Sholat selama ini lebih banyak dipahami oleh umat muslim sebagai sebuah ibadah ritual yang wajib dikerjakan pada waktu-waktu tertentu. Ada waktu Subuh, Zuhur, Asar, Magrib dan Isya. Ada gerakan berdiri, rukuk, sujud, duduk, bacaan dan berbagai ketentuan yang telah diajarkan dalam syariat Islam.
Namun, pernahkah kita mencoba menelusuri lebih jauh, untuk apa sebenarnya sholat itu ?
Apakah sholat hanya sebatas pada gerakan tubuh dan bacaan yang kita ucapkan, atau terdapat sesuatu yang lebih dalam dari semua itu?
Menurut penulis, ketika suatu ibadah ritual mampu kita telusuri maknanya sebagai sesuatu yang penting dalam kebersyahadatan (bersaksi) kita kepada Allah SWT, maka ibadah tersebut tidak lagi hanya dipahami sebagai sebuah ritual belaka. Melainkan mempunyai makna spiritual dalam membangun keterhubungan manusia dengan Allah SWT dan Rabbal’alamin.
Sholat tidak sekadar menjadi sesuatu yang dikerjakan, tetapi menjadi sesuatu yang telah berdiri dengan sendirinya dalam diri jasad manusia. Hanya saja manusia, menyadari atau tidak menyadari bahwa sesungguhnya Sholat itu telah berdiri di dalam dirinya atau jasadnya.
Dari Mengerjakan Sholat Menuju Dirikan Sholat
Pada tataran awal, manusia mengenal sholat sebagai sebuah kewajiban. Kita belajar bagaimana cara berdiri, membaca takbir, membaca Al-Fatihah, rukuk, sujud dan seterusnya.
Semua itu tentu penting. Tetapi perjalanan manusia dalam memahami sholat tidak harus berhenti sampai di sana. Sebab, sholat sesungguhnya membawa manusia kepada kesadaran yang lebih luas. Sholat mengajarkan manusia untuk selalu mengingat Allah, menjaga dirinya dari perbuatan keji dan mungkar, serta membentuk hubungan yang lebih baik dengan sesama manusia dan alam sekitar.
Dengan demikian, sholat tidak lagi hanya berada di dalam masjid, mushalla, rumah atau tempat tertentu saja. Akan tetapi sholat dimaknai telah meliputi dirinya dan semesta alam dalam setiap saat dengan kesadaran diri.
Menyatunya sholat dalam kehidupan
Ketika seseorang bergaul dengan manusia lain, ia bawakan sholatnya. Ketika berbicara, ia bawakan sholatnya. Ketika bekerja, ia bawakan sholatnya. Termasuk ketika memperlakukan alam semesta, ia juga membawakan sholatnya.
Maka, sholat dalam pengertian spiritual lebih luas lagi maknanya, dimana sholat telah berdiri setiap saat dan setiap nafas yang kita hembuskan dalam keadaan sadar keterhubungan dengan Allah dan Rabbal’alamin.
Bukam berarti sholat ritual menjadi hilang, karena sholat secara ritual masih diperlukan bagi seorang muslim yang baru mengenal agama Islam.
Ketika Sholat Berdiri dalam Kesadaran Ada sebuah perjalanan kesadaran yang mungkin dialami manusia. Pada awalnya seseorang hanya mengetahui bahwa dirinya sedang mengerjakan sholat.
Kemudian ia mulai merasakan sholat. Setelah itu ia mulai memahami makna dari sholat. Dan pada tingkatan tertentu, sholat mulai mempengaruhi cara dirinya melihat kehidupan. Ia menjadi lebih hati-hati dalam berbicara. Ia semakin sadar bahwa manusia tidak hidup sendirian. Ia melihat manusia lain bukan hanya sebagai orang lain, tetapi sebagai sesama makhluk yang telah dijadikan Allah.
Ia melihat alam bukan sekadar benda yang dapat dimanfaatkan sesuka hati, tetapi sebagai bagian dari yang telah dijadikan Allah dalam keteraturan dan keseimbangan. Pada keadaan seperti ini, sholat seolah-olah tidak lagi hanya berdiri ketika seseorang sedang berada di atas sajadah. Sholat berdiri di dalam setiap kesadarannya sebagai manusia khalifah fil ardh.
Setiap saat, setiap nafas, setiap detik, dan setiap masa.
Ketika kesadaran seseorang semakin meningkat dalam merasakan, melihat dan mendengar kehidupan dalam keterhubungannya dengan Allah SWT dan Rabbal’alamin, maka sholat mempunyai makna yang lebih luas. Inilah yang menurut saya menarik untuk direnungkan. Ketika Muncul Pertanyaan: Seperti Apa Wujud Allah? Ketika sebelumnya seseorang memahami sholat terutama pada tataran ritual, maka sangat wajar apabila ia mengatakan bahwa dirinya melakukan sholat untuk menyembah Allah SWT. Tetapi kemudian dalam perjalanan kesadarannya muncul sebuah pertanyaan. Kalau sholat adalah untuk menyembah Allah, lalu seperti apakah wujud Allah itu?
Bagaimanakah wujud Allah? Pertanyaan seperti ini dapat muncul secara natural ketika manusia mulai berusaha mengenal siapa yang sebenarnya ia sembah. Bukankah Allah memiliki nama Al-Wujud (Yang Ada atau nyata?. Sehingga hal ini juga yang menjadi dasar setiap orang itu memiliki kewajaran mempertanyakan wujud Allah, karena dalam kalimat Syahadat sendiri telah berbunyi “ Aku atau saya bersaksi , tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan Nabi Muhammad Rasul Allah”.
Karena itu, pertanyaan tentang “seperti apa wujud Allah” sebenarnya membawa manusia kepada sebuah wilayah perenungan yang sangat dalam. Manusia dapat mengenal Allah seutuhnya hingga adanya keterkaitan makna kata Pembuat dengan Pencipta pada kalimat Alhamdulilahirabbil’alamin (segala puji bagi allah dan rabb). Dan pengakuan sebagai manusia adalah yang dijadikan dan yang diciptakan, bahkan lebih dalam dalam pengakuan manusia itu adalah wakil dan mewakili Allah dan Rabb semesta alam (khalifah fil ardh).
Ada yang Mengenal Allah Melalui Rasa dalam Sholat
Namun demikian, tidak semua manusia harus melalui perjalanan pertanyaan yang sama.
Ada orang yang ketika sholat telah merasakan ketenangan yang sangat dalam.
Ada yang merasakan kedamaian.
Ada yang merasakan kenikmatan ketika berdiri menghadap Allah.
Ada yang merasa begitu dekat dengan Allah ketika sujud.
Bagi orang seperti ini, rasa nikmat dalam sholat mungkin telah menjadi bagian dari cara memahami keterhubungan dengan Allah dan Rabb semesta alam.
Ia tidak banyak bertanya tentang bagaimana wujud Allah. Ia cukup merasakan bahwa dirinya sedang berada dalam keterhubungan dengan Allah. Maka dapat dikatakan pengalaman manusia dalam mengenal Allah memang dapat berbeda-beda. Ada yang melalui ilmu, ada yang melalui perenungan, ada yang melalui pengalaman kehidupan. ada yang melalui ibadah, ada yang melalui kesulitan dan ujian, dan ada pula yang menemukan kesadaran melalui rasa yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Pertanyaan Manusia tentang Yang Maha Menjadikan dan Sang Pencipta
Kalau kita melihat manusia secara lebih luas, pertanyaan tentang siapa yang menjadikan kehidupan sebenarnya bukan hanya pertanyaan milik satu bangsa, satu suku, satu ras atau satu kebudayaan. Manusia dari berbagai agama, ras, suku dan budaya mempunyai potensi untuk bertanya tentang asal-usul kehidupan manusia. Siapakah yang menjadikan alam ini? Dari mana kehidupan berasal? Siapakah yang mengatur keteraturan alam semesta? Apakah kehidupan hanya berhenti pada apa yang dapat dilihat oleh mata?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu merupakan bagian dari perjalanan kesadaran manusia. Karena manusia memiliki akal. Manusia memiliki rasa. Manusia mempunyai kemampuan untuk melihat, mendengar, mengamati dan melakukan perenungan.
Maka menurut penulis, munculnya pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak selalu harus dianggap sebagai sesuatu yang harus ditakuti. Pertanyaan dapat menjadi pintu bagi pencarian. Yang terpenting adalah bagaimana manusia mencari dengan akal yang jernih, hati yang rendah dan tidak menjadikan kesombongan sebagai dasar pencariannya. Walaupun untuk seterusnya manusia akan tetap terus mencari dan mencari kebermaknaan Yang Maha Menjadikan dan Sang Pencipta.
Empat Mazhab dan Perjalanan Memahami Sholat
Menariknya lagi, pertanyaan tentang sholat juga berkembang dalam perjalanan sejarah umat Islam.
Para ulama besar seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal mempunyai metode dan hasil ijtihad yang berbeda dalam berbagai persoalan fikih. Dari perjalanan keilmuan tersebut lahirlah empat mazhab fikih yang dikenal luas oleh umat Islam, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali.
Perbedaan dalam masalah cabang fikih sebenarnya merupakan bagian dari dinamika keilmuan Islam.
Yang menjadi persoalan adalah ketika mazhab tidak lagi dipahami sebagai jalan keilmuan, tetapi berubah menjadi ego kelompok. Ketika seseorang merasa hanya kelompoknya yang mempunyai kebenaran, sementara yang berbeda dianggap salah secara mutlak, maka perbedaan yang seharusnya menjadi kekayaan ilmu justru dapat berubah menjadi perselisihan.
Menurut penulis, di sinilah manusia perlu kembali kepada tujuan utama dari sholat.
Apakah sholat membuat kita semakin dekat kepada Allah?
Apakah sholat membuat kita semakin rendah hati?
Apakah sholat membuat kita semakin baik kepada manusia?
Apakah sholat membuat kita semakin bertanggung jawab terhadap alam?
Atau justru sholat membuat ego kita semakin besar karena merasa paling benar dibandingkan orang lain?
Pertanyaan seperti ini justru penting untuk direnungkan. Mencari Bagaimana Nabi Muhammad SAW Mengerjakan Sholat Kemudian muncul pula pertanyaan lain. Bagaimanakah sebenarnya Nabi Muhammad SAW memahami dan mengerjakan sholat? Pertanyaan seperti ini menurut saya merupakan sesuatu yang wajar bagi manusia yang sedang melakukan pencarian.
Ketika seseorang ingin mengetahui bagaimana Rasulullah SAW menjalankan sholat, bukan berarti ia tidak percaya kepada hadis. Bukan pula berarti ia menganggap hadis yang ada sekarang tidak lengkap.
Ia bisa saja sedang berusaha memahami kembali bagaimana ajaran itu dijalankan oleh manusia yang menjadi teladan utama umat Islam. Dalam hadis yang diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari, Nabi Muhammad SAW memerintahkan umatnya untuk mengerjakan sholat sebagaimana beliau mengerjakan sholat. Maka pencarian terhadap pemahaman sholat Nabi merupakan bagian dari usaha manusia untuk memahami sunnah secara lebih mendalam.
Tetapi pencarian tersebut juga membutuhkan ilmu, kehati-hatian dan kerendahan hati. Sebab pencarian spiritual tanpa ilmu dapat membuat manusia tersesat dalam penafsiran dirinya sendiri. Sebaliknya, ilmu tanpa kesadaran batin juga dapat membuat manusia hanya mengetahui bentuk tanpa mengalami makna.
Jasad sebagai Saksi
Di sinilah saya melihat sholat mempunyai hubungan yang sangat menarik dengan jasad manusia. Manusia tidak hanya memiliki pikiran. Manusia juga memiliki tubuh. Tubuh berdiri. Tubuh rukuk. Tubuh sujud. Lidah membaca. Telinga mendengar. Mata melihat. Hati merasakan. Pikiran memahami. Seluruh bagian manusia sesungguhnya dilibatkan dalam perjalanan sholat.
Karena itu, sholat dapat dilihat sebagai sebuah proses pendidikan terhadap jasad agar tubuh manusia tidak hanya menjadi alat untuk menjalani kehidupan dunia, tetapi juga menjadi bagian dari kebersyahadatan kepada Allah SWT.
Tubuh yang semula mudah marah mulai belajar untuk mengendalikan diri. Lidah yang semula menyampaikan kata-kata yang menyakiti perasaan orang lain, mulai berubah untuk belajar berkata-kata dengan baik. Tangan yang semula mudah mengambil hak orang lain mulai belajar menjaga amanah. Kaki yang semula mudah membawa manusia kepada keburukan mulai diarahkan menuju jalan kebaikan. Dan mata yang semula bebas melihat keburukan orang lain, mulai belajar menjaga dan mengendalikan pandangan. Hingga akhirnya jasad memiliki kemampuan untuk menyaksikan dan memandang Allah sebagaimana Nabi Muhammad SAW disaat Isra Mi’rajnya sampai pada bertemu dengan Allah SWT Yang Maha Menjadikan.
Sebagai perbandingan pendapat versi yang lain menyebutkan bahwa pengertian Bersaksi dalam kalimat syahadat adalah bersaksi bukan dalam pengertian tubuh dapat melihat Allah sebagaimana melihat benda, tetapi bersaksi melalui kesadaran bahwa seluruh kehidupan bergantung kepada Allah SWT.
Sholat yang Menyatu dalam Kehidupan
Pada akhirnya, perjalanan mendirikan sholat bukan hanya dari berdiri menuju rukuk, dari rukuk menuju sujud dan kemudian kembali berdiri. Melainkan perjalanan sholat yang juga dipahami sebagai perjalanan manusia dari ketidaksadaran menuju kesadaran. Dari sekadar melakukan menuju memahami. Dari memahami menuju merasakan. Dari merasakan menuju pada menyatunya (kemanunggalan) sholat dalam kehidupan keseharian.
Pada tingkat kesadaran tertentu, seseorang dapat merasakan bahwa sholat telah menyatu dengan seluruh kehidupannya. Dalam bahasa spiritual, mungkin dapat digambarkan sebagai sholat yang telah menyatu dalam “vibrasi, frekuensi dan energi” di dalam jasadnya. Istilah tersebut menurut penulis lebih tepat dipahami sebagai suatu bahasa pengalaman spiritual. Maksudnya adalah bahwa kesadaran sholat begitu kuat sehingga ia mempengaruhi cara seseorang berpikir, berbicara, melihat, mendengar, bekerja, bergaul dengan sesama manusia dan memperlakukan alam semesta. Ia tidak hanya mengingat Allah ketika berada di atas sajadah. Ia membawa kesadaran kepada Allah dalam kehidupannya. Ketika ia sholat seolah-olah sholat itu berdiri dengan sendirinya. Dalam keadaan seperti itu, sholat seolah-olah telah “berdiri” dengan sendirinya di dalam jasad manusia.
Bukan karena ritual sholat telah gugur. Bukan pula karena manusia tidak lagi membutuhkan syariat. Tetapi karena prinsip – prinsip yang terkandung dalam sholat telah menjadi bagian dari kesadarannya. Ia menjaga dirinya bukan hanya karena takut dilihat manusia. Ia berbuat baik bukan hanya karena ingin dipuji. Ia menjaga alam bukan hanya karena aturan manusia. Ia menjaga amanah karena merasa selalu berada dalam keterhubungan dengan Allah SWT. Ia memperlakukan manusia dengan baik karena menyadari bahwa manusia adalah sesama makhluk yang dijadikan Allah SWT.
Inilah yang menurut penulis dapat dimaknai sebagai sholat yang mulai berdiri dalam kehidupan.
Dengan demikian ketika makna sholat telah benar-benar meresap dalam kehidupan, manusia tidak hanya sedang melakukan sebuah ritual belaka, tetapi sedang berusaha menjadikan seluruh kehidupannya sebagai bentuk kebersaksianmnya kepada Allah dan Rabb semesta alam.
