Oleh : Sidi Novi Zulfikar
Dalam perspektif filosofi “Kenetralan”, kemiskinan dan kekayaan sesungguhnya bukanlah sesuatu yang harus selalu ditempatkan sebagai ukuran baik dan buruk, untung dan rugi, berhasil dan gagal dalam kehidupan. Kemiskinan dan kekayaan dapat dipandang sebagai bagian dari pilihan tugas hidup seseorang atau setiap manusia yang sedang menjalani kehidupannya masing-masing.
Namun, ada satu hal penting yang perlu dipahami dari kenetralan, yaitu fungsi keseimbangan.
Kenetralan pada hakikatnya tidak hanya mengajarkan manusia untuk tidak memberikan penilaian terhadap sesuatu, tetapi juga mengajarkan bagaimana manusia menempatkan dirinya secara seimbang di tengah berbagai keadaan kehidupan.
Sebab kehidupan itu sendiri selalu bergerak dalam keseimbangan.
Ada kaya dan miskin.
Ada senang dan susah.
Ada berhasil dan gagal.
Ada datang dan pergi.
Ada kelahiran dan kematian.
Ada kemudahan dan kesulitan.
Ada kelebihan dan kekurangan.
Berbagai keadaan yang berlawanan tersebut bukan berarti harus selalu dipertentangkan. Justru keberadaan sesuatu yang berbeda itulah yang membuat kehidupan mempunyai keseimbangan.
Kalau semua manusia kaya, maka kita tidak lagi mengenal makna kekayaan sebagaimana yang kita pahami sekarang. Kalau semua manusia selalu berhasil, maka kita tidak akan memahami arti perjuangan. Kalau tidak pernah ada kesulitan, manusia mungkin tidak akan mengenal ketabahan. Dan kalau tidak pernah mengalami kehilangan, mungkin manusia tidak akan memahami arti memiliki.
Karena itu, kenetralan berfungsi sebagai titik keseimbangan dalam cara manusia memandang kehidupan.
Ketika seseorang terlalu larut dalam kekayaan, ia dapat kehilangan keseimbangan dirinya. Kekayaan yang seharusnya menjadi bagian dari tugas hidup dapat berubah menjadi ukuran harga dirinya. Demikian pula ketika seseorang terlalu larut dalam kemiskinan, ia dapat melihat dirinya sebagai manusia yang selalu berada dalam kekurangan dan akhirnya kehilangan keyakinan terhadap kemampuan dirinya sendiri.
Kenetralan mengajarkan bahwa kekayaan bukan alasan untuk merasa lebih tinggi dan kemiskinan bukan alasan untuk merasa lebih rendah.
Keduanya hanyalah keadaan.
Yang jauh lebih penting adalah bagaimana seseorang bersikap terhadap keadaan tersebut.
Di sinilah fungsi keseimbangan bekerja.
Manusia yang memiliki kekayaan membutuhkan keseimbangan agar kekayaan tidak menguasai dirinya. Sementara manusia yang berada dalam keterbatasan membutuhkan keseimbangan agar keterbatasan tidak menghancurkan dirinya.
Dengan demikian, kenetralan bukan berarti manusia tidak boleh mempunyai keinginan untuk menjadi kaya, tidak boleh berusaha keluar dari kemiskinan, tidak boleh mengejar keberhasilan atau tidak boleh memperjuangkan sesuatu yang dianggap baik.
Justru sebaliknya.
Manusia tetap boleh memilih, berusaha dan menentukan arah kehidupannya. Tetapi setelah menentukan pilihan tersebut, ia tetap membutuhkan kesadaran untuk menjaga keseimbangan dirinya.
Berusaha tanpa kehilangan keikhlasan.
Berhasil tanpa kehilangan kerendahan hati.
Gagal tanpa kehilangan harapan.
Kaya tanpa kehilangan kemanusiaan.
Miskin tanpa kehilangan kehormatan diri.
Inilah salah satu bentuk keseimbangan yang lahir dari kenetralan.
Sebab ketika manusia mampu berada di tengah-tengah berbagai keadaan, ia tidak mudah terombang-ambing oleh keadaan itu sendiri.
Ketika dipuji, ia tidak terbang terlalu tinggi.
Ketika dicela, ia tidak jatuh terlalu dalam.
Ketika mendapatkan keuntungan, ia tidak lupa diri.
Ketika mengalami kerugian, ia tidak kehilangan arah.
Ketika mendapatkan kekuasaan, ia tetap memahami batas.
Ketika kehilangan kekuasaan, ia tetap memahami bahwa kehidupan harus terus berjalan.
Dengan demikian, kenetralan merupakan kemampuan menjaga posisi batin agar tidak dikendalikan oleh keadaan luar.
Inilah yang kemudian membuat kenetralan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan keseimbangan.
Keseimbangan bukan berarti semua harus sama.
Keseimbangan juga bukan berarti semua harus berada pada posisi yang identik.
Keseimbangan adalah kemampuan menempatkan sesuatu sesuai dengan porsinya.
Kekayaan ditempatkan sebagai amanah.
Kemiskinan ditempatkan sebagai keadaan yang harus dihadapi dengan ketabahan.
Kekuasaan ditempatkan sebagai tanggung jawab.
Jabatan ditempatkan sebagai tugas.
Ilmu ditempatkan sebagai amanah untuk memberi manfaat.
Dan kehidupan ditempatkan sebagai perjalanan untuk menjalankan tugas yang telah menjadi bagian masing-masing manusia.
Pada posisi inilah seseorang mulai memahami bahwa hidup bukan sekadar tentang mendapatkan apa yang diinginkan, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan setelah mendapatkan apa yang diinginkan.
Banyak manusia mampu mengejar sesuatu, tetapi tidak semua manusia mampu mengendalikan dirinya setelah mendapatkan sesuatu tersebut.
Ada orang yang ketika miskin sangat menginginkan kekayaan. Namun setelah kaya, ia justru kehilangan ketenangan.
Ada orang yang ketika tidak mempunyai jabatan berharap mendapatkan jabatan. Tetapi setelah mendapatkan jabatan, ia kehilangan dirinya sendiri karena terlalu larut dalam kekuasaan.
Maka persoalannya bukan hanya apa yang kita dapatkan, tetapi juga bagaimana kita menjaga keseimbangan setelah mendapatkannya.
Di sinilah kenetralan menjadi penting.
Kenetralan memberikan ruang bagi manusia untuk berhenti sejenak, melihat keadaan dari berbagai sisi, kemudian menempatkan dirinya kembali secara proporsional.
Manusia yang netral bukan manusia yang tidak memiliki tujuan.
Ia justru manusia yang memahami tujuan, tetapi tidak kehilangan keseimbangan dalam proses mencapainya.
Ia boleh memiliki cita-cita menjadi kaya, tetapi tidak menjadikan kekayaan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
Ia boleh mengejar jabatan, tetapi tidak menjadikan jabatan sebagai ukuran kemuliaan.
Ia boleh mengejar ilmu, tetapi tidak menjadikan ilmu sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.
Ia boleh mengejar keberhasilan, tetapi tetap memahami bahwa kegagalan merupakan bagian dari proses kehidupan.
Dengan cara demikian, kenetralan menjadi pengendali keseimbangan antara keinginan dan penerimaan, antara usaha dan keikhlasan, antara keberhasilan dan kegagalan, antara dunia luar dan keadaan batin manusia.
Manusia tetap bergerak, tetapi tidak kehilangan pusat keseimbangannya.
Manusia tetap berusaha, tetapi tidak memaksakan segala sesuatu harus sesuai dengan keinginannya.
Manusia tetap mempunyai pilihan, tetapi mampu menerima konsekuensi dari pilihannya.
Manusia tetap mempunyai harapan, tetapi tidak menjadikan harapan sebagai alasan untuk menolak kenyataan.
Dan pada akhirnya, manusia tetap menjalankan tugas hidupnya dengan kesadaran bahwa dirinya hanyalah bagian kecil dari kehidupan yang jauh lebih besar.
Semesta alam telah diciptakan oleh Yang Maha Menjadikan dan Yang Maha Pencipta , Allah wa Rabbal’alamin, dengan segala kesempurnaan-Nya. Di dalam kehidupan terdapat hukum, aturan dan ketetapan yang menjadi bagian dari perjalanan setiap makhluk.
Dalam pandangan ini, keseimbangan bukanlah sesuatu yang kebetulan.
Alam memiliki keseimbangannya.
Kehidupan memiliki keseimbangannya.
Dan manusia pun sesungguhnya membutuhkan keseimbangan dalam dirinya.
Ketika keseimbangan itu hilang, manusia mudah terjebak pada penilaian yang berlebihan. Sesuatu yang disukai dianggap mutlak baik, sementara sesuatu yang tidak disukai dianggap mutlak buruk. Sesuatu yang menguntungkan dianggap benar, sementara sesuatu yang merugikan dianggap salah.
Padahal, belum tentu demikian.
Apa yang hari ini dianggap sebagai keuntungan bisa saja menjadi ujian di kemudian hari.
Apa yang hari ini dianggap sebagai kerugian bisa saja menjadi jalan menuju pembelajaran.
Apa yang hari ini dianggap sebagai kesulitan bisa saja menjadi proses pembentukan diri.
Dan apa yang hari ini dianggap sebagai keberhasilan bisa saja menjadi ujian baru yang lebih besar.
Maka, manusia membutuhkan kenetralan agar mampu melihat kehidupan secara utuh.
Kenetralan memberikan jarak untuk melihat. Keseimbangan memberikan kemampuan untuk menempatkan. Dan keikhlasan memberikan kekuatan untuk menjalani.
Ketiganya menjadi satu kesatuan dalam perjalanan manusia memahami dirinya sendiri.
Ketika manusia mampu melihat secara netral, ia tidak mudah menghakimi.
Ketika mampu menjaga keseimbangan, ia tidak mudah dikuasai keadaan.
Dan ketika mampu menerima dengan ikhlas, ia tidak mudah kehilangan ketenangan.
Pada akhirnya, mungkin inilah salah satu rahasia kehidupan: bahwa manusia tidak selalu diberikan tugas yang sama, keadaan yang sama, kemampuan yang sama, maupun perjalanan yang sama. Tetapi setiap manusia diberikan kesempatan untuk menjalankan tugas kehidupannya masing-masing.
Ada yang tugasnya melalui kekayaan.
Ada yang tugasnya melalui kesederhanaan.
Ada yang ditempa melalui kekuasaan.
Ada yang ditempa melalui keterbatasan.
Ada yang diuji dengan keberhasilan.
Ada yang diuji dengan kegagalan.
Semua memiliki prosesnya masing-masing.
Karena itu, jangan terlalu cepat menilai kehidupan orang lain.
Sebab kita tidak pernah benar-benar mengetahui apa tugas hidup seseorang dan ujian apa yang sedang dijalaninya.
Yang terpenting adalah bagaimana kita menjalankan tugas hidup kita sendiri dengan sebaik-baiknya, tetap berada dalam keseimbangan, tetap ikhlas, tetap sabar dan tetap menyadari bahwa setiap keadaan mempunyai pelajaran yang mungkin belum kita pahami hari ini.
Kenetralan akhirnya bukan sekadar berada di tengah antara dua keadaan. Kenetralan adalah kemampuan menjaga keseimbangan diri ketika berada di antara berbagai keadaan kehidupan.
Dan ketika keseimbangan itu telah tumbuh dalam diri manusia, maka kaya tidak membuatnya lupa diri, miskin tidak membuatnya kehilangan harga diri, berhasil tidak membuatnya sombong, dan gagal tidak membuatnya menyerah.
Ia tetap berjalan.
Ia tetap berusaha.
Ia tetap menerima.
Ia tetap belajar.
Karena ia memahami bahwa kehidupan bukan semata-mata tentang bagaimana mendapatkan apa yang diinginkan, tetapi tentang bagaimana menjalankan tugas kehidupan dengan seimbang dan juga menjalankan tugas hidup dengan maksimal ke tugas hidup kehidupan selanjut. Inilah yang dimaksudkan dengan kehidupan dunia dan akhirat yang tidak satu pun makhluk akan tahu kapan berakhirnya, karena tentunya hanya Sang Pencipta Rabb semesta alam yang mampu mengetahui kapan berakhirnya kehidupan ini.
