Pentingnya Manusia Mengenal dan Memahami Tuhan (Kajian Tasawuf, Tariqat, dan Ilmiah)

Penulis : Sidi Novi Zulfikar

A. Pendahuluan

Manusia sejak dulu selalu bertanya tentang hakikat kehidupan, disadari maupun tidak disadari, seperti pertanyaan-pertanyaan tentang dari mana manusia berasal, untuk apa hidup, dan ke mana setelah mati. Pertanyaan tersebut membawa manusia pada pencarian terhadap Tuhan. Dalam Islam, mengenal Tuhan bukan sekadar mengetahui bahwa Tuhan ada, tetapi juga memahami sifat-sifat-Nya, mendekat kepada-Nya, serta menjadikan-Nya pusat kehidupan spiritual dan moral.

Dalam kajian tasawuf dan tariqat, mengenal Tuhan disebut sebagai ma‘rifatullah, yaitu pengetahuan batin yang lahir melalui penyucian jiwa, zikir, dan penghambaan yang mendalam. Dari sisi ilmiah, kebutuhan manusia terhadap Tuhan juga dikaji melalui psikologi, filsafat, dan ilmu sosial yang menunjukkan bahwa spiritualitas memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan mental, moralitas, dan makna hidup.

Seharusnya mengenal Tuhan tidak sebatas tahu saja melainkan juga memahaminya. Memahami disini tidak hanya di nama saja, tetapi secara utuh dapat dirasakan, di dengar, hingga dilihat wujudnya. Atau ketika jika Tuhan dimaknai sesungguhnya sesuatu yang ditakuti, sesuatu tempat bergantung semua kebutuhan, sesuatu yang memiliki kekuatan lebih, dan sesuatu tempat berlindung, sesuatu yang dipuja dan dipuji  dan segala sesuatu yang berlebih / tak tertandingi  (Maha). Maka Tuhan memiliki wujudnya dan dengan wujud Tuhan itu sendiri setiap makhluk yang telah dijadikan serta diciptakanNya dapat melihat, mendengar dan merasakan Tuhan.

Muncul pertanyaan di benak seseorang yang sedang pencarian kebenaran Tuhan itu sendiri yaitu Mengapa Agama itu muncul  dan beragam Agama di muka bumi ? Mengapa setiap Agama berbeda-beda TuhanNya? dan Mengapa ada yang beranggapan Tuhan yang diyakini dan dipercayai itu walaupun dalam keterangan agamanya BerWujud namun hanya cukup diyakini dan dipercayai saja tentang Wujud adanya Tuhan tanpa harus perlu memaknai wujud Tuhan itu adalah dapat dilihat, didengar, dan dirasakan, sebagaimana ketika seseorang melihat wujud Manusia, wujud Hewan, wujud Tumbuhan dan wujud makhluk hidup lainnya.  Tentunya jawaban atas pertanyaan tersebut harus dicari dan ditelusuri sendiri oleh setiap orang yang hendak mencarinya walaupun menelusurinya dimulai dari Kitab Suci Agamanya sendiri.

Tentunya akan berbeda pula penelusuran pencarian Tuhan seorang Imam al-Ghazali. Imam al-Ghazali penelusuran pencarian Tuhannya secara Tasawuf dan dikenal sebagai orang yang haus akan segala ilmu. Dia mencoba yang terbaik untuk mencapai keyakinan tertentu dan mengetahui esensi dari segala sesuatu. Jadi dia kritis dan terkadang tidak percaya pada  keberadaan semua kebenaran (aksioma atau sangat mendasar). Tetapi pada akhirnya dia bahkan tidak mempercayai kedua informasi ini (skeptis). Tidak puas dengan kalam dan filsafat, ia meninggalkan kedudukannya yang tinggi di Madrasah Nizamiyah Bagdad pada tahun 1095 dan pergi ke Damaskus untuk bertapa di salah satu menara Masjid Umawi.Tasawuf-lah yang dapat menghilangkan keraguan yang telah lama menjangkitinya. Dalam sufisme,  dia menemukan keyakinan yang dia cari (JOUSIP Journal of Sufism and Psychotherapy).

B. Pentingnya Mengenal Tuhan dalam Perspektif Tasawuf

Tuhan dianggap penting oleh seseorang ketika dia menyaksikan sendiri akan Tuhan nya dengan kesadarannya sendiri. Begitupun sebaliknya suatu kewajaran seseorang tidak akan kenal dengan Tuhannya ketika seseorang tersebut tidak kenal /tidak paham apalagi tidak pernah menyaksikan sendiri Tuhannya. Terdapat beberapa keterangan yang menjelaskan tentang pentingnya mengenal Tuhan  diantaranya sebagai berikut :

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّه Artinya, “Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.” (https://nu.or.id/ilmu-hadits/tinjauan-status-hadits-man-arafa-nafsahu-arafa-rabbahu-jzNt5).

“Janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah sehingga Dia menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik “ (QS.Al-Hasyr : 19).

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasan) Kami di cakrawala dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa al-Qur’an itu adalah benar. Tidaklah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu ? “ (Q.S.Fushshilat : 53).

“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan ? “ (Q.S. Adz-Dzariyaat : 20-21).

Beberapa keterangan di atas sebagai petunjuk bagi manusia-manusia yang mau berpikir dengan kesadaran untuk menelusuri pencarian kebenaran atau Tuhan itu sendiri.  Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan dalam pencarian dan pengenalan Tuhan diantaranya pendekatan Tasawuf.

Tasawuf adalah jalan penyucian jiwa untuk mendekat diri kepada Allah. Para sufi memandang bahwa manusia tidak akan mencapai ketenangan sejati tanpa mengenal Tuhannya.

Tokoh besar sufi, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa inti tasawuf adalah hubungan manusia dengan Allah yang dibangun atas dasar keikhlasan dan moralitas.

Menurut Al-Ghazali, manusia memiliki hati (qalb) yang dapat menjadi terang apabila dipenuhi zikir dan pengenalan kepada Allah. Sebaliknya, hati akan gelap apabila dipenuhi hawa nafsu dan cinta dunia. Dalam kajian tasawuf, penyakit hati seperti sombong, iri, riya, dan tamak hanya dapat disembuhkan dengan mendekat kepada Tuhan.

Tasawuf juga mengajarkan bahwa mengenal Tuhan akan melahirkan:

  1. ketenangan batin,
  2. keikhlasan,
  3. kasih sayang,
  4. pengendalian diri,
  5. dan kebijaksanaan hidup.

Penelitian tentang konsep tasawuf Al-Ghazali menunjukkan bahwa tasawuf bukan sekadar ritual spiritual, tetapi proses pembentukan akhlak dan hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan serta sesama manusia.

Dalam konsep mahabbah (cinta kepada Allah), Al-Ghazali menyebut bahwa cinta tertinggi adalah cinta kepada Tuhan. Ketika manusia mencintai Allah, maka seluruh perilaku hidupnya akan diarahkan kepada kebaikan.

C. Mengenal Tuhan dalam Perspektif Tariqat

Tariqat adalah jalan spiritual yang ditempuh seorang murid di bawah bimbingan guru rohani (mursyid) untuk mendekat kepada Allah. Dalam tradisi tariqat, mengenal Tuhan tidak cukup hanya melalui teori, tetapi harus melalui latihan spiritual (riyadhah).

Praktik-praktik dalam tariqat antara lain:

  1. zikir,
  2. muraqabah (merasa diawasi Allah),
  3. muhasabah (introspeksi),
  4. khalwat,
  5. dan latihan pengendalian hawa nafsu.

Tujuan utama tariqat adalah mencapai ma‘rifatullah, yaitu kesadaran mendalam tentang kehadiran Allah dalam kehidupan manusia. Kehadiran Allah yang tidak saja dikenal akan Namanya saja tetapi juga mengenal sifat, perbuatan , dan wujudNya. Ketiganya tidak sesederhana yang dipahami, ketiganya dibutuhkan penelusuran dan pencarian yang lebih mendetail tentang keberadaan Allah itu sendiri.

Para ulama sufi menjelaskan bahwa manusia yang tidak mengenal Tuhan akan mudah dikuasai ego dan materialisme atau tidak mengenal dirinya sendiri. Sebaliknya, orang yang mengenal Allah akan memiliki hati yang lembut, rendah hati, dan penuh kasih atau sebutan lain orang yang telah  kenal dengan dirinya secara utuh dan menyeluruh.

Dalam tradisi sufi, zikir dianggap sebagai sarana utama mendekat diri kepada Allah. Penelitian tentang pemikiran Al-Ghazali menjelaskan bahwa zikir mampu menenangkan jiwa, membersihkan hati, dan memperkuat hubungan spiritual manusia dengan Tuhan.

Konsep ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an:

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)

Dalam perspektif tariqat, mengenal Tuhan bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi perjalanan transformasi jiwa dari sifat kebinatangan menuju sifat ketuhanan seperti kasih sayang, kejujuran, dan kebijaksanaan.

D. Perspektif Ilmiah tentang Pentingnya Mengenal Tuhan

1.Perspektif Psikologi

Ilmu psikologi modern menunjukkan bahwa manusia memiliki kebutuhan spiritual. William James merupakan salah satu tokoh penting dalam psikologi modern dan filsafat agama. Ia dikenal melalui karyanya yang terkenal, The Varieties of Religious Experience, yang membahas bagaimana pengalaman religius memengaruhi kehidupan manusia secara mendalam.

Menurut William James, agama bukan hanya kumpulan doktrin atau ritual formal, tetapi pengalaman batin yang dirasakan secara langsung oleh individu. Pengalaman tersebut mampu mengubah cara manusia memandang hidup, penderitaan, tujuan hidup, dan hubungannya dengan sesuatu yang lebih tinggi dari dirinya.

William James mendefinisikan pengalaman religius sebagai:

“Perasaan, tindakan, dan pengalaman manusia secara individual ketika mereka merasa berhubungan dengan sesuatu yang dianggap Ilahi.”

Bagi James, inti agama terletak pada pengalaman pribadi manusia terhadap Tuhan, bukan semata-mata pada lembaga agama. Oleh karena itu, seseorang bisa merasakan kedekatan dengan Tuhan melalui doa, zikir, meditasi, pertobatan, atau pengalaman spiritual yang mendalam.

James menilai bahwa pengalaman religius memiliki kekuatan besar karena menyentuh sisi terdalam jiwa manusia. Pengalaman ini sering melahirkan perubahan kepribadian, ketenangan batin, dan arah hidup baru.

Kajian yang membandingkan pemikiran William James dan Al-Ghazali menunjukkan bahwa pengalaman spiritual mampu memberikan ketenangan jiwa, arah hidup, dan stabilitas mental.

Penelitian lain menunjukkan bahwa spiritualitas membantu manusia:

  1. mengurangi stres,
  2. mengatasi kecemasan,
  3. meningkatkan optimisme,
  4. dan memperkuat ketahanan mental.

Hal ini menjelaskan mengapa manusia yang dekat dengan Tuhan umumnya lebih tenang dalam menghadapi cobaan hidup.

James menjelaskan bahwa seseorang yang mengalami hubungan spiritual dengan Tuhan akan merasa hidupnya memiliki arti. Bahkan penderitaan pun dapat dipahami sebagai bagian dari perjalanan menuju kedewasaan spiritual.

Ia melihat bahwa agama memberikan:

  1. Rasa Aman Batin. Keimanan membuat manusia merasa tidak sendirian menghadapi kehidupan. Ada kekuatan Ilahi yang menjadi tempat bersandar.
  1. Harapan dalam Penderitaan. Pengalaman religius membantu manusia bertahan menghadapi kesulitan hidup karena percaya adanya hikmah dan pertolongan Tuhan.
  1. Transformasi Moral. James menemukan bahwa banyak orang berubah menjadi lebih baik setelah mengalami pengalaman spiritual yang mendalam, seperti menjadi lebih sabar, rendah hati, dan penuh kasih.
  1. Kesadaran tentang Tujuan Hidup. Agama membantu manusia memahami bahwa hidup bukan sekadar mencari materi, tetapi juga memiliki tujuan spiritual dan moral.

Dalam bukunya, William James menjelaskan konsep The Sick Soul, yaitu keadaan jiwa manusia yang mengalami kekosongan, dosa, kecemasan, dan penderitaan batin. Menurutnya, banyak manusia modern mengalami krisis spiritual karena kehilangan hubungan dengan Tuhan. Pengalaman religius kemudian menjadi jalan penyembuhan jiwa (spiritual healing). James melihat bahwa ketika seseorang menemukan Tuhan, maka:

  1. rasa putus asa berkurang,
  2. hati menjadi lebih tenang,
  3. dan hidup terasa lebih bermakna.

Konsep ini memiliki kesamaan dengan ajaran tasawuf dalam Islam yang menyebut bahwa hati manusia akan tenteram ketika dekat dengan Allah.

2. Perspektif Neurosains dan Kesehatan Mental

Dalam kajian ilmiah modern, aktivitas spiritual seperti doa dan meditasi terbukti memengaruhi sistem saraf dan kesehatan mental. Praktik zikir dalam Islam memiliki efek serupa dengan meditasi, yaitu:

  1. menurunkan tingkat stres,
  2. menenangkan gelombang otak,
  3. dan meningkatkan fokus.

Penelitian tentang penyucian jiwa menurut Al-Ghazali menjelaskan bahwa zikir membantu manusia memperoleh jiwa yang sehat dan tenteram.

Banyak ahli kesehatan mental modern juga mengakui bahwa kehilangan makna hidup menjadi salah satu penyebab depresi dan krisis eksistensial. Dalam konteks ini, keimanan kepada Tuhan memberi manusia tujuan hidup yang lebih tinggi.

3.Perspektif Filsafat dan Sains

Dari sudut filsafat, manusia adalah makhluk yang selalu mencari sebab utama dari keberadaan alam semesta. Banyak ilmuwan dan filsof memandang bahwa keteraturan alam menunjukkan adanya sumber keteraturan yang Maha Agung.

Dalam tradisi Islam, mengenal Tuhan tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Bahkan tasawuf Al-Ghazali dipandang sebagai jembatan antara rasionalitas dan spiritualitas.

Sains menjelaskan bagaimana alam bekerja, sedangkan agama menjelaskan mengapa manusia hidup dan untuk apa kehidupan itu ada.

E. Dampak Jika Manusia Tidak Mengenal Tuhan

Ketika manusia jauh dari Tuhan, maka yang muncul adalah kekosongan spiritual, krisis moral, kecanduan duniawi, individualisme, dan hilangnya makna hidup. Banyak problem modern seperti depresi, bunuh diri, dan kerusakan moral sering dikaitkan dengan hilangnya nilai spiritual dalam kehidupan manusia. Namun muncul pertanyaan , apakah sang Iblis yang telah diciptakan oleh Tuhan itu sudah mengenalkah akan TuhanNya? padahal Iblis dalam penilaian manusia dianggap sesuatu yang negative karena cenderung berbuat menggoda semua manusia untuk jauh dari jalan kebenaran hingga menjauhkan manusia akan kesadaran mengenal dan memahami Tuhan.

Merujuk ayat kitab Alqur’an QS. Shad : 83 “(Iblis) berkata, “Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya”.

Ayat Shad:83 tersebut menggambarkan tentang Iblis diciptakan untuk bertugas menyesatkan manusia di muka bumi dari kebenaran Tuhan itu sendiri. Ayat ini nyata pengakuan dan penerimaan Iblis dalam menerima tugas yang dianugerahkan Tuhan kepadanya. Artinya ayat ini menjelaskan juga Iblis telah lebih dulu menyaksikan wujud Tuhan disaat menerima tugas untuk menyesatkan manusia.

Tasawuf memandang bahwa hati manusia sebenarnya selalu merindukan Tuhan. Oleh sebab itu, manusia tidak akan benar-benar merasa puas hanya dengan materi, jabatan, atau kesenangan dunia.

F.  Kesimpulan

Mengenal dan memahami Tuhan adalah kebutuhan mendasar manusia. Dalam perspektif tasawuf dan tariqat, pengenalan terhadap Tuhan menjadi jalan menuju ketenangan hati, penyucian jiwa, dan kemuliaan akhlak. Sementara dari sisi ilmiah, spiritualitas terbukti membantu kesehatan mental, memberi makna hidup, dan memperkuat ketahanan psikologis manusia.

Tasawuf mengajarkan bahwa manusia untuk mengenal Tuhan melalui  pengenalan dirinya sendiri. Ketika manusia mengenal dirinya sebagai hamba Allah, maka ia akan hidup dengan penuh kesadaran, kasih sayang, dan tanggung jawab moral. Sebagaimana ungkapan para sufi:

“Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”

Ketika seorang sufisme Imam al-Ghazali telah memahami Tuhan sebagaimana yang telah dicari dan ditelusurinya secara Tasawuf, maka Tuhan yang dimaksudkannya adalah Allah. Allah adalah Tuhan yang dicari dan ditelusurinya selama perjalanan hidupnya. Termasuk wujud Tuhan yang telah ditemukannya, hanya Imam al-Ghazali sendiri yang mengetahuinya dan memahami akan wujud  Allah yang telah disaksikannya,  karena ia telah menyaksikan sendiri  akan Allah Tuhannya. Dalam konteks kesadaran manusia yang tidak semua sama tingkatannya, pengalaman spiritual Imam al-Ghazali dalam pencarian Tuhannya sebagai motivasi manusia lainnya dalam mengenal Tuhannya hingga dapat  disaksikannya sendiri.

 

Rujukan

  1. Konsep Tasawuf Menurut Imam Al-Ghazali. JOUSIP Journal of Sufism and Psychotherapy.
  2. Konsep “Mahabbah” dalam Tasawuf Imam Al-Ghazali. Maliki Interdisciplinary Journal.
  3. Pengalaman Bersua Tuhan: Perspektif William James dan Al-Ghazali. Journal Walisongo.
  4. Tasawuf Sebagai Pilihan Menuju Kebenaran: Kajian Pemikiran Al-Ghazali.  Millah: Journal of Religious Studies
  5. Konsep Al-Nafs dalam Kajian Tasawuf Al-Ghazali. Journal Walisongo.
  6. The Self Purification Through Dhikr in the Perspective of Imam Al-Ghazali.  ejournal.unida.gontor.ac.id.
  7. Tasawuf sebagai Jembatan Rasionalitas dan Spiritualitas. Jurnal Al Mutsla.

 

Exit mobile version