Oleh : Sidi Novi Zulfikar
Manusia diciptakan bukan hanya untuk menjalani kehidupan, tetapi juga untuk memahami kehidupan. Karena itu, manusia perlu terus meningkatkan kecerdasannya. Kecerdasan bukan semata-mata tentang kemampuan menghafal, menghitung, membaca atau menguasai berbagai pengetahuan, tetapi lebih jauh dari itu adalah kemampuan manusia dalam memahami dirinya, memahami lingkungan kehidupannya, memahami persoalan yang dihadapinya dan mampu menentukan sikap yang tepat dalam menjalankan kehidupannya.
Semakin bertambah kecerdasan seseorang, seharusnya semakin bertambah pula kesadarannya sebagai manusia. Sebab kecerdasan tanpa kesadaran dapat melahirkan kemampuan yang justru digunakan untuk kepentingan diri sendiri, sementara kecerdasan yang disertai kesadaran akan melahirkan kebijaksanaan dalam menggunakan kemampuan tersebut.
Dalam perspektif Islam, manusia memiliki kedudukan yang sangat penting di muka bumi, yaitu sebagai khalifah fil ardh, manusia yang diberikan amanah untuk mengelola, menjaga dan memakmurkan kehidupan di muka bumi. Kekhalifahan tersebut bukan hanya berbicara tentang kedudukan, tetapi juga tentang tanggung jawab.
Menjadi khalifah fil ardh berarti manusia harus memiliki kemampuan untuk memahami apa yang menjadi tugas hidupnya. Bagaimana menjaga keseimbangan kehidupan, bagaimana memperlakukan sesama manusia, bagaimana mengelola alam, bagaimana menggunakan ilmu pengetahuan dan bagaimana menciptakan kehidupan yang memberikan kemanfaatan bagi kehidupan lainnya.
Di sinilah kecerdasan menjadi penting.
Manusia yang terus meningkatkan kecerdasannya akan semakin mampu melihat kehidupan secara lebih luas. Ia tidak lagi hanya melihat sesuatu dari kepentingan dirinya sendiri, tetapi mulai mampu melihat hubungan antara dirinya dengan manusia lainnya, hubungan manusia dengan alam dan hubungan manusia dengan kehidupan secara keseluruhan.
Kesadaran seperti inilah yang kemudian dapat mengubah perilaku manusia.
Ketika kecerdasan meningkat, cara berpikir dapat berubah. Ketika cara berpikir berubah, cara memandang kehidupan juga berubah. Dan ketika cara memandang kehidupan berubah, maka perilaku manusia pun dapat berubah.
Dari sinilah sesungguhnya pembangunan manusia harus dimulai.
KECERDASAN BUKAN SEKADAR PENGETAHUAN
Sering kali manusia mengukur kecerdasan hanya dari seberapa banyak pengetahuan yang dimilikinya. Padahal, pengetahuan hanyalah salah satu bagian dari kecerdasan.
Manusia bisa saja memiliki ilmu yang tinggi, pendidikan yang tinggi dan kemampuan intelektual yang luar biasa, tetapi belum tentu memiliki kesadaran yang tinggi.
Kecerdasan yang sesungguhnya adalah ketika pengetahuan yang dimiliki mampu melahirkan kesadaran dan kesadaran tersebut mampu melahirkan tindakan yang benar dan bermanfaat.
Karena itu, peningkatan kecerdasan seharusnya berjalan bersama dengan peningkatan kesadaran.
Manusia perlu cerdas untuk mengetahui apa yang harus dilakukan, tetapi manusia juga membutuhkan kesadaran untuk mengetahui mengapa sesuatu itu harus dilakukan.
Di antara keduanya terdapat tanggung jawab.
Seseorang yang memiliki kecerdasan tetapi tidak memiliki kesadaran dapat menggunakan kecerdasannya untuk menguasai orang lain. Sebaliknya, seseorang yang memiliki kecerdasan dan kesadaran akan menggunakan kemampuannya untuk memberikan manfaat bagi kehidupan.
Maka, semakin tinggi kecerdasan manusia seharusnya semakin tinggi pula rasa tanggung jawabnya.
DARI KESADARAN INDIVIDU MENUJU KESADARAN BANGSA
Persoalannya kemudian bukan hanya bagaimana meningkatkan kecerdasan seorang manusia, tetapi bagaimana meningkatkan kecerdasan dan kesadaran sebuah bangsa.
Sebab bangsa pada dasarnya merupakan kumpulan manusia yang hidup dalam sebuah ruang kehidupan bersama, memiliki sejarah, cita-cita dan tujuan yang ingin diwujudkan bersama.
Dapat dibayangkan apabila dalam sebuah negara masyarakatnya semakin meningkat tingkat kecerdasannya dan semakin tinggi pula kesadarannya.
Mereka akan semakin mampu memahami persoalan bangsanya.
Mereka tidak mudah dipengaruhi oleh informasi yang belum tentu benar. Tidak mudah diadu domba. Tidak mudah dikendalikan oleh kepentingan tertentu. Tidak mudah pula menyerahkan masa depan bangsanya kepada pihak lain.
Masyarakat yang cerdas dan sadar akan mulai memahami bahwa kemajuan bangsa bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga merupakan tanggung jawab seluruh rakyat.
Di sinilah kecerdasan masyarakat dapat menjadi kekuatan peradaban.
Bangsa yang cerdas akan mampu menghasilkan manusia-manusia yang mampu menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, kebudayaan dan berbagai inovasi yang dibutuhkan oleh kehidupan bangsanya.
Sedangkan bangsa yang sadar akan mampu menggunakan semua kemajuan tersebut untuk kepentingan bersama.
Maka, kecerdasan dan kesadaran bukan hanya persoalan individu, tetapi dapat menjadi modal utama sebuah bangsa untuk membangun kemandirian.
KEMANDIRIAN BANGSA LAHIR DARI KESADARAN
Kemandirian sebuah bangsa tidak berarti bangsa tersebut harus menutup diri dari bangsa lain.
Kemandirian bukan berarti tidak membutuhkan kerja sama dengan negara lain.
Kemandirian justru berarti sebuah bangsa mampu berdiri dengan kemampuan yang dimilikinya sendiri, mampu menentukan arah pembangunan berdasarkan kepentingan bangsanya dan mampu bekerja sama dengan bangsa lain tanpa kehilangan jati dirinya.
Bangsa yang tingkat kesadarannya tinggi akan memahami bahwa kerja sama dengan bangsa lain merupakan kebutuhan, tetapi ketergantungan yang berlebihan dapat melemahkan kedaulatan.
Karena itu, kecerdasan manusia harus diarahkan untuk membangun kemampuan bangsa.
Pendidikan harus melahirkan manusia yang mampu berpikir. Ilmu pengetahuan harus melahirkan inovasi. Teknologi harus melahirkan kemandirian. Ekonomi harus menciptakan kesejahteraan. Politik harus menciptakan keteraturan dan keadilan. Sedangkan kebudayaan harus menjaga jati diri bangsa.
Semua itu akan berjalan apabila manusia yang menjalankannya memiliki kecerdasan sekaligus kesadaran.
INDONESIA DAN CITA-CITA KEMERDEKAAN
Indonesia sebagai sebuah bangsa sebenarnya telah memiliki arah dan tujuan yang sangat jelas. Tujuan tersebut telah dirumuskan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Kalimat tersebut sesungguhnya bukan hanya sebuah rumusan konstitusional, tetapi juga merupakan arah perjalanan bangsa.
Di dalamnya terdapat sebuah pesan yang sangat penting, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.
Artinya, kecerdasan memang ditempatkan sebagai salah satu bagian penting dari tujuan kehidupan bernegara.
Mencerdaskan kehidupan bangsa bukan hanya berarti membuat manusia menjadi pintar secara akademik. Lebih jauh dari itu adalah membangun manusia Indonesia agar mampu berpikir, mampu memahami kehidupan, mampu menggunakan ilmu pengetahuan, memiliki kesadaran kebangsaan dan memiliki tanggung jawab dalam membangun kehidupan bersama.
Karena bangsa yang cerdas akan lebih mudah membangun kedaulatannya.
Bangsa yang sadar akan lebih mudah menjaga kemerdekaannya.
Bangsa yang memiliki kecerdasan dan kesadaran akan lebih mampu menentukan sendiri arah masa depannya.
ITIKAD BAIK UNTUK INDONESIA
Pada akhirnya, pembangunan sebuah bangsa tidak hanya membutuhkan kecerdasan, tetapi juga membutuhkan itikad baik.
Sebab kecerdasan dapat digunakan untuk berbagai kepentingan. Ia dapat digunakan untuk membangun, tetapi juga dapat digunakan untuk merusak. Ia dapat digunakan untuk menciptakan kesejahteraan, tetapi juga dapat digunakan untuk mengeksploitasi.
Maka kecerdasan membutuhkan kesadaran.
Kesadaran membutuhkan tanggung jawab.
Dan tanggung jawab membutuhkan itikad baik.
Jika manusia Indonesia memiliki kecerdasan yang terus berkembang, kesadaran yang semakin tinggi dan itikad baik untuk membangun kehidupan bersama, maka cita-cita Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat, maju, adil dan makmur bukanlah sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan.
Sebab perubahan besar sebuah bangsa selalu berawal dari perubahan manusia yang ada di dalamnya.
Ketika manusia mulai sadar terhadap tugas hidupnya, maka ia tidak lagi hanya bertanya, “Apa yang bisa saya dapatkan dari kehidupan?”
Tetapi mulai bertanya, “Apa yang bisa saya berikan kepada kehidupan?”
Di situlah sebenarnya kesadaran sebagai khalifah fil ardh mulai tumbuh.
Manusia tidak lagi melihat dirinya sebagai pusat dari segala sesuatu, tetapi sebagai bagian dari keseimbangan kehidupan.
Dan apabila kesadaran tersebut tumbuh dari satu manusia, kemudian tumbuh dalam keluarga, berkembang dalam masyarakat dan akhirnya menjadi kesadaran sebuah bangsa, maka yang sedang dibangun bukan sekadar sebuah negara.
Yang sedang dibangun adalah sebuah peradaban.
Peradaban yang lahir dari manusia-manusia yang cerdas, sadar, bertanggung jawab dan memiliki itikad baik untuk menjaga kehidupan.
Mungkin inilah salah satu jalan menuju Indonesia yang benar-benar berdaulat, maju, adil dan makmur.
Bukan hanya karena bangsa Indonesia memiliki sumber daya alam yang besar.
Bukan hanya karena memiliki jumlah penduduk yang besar.
Tetapi karena bangsa Indonesia memiliki manusia-manusia yang semakin cerdas, semakin sadar dan semakin memahami tugas hidupnya sebagai bagian dari khalifah fil ardh—memimpin, menjaga dan memakmurkan bumi dengan penuh tanggung jawab.
