Penulis : Sidi Novi Zulfikar
Tubuh manusia yang sehat dan tubuh manusia yang melemah kesehatannya akan berpengaruh pada daya hidup di dalam tubuh manusia. Dimana daya hidup yang bersemayam di dalam tubuh manusia terus bertugas menghidupkan jiwa beserta tubuh manusia. Jika Ruh itu diistilahkan daya hidup atau energi yang menghidupkan , sedangkan jiwa dapat diistilahkan program/aplikasi yang menggerakkan semua sistem di dalam tubuh. Tubuh diibaratkan cassing atau cangkang yang memiliki semua organ di dalamnya. Maka dapat disebutlah Tubuh itu juga Jasad sebagaimana yang dibahas dalam dunia spiritual tasawuf, tariqat, dan filosofi kehidupan manusia. Bila jasad pada manusia itu diibaratkan cassing pada handphone, Jiwa dapat diibaratkan aplikasi pada handphone, maka Ruh dapat diibaratkan energi batterai/ Listrik yang menghidupkan aplikasi pada handphone. Ruh , Jiwa, Jasad adalah tritunggal yang menyatu untuk disebut semua makhluk yang telah dijadikan dan diciptakan oleh Yang Maha Menjadikan dan Sang Pencipta Allah warabbal’alamin.
Allah warabbal’alamin dalam menjadikan Manusia sesuai ketetapan fitrahnya sebagai khalifah fil ardh (pemimpin di muka bumi) adalah makhluk sempurna yang diberikan Amanah untuk sebagai pemimpin di muka bumi dalam membangun kehidupan peradaban dunia di muka bumi.
Bila manusia dikatakan sempurna, berarti manusia memiliki kelebihan dibandingkan dengan makhluk lainnya seperti tumbuhan dan Binatang serta makhluk selain manusia lainnya. Artinya manusia memiliki kecerdasan tak terbatas dalam menjalankan kehidupannya dimuka bumi. Hal ini lah yang disebut dengan Tugas Hidup manusia sebagai khalifah fil ardh. Sehingga sebagai khalifiah fil ardh, manusia secara mandiri , saling koordinasi dan saling kolaborasi mencapai saling memakmurkan dalam membangun kehidupan peradaban di muka bumi.
Dapat dikatakan kecerdasan yang bersemayam dalam Energi manusia (Ruh) menjadi modal manusia dalam menjalani tugas-tugas hidupnya di muka bumi. Idealnya manusia ketika menghadapi masalah dalam hidupnya, maka manusia itu sudah dapat mempergunakan energinya untuk menyelesaikan setiap permasalahan hidupnya. Termasuk masalah Kesehatan dapat diselesaikan oleh energi di dalam tubuh manusia itu sendiri. Ketika manusia mengalami gangguan Kesehatan atau sakit maka tubuhnya manusia tersebut memiliki program untuk memperbaiki jaringan rusak pada tubuh manusia tersebut. Tubuh yang sakit menandakan adanya jaringan sel yang sudah mulai melemah dan rusak, maka di tubuh manusia memiliki sel-sel lainnya yang bertugas memperbaiki sel-sel tubuh yang mengalami kerusakan. Hal inilah yang disebut dengan sel daya imun atau ketahanan kekebalan tubuh manusia. Setiap tubuh manusia yang telah dijadikanNya memiliki sistem daya imun tubuh. Sehingga terjawab jika manusia mengalami sakit hingga tidak dapat lagi memfungsikan sel daya imun tubuhnya maka tubuhnya akan sakit dan semakin melemah hingga Ruh akan lepas dari tubuh. Ruh yang terlepas dari tubuh disebut dengan kematian.
Bila daya imun tubuh semakin kuat berfungsi maka semakin sehat tubuh manusia serta semakin kuat tubuh menopang Ruh atau energi atau daya hidup yang bersemayam dalam tubuh manusia. Begitu pun sebalik. Semakin melemah daya imun tubuh manusia maka Kesehatan tubuh semakin menurun dan semakin melemah pula tubuh menopang Ruh hingga akhirnya Ruh terlepas dari tubuh.
Coba lihat ayat-ayat Alqur’an yang terkait dengan pembahasan “ Tubuh Yang Sehat Menentukan Usia Hidup Yang Panjang”. Beberapa ayat Alqur’an menjelaskan tentang usia hidup manusia itu sendiri seperti pada ayat :
- Yassin : 68 “ Dan barang siapa yang kami panjangkan umurnya niscaya kami kembalikan dia pada kejadiannya, Maka apakah mereka tidak memikirkannya”.
- Al-Hajj : 5 “Dan (ada pula) di antara kamu yang dikembalikan sampai usia sangat tua (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya.”
- Ar-Rum : 54 “Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa.”
Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita mendengar atau kita amati bersama bahwa orang-orang yang sudah lanjut usia akan kembali kepada sifat kekanak-kanakannya. Mereka akan menjadi pelupa bahkan pikun dan mau dituruti segala kemauannya layaknya anak kecil. Hal ini telah dijelaskan pada ketiga ayat di atas.
Ketiga ayat di atas adalah bukti nyata tentang manusia yang tidak mampu menjaga kondisi tubuh nya untuk sehat. Artinya disini kita melihat bahwa kemampuan manusia dalam menjaga tubuhnya atau jasadnya untuk selalu berfungsi sebagaimana mestinya mengalami ketidakberdayaan manusia dalam mempertahankan daya imun tubunya. Disinilah pentingnya KESADARAN manusia yang mesti dijaga selalu walaupun hingga terlepasnya Ruh dari Tubuh atau jasadnya. Kesadaran yang terletak dalam Jiwa manusia yakni pada otak manusia, jika Kesehatan pada otak semakin baik maka kecerdasannya semakin dapat dipertahankan dan ditingkatkan. Karena kecerdasan ini berpengaruh pada kesadaran manusia itu sendiri. Dapat dibayangkan jika kemampuan energi pada tubuh semakin meningkat maka otomatis kecerdasan manusia pun semakin meningkat, seiring itu juga meningkatnya kesadaran manusia.
Kesadaran manusia semakin meningkat maka manusia tersebut akan mampu menjaga Kesehatan pada tubuhnya melalui peningkatan kapasitas energinya sendiri. Energi yang menggerakkan sel-sel untuk melakukan Regenerasi Sel (peremajaan sel-sel) di dalam tubuh manusia tersebut. Hal yang wajar pun dapat saja terjadi manusia yang demikian dapat memliki usia hidup yang Panjang.
Takdir manusia merupakan kata terakhir setelah manusia melakukan upaya/usaha /ikhtiar yang maksimal dalam menjalani hidupnya atau tugas hidupnya. Berangkat dari kesadaran manusia yang mampu dijaganya sebagaimana seharusnya, maka aktifitas olahraga, menjaga pola makan yang sehat, pola hidup yang sehat merupakan ikhtiar manusia dalam menjalani tugas hidup sesuai usia hidup yang diharapkannya.
Usia hidup yang diharapkan oleh setiap manusia pastilah keinginan menjalani kenikmatan hidup yang benar dan bahagia, bahkan bila diikuti nafsu manusia tersebut pastilah menginginkan menikmati hidup selamanya. Bisa saja ini terwujud jika manusia menyelaraskan dengan ikhtiarnya dalam menjani hidup.
Melatih peningkatan kemampuan tubuh dengan cara keteraturan berolahraga seperti berlari, berenang, bersepeda, bermain bola, latihan beladiri, latihan pernafasan dan sebagainya merupakan bagian dari ikhtiar. Ditambah lagi dengan aktifitas ibadah spiritual seperti Berdzikir , sholat, berpuasa, pengajian adalah ikhtiar menjaga kesadaran untuk berVibrasi yang positif.
Mari kita renungkan bersama-sama sebagai manusia tentang hidup yang kita jalani, apakah kita selama ini telah memiliki atau mencapai kesadaran sebagaimana uraian di atas? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Jangan sampai kita menjadi manusia yang tidak maksimal mempergunakan modal hidup kita (Ruh atau energi atau daya hidup) hingga mengikuti rasa malas keputus asaan dalam hidup dan akhirnya menyerah dan menyuruh-nyuruh Tuhan untuk melakukan seperti yang kita inginkan.
(EditorWartaBaru/BiroSumatera/169)








