi, tetapi juga dengan kemampuan masyarakat memperoleh layanan yang aman, mudah, dan dapat dipercaya.
Makalah ketiga dibawakan oleh Besse Astirah Ramda M.S. Fayyat dengan judul “Does Lower Price Mean Real Access? Community Responses, Food Accessibility, and Maqāṣid al-Sharīʿah in Pengawu, Palu.”
Penelitian ini berfokus pada pelaksanaan Gerakan Pangan Murah di Kelurahan Pengawu, Kota Palu, dengan menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif. Kajian tersebut berupaya memahami sejauh mana program pangan murah mampu memberikan akses nyata bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga.
Hasil penelitian menemukan bahwa harga komoditas yang lebih rendah tidak secara otomatis menjamin kemudahan masyarakat untuk memperoleh bahan pangan. Akses terhadap program turut dipengaruhi oleh ketepatan informasi, mobilitas warga, ketersediaan transportasi, panjang antrean, mekanisme kupon atau kuota, serta ketersediaan komoditas yang dibutuhkan.
Hambatan tersebut terutama dirasakan oleh sebagian warga lanjut usia yang menghadapi keterbatasan mobilitas. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberhasilan program pangan murah perlu dinilai tidak hanya berdasarkan harga jual, tetapi juga berdasarkan kemudahan masyarakat menjangkau layanan dan memperoleh manfaatnya.
Dengan menggunakan perspektif maqāṣid al-sharīʿah, penelitian ini menegaskan pentingnya orientasi kemaslahatan dalam pelaksanaan kebijakan publik. Program intervensi pangan perlu mempertimbangkan perlindungan kebutuhan dasar, keterjangkauan harga, serta kemampuan rumah tangga mempertahankan daya beli. Dengan demikian, manfaat kebijakan diharapkan dapat dirasakan secara lebih merata oleh kelompok masyarakat yang membutuhkan.
Sementara itu, makalah keempat dipresentasikan oleh Zal Sabila dan Vitazia dengan judul “Can Group-Based Fintech Microfinance Strengthen Women’s Livelihood Capital? An SLF and Ḥifẓ al-Māl Analysis in Pasangkayu.”
Penelitian kualitatif ini melibatkan 11 perempuan pelaku usaha mikro di Desa Ako, Kabupaten Pasangkayu. Kajian menggunakan Sustainable Livelihoods Framework (SLF) dan perspektif ḥifẓ al-māl untuk menganalisis kontribusi pembiayaan mikro berbasis teknologi finansial dan kelompok terhadap penguatan modal penghidupan perempuan.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa manfaat pembiayaan paling terlihat pada penguatan modal keuangan dan modal fisik, seperti penambahan modal kerja, persediaan barang, bahan baku, serta peralatan sederhana yang menunjang kegiatan usaha.
Namun, pengembangan kapasitas pengelolaan keuangan, pemasaran, dan promosi digital belum berlangsung secara merata. Selain berfungsi sebagai sarana pembiayaan, pertemuan kelompok juga menjadi ruang berbagi informasi dan membangun kepercayaan di antara para pelaku usaha. Di sisi lain, mekanisme tanggung jawab bersama dalam kelompok dapat menimbulkan tekanan apabila tidak diimbangi dengan pengelolaan risiko yang memadai.
Penelitian ini menekankan bahwa keberhasilan pembiayaan mikro tidak cukup diukur dari tersedianya dana, tetapi juga dari kemampuan penerima memanfaatkan pembiayaan secara produktif, meningkatkan kapasitas usaha, dan menjaga keberlanjutan aset yang dimiliki. Pendekatan tersebut diharapkan dapat mendukung kemandirian ekonomi perempuan sekaligus memperkuat perlindungan terhadap harta dan hasil usaha.
Perkuat Budaya Riset dan Kontribusi Akademik
Keempat makalah yang dipresentasikan memperlihatkan beragam upaya mahasiswa FEBI UIN Datokarama Palu dalam menghubungkan kajian ekonomi dan keuangan Islam dengan persoalan konkret di tengah masyarakat. Mulai dari pembiayaan pembangunan berkelanjutan, pemanfaatan layanan keuangan digital, keterjangkauan pangan, hingga pemberdayaan perempuan pelaku usaha mikro, seluruh penelitian menempatkan manfaat sosial sebagai salah satu perhatian utama.
Penggunaan pendekatan penelitian kualitatif, tinjauan sistematis, serta kerangka analisis berbasis ekonomi Islam menunjukkan upaya mahasiswa untuk mengembangkan kajian yang tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga berangkat dari bukti dan pengalaman masyarakat.
Melalui forum ICIIS 2026, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk menyampaikan hasil penelitian, memperluas wawasan akademik, serta mengembangkan kemampuan berdiskusi dan mempertahankan argumentasi ilmiah. Pengalaman tersebut juga menjadi bagian dari proses pembentukan kompetensi lulusan yang mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan dinamika kebutuhan masyarakat.
FEBI UIN Datokarama Palu berharap keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ilmiah semacam ini dapat terus berkembang dan mendorong lahirnya penelitian berkualitas yang berpotensi dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bereputasi. Pada saat yang sama, hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pengembangan kebijakan, inovasi layanan keuangan syariah, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Partisipasi dalam konferensi internasional ini sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi antara pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam membangun tradisi akademik yang produktif, kritis, dan berorientasi pada kemaslahatan.












