
Oleh:Zuyyinah Salim (Mahasiswi Doktoral UIN Madura)
Setiap tanggal 2 Mei, kita kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional. Upacara digelar, pidato dibacakan, dan harapan tentang masa depan pendidikan kembali diulang. Namun, di balik itu semua, ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan dengan sungguh-sungguh: apakah ruang-ruang kelas kita masih menjadi tempat yang hangat bagi tumbuhnya manusia?
Di banyak sekolah, pendidikan berjalan dalam ritme yang nyaris seragam. Siswa duduk rapi, mencatat, mengerjakan tugas, lalu diuji. Nilai menjadi tujuan, bukan lagi sekadar alat. Guru dikejar target, siswa dikejar capaian. Semua tampak berjalan baik, tetapi sering kali terasa kering. Ada proses belajar, tetapi belum tentu ada perjumpaan.
Padahal, pendidikan sejatinya lahir dari perjumpaan. Ia hidup dalam relasi antara guru dan murid, antara pengalaman dan pemahaman, antara pengetahuan dan makna. Ketika relasi ini menghilang, pendidikan mudah berubah menjadi mekanisme efisien, tetapi tidak selalu memanusiakan.
Di sinilah gagasan “kurikulum cinta” menjadi penting untuk dihadirkan kembali. Cinta, dalam konteks pendidikan, bukan sesuatu yang sentimental atau abstrak. Ia hadir dalam sikap: cara guru menyapa, kesediaan mendengar, kesabaran menjelaskan, dan kepekaan terhadap kebutuhan siswa. Cinta adalah dasar etis yang membuat proses belajar menjadi ruang yang aman dan bermakna.
Paulo Freire menyebut pendidikan yang membebaskan sebagai pendidikan yang dibangun di atas dialog. Dalam dialog, murid tidak diposisikan sebagai penerima pasif, tetapi sebagai subjek yang memiliki pengalaman dan suara. Tanpa dialog, pendidikan berisiko menjadi satu arah penuh instruksi, tetapi miskin pemahaman.
Gagasan ini sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara yang menekankan bahwa pendidikan adalah proses “menuntun”, bukan “memaksa”. Menuntun berarti berjalan bersama, memberi arah tanpa menekan, dan membuka ruang bagi tumbuhnya potensi individu. Dalam kerangka ini, pendidikan selalu berpihak pada kemerdekaan belajar.
Namun, realitas pendidikan hari ini menunjukkan ketegangan yang nyata. Tuntutan kurikulum, beban administratif, dan tekanan capaian sering membuat relasi di ruang kelas menjadi terburu-buru. Guru tidak selalu memiliki waktu untuk benar-benar mengenal muridnya, sementara siswa belajar dalam bayang-bayang penilaian yang terus-menerus. Dalam situasi seperti ini, pendidikan berisiko kehilangan sentuhan paling mendasarnya: kemanusiaan.
Lebih jauh, ketika pendidikan tidak dibangun di atas empati, ia dapat secara tidak sadar melanggengkan ketidakadilan. Dalam banyak ruang kelas, masih terdapat bias yang halus tentang siapa yang dianggap lebih mampu, siapa yang lebih layak didengar, atau peran apa yang dianggap “sesuai” bagi laki-laki dan perempuan. Tanpa kesadaran kritis, pendidikan justru dapat mereproduksi stereotip yang membatasi.
Kurikulum cinta, dalam hal ini, berarti juga kurikulum yang adil. Ia membuka ruang bagi setiap individu untuk berkembang tanpa dibatasi oleh konstruksi sosial yang sempit. Ia mengajarkan empati lintas perbedaan dan mendorong keberanian untuk melihat dunia secara lebih kritis sekaligus manusiawi.
Nilai-nilai ini sesungguhnya tidak asing. Dalam tradisi kita, keadilan dan kebaikan selalu menjadi dasar kehidupan bersama. Al-Qur’an mengingatkan, “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan…” (QS An-Nahl: 90). Dalam konteks pendidikan, pesan ini menegaskan bahwa mencerdaskan tidak cukup jika tidak disertai dengan memanusiakan.
Lalu, bagaimana menghadirkan kurikulum cinta dalam praktik? Barangkali, kita tidak selalu perlu memulainya dari kebijakan besar. Ia bisa dimulai dari hal-hal sederhana: cara kita memandang siswa sebagai manusia yang utuh, kesediaan guru untuk mendengar, dan keberanian sekolah untuk memberi ruang bagi keberagaman pengalaman belajar.
Pendidikan memang membutuhkan sistem, tetapi ia tidak boleh kehilangan jiwa. Tanpa jiwa, pendidikan hanya akan melahirkan individu yang cerdas secara kognitif, tetapi rapuh dalam empati. Sebaliknya, pendidikan yang berakar pada cinta akan melahirkan manusia yang tidak hanya mampu berpikir, tetapi juga mampu merasakan dan peduli.
Pada akhirnya, Hardiknas bukan hanya tentang mengenang tokoh atau merayakan capaian. Ia adalah momen untuk mengingat kembali tujuan paling dasar dari pendidikan: membentuk manusia. Bukan sekadar manusia yang tahu banyak hal, tetapi manusia yang mampu memperlakukan sesamanya dengan adil dan penuh kepedulian.
Mungkin, di tengah berbagai perubahan kurikulum dan kebijakan, yang paling kita butuhkan hari ini bukanlah sesuatu yang sepenuhnya baru. Kita hanya perlu kembali pada hal yang sederhana, tetapi mendasar—bahwa pendidikan, pada akhirnya, adalah tentang manusia, dan karena itu, ia harus selalu dimulai dari cinta.
Editor : Shafa




