Oleh: Sidi Novi Zulfikar,S.Sos, S.Pd, M.AP
Pendidikan anak merupakan persoalan yang sangat penting untuk terus kita bicarakan. Sebab pendidikan bukan hanya tentang bagaimana anak memperoleh ilmu pengetahuan, mendapatkan nilai yang bagus, kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Pendidikan sesungguhnya adalah proses panjang untuk menemukan, membentuk dan mengembangkan potensi yang ada dalam diri seorang anak.
Setiap anak adalah unik. Tidak ada dua anak yang benar-benar sama, sekalipun mereka lahir dari keluarga yang sama. Ada anak yang cepat memahami pelajaran matematika, ada yang kuat dalam bahasa, ada yang senang membaca, ada yang memiliki kemampuan seni, olahraga, teknologi, kepemimpinan, komunikasi, bahkan ada anak yang mempunyai kemampuan tertentu tetapi belum ditemukan dan dikembangkan.
Karena itu, menurut saya, sekolah harus mulai melihat anak bukan hanya dari sisi nilai akademiknya, tetapi juga dari potensi, minat dan bakat yang dimilikinya.
Gagasan tentang Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak pada praktiknya adalah bagaimana pendidikan mendidik dan mengarahkan kemampuan anak sesuai dengan potensi, minat dan bakat yang ada dalam dirinya.
Artinya, pendidikan tidak boleh memaksakan semua anak untuk menjadi sama.
Anak harus diberikan ruang untuk berkembang sesuai dengan kekuatannya.
Pemikiran ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Ki Hadjar Dewantara, sebagai tokoh pendidikan nasional, telah lama mengingatkan bahwa pendidikan adalah proses menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
Konsep “menuntun” menurut saya sangat penting.
Guru bukanlah orang yang bertugas memaksakan anak menjadi apa yang diinginkan guru. Guru adalah orang yang membantu anak menemukan dan mengembangkan kemampuan yang ada dalam dirinya.
Ibarat seorang petani yang menanam berbagai jenis tanaman. Petani tidak mungkin memaksa pohon mangga menghasilkan buah rambutan. Yang dilakukan adalah merawat tanaman sesuai dengan karakter dan kebutuhannya.
Begitu juga dengan anak.
Anak memiliki potensi yang berbeda-beda. Karena itu cara mendidiknya juga tidak selalu harus sama.
Pandangan tersebut juga dapat kita lihat dari pemikiran Howard Gardner melalui teori Multiple Intelligences atau kecerdasan majemuk. Gardner memperkenalkan gagasan bahwa kecerdasan manusia tidak hanya satu bentuk. Manusia memiliki berbagai jenis kemampuan dan setiap individu dapat memiliki profil kecerdasan yang berbeda.
Ini memberikan pelajaran penting bagi dunia pendidikan.
Anak yang tidak terlalu menonjol dalam matematika belum tentu tidak cerdas. Bisa saja ia memiliki kemampuan luar biasa dalam musik, seni, olahraga, bahasa, hubungan sosial atau bidang lainnya.
Maka, ketika sekolah hanya menggunakan nilai akademik sebagai ukuran utama keberhasilan anak, kita sebenarnya berisiko mengabaikan potensi besar yang dimiliki sebagian anak.
Saya sering berpikir, berapa banyak anak yang sebenarnya memiliki bakat luar biasa tetapi tidak pernah ditemukan karena sistem pendidikan kita terlalu sibuk mengejar nilai?
Berapa banyak anak yang sebenarnya kreatif tetapi akhirnya kehilangan kepercayaan diri karena selalu dibandingkan dengan anak lain?
Dan berapa banyak anak yang sebenarnya memiliki kemampuan tertentu, tetapi justru merasa dirinya tidak pintar hanya karena nilai matematikanya rendah?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini menurut saya harus menjadi bahan renungan bagi kita semua.
Anak Bukanlah “Produk” yang Harus Seragam
Salah satu persoalan pendidikan kita adalah kecenderungan untuk melihat keberhasilan anak dengan ukuran yang sama.
Anak harus mendapatkan nilai tinggi.
Anak harus masuk sekolah favorit.
Anak harus mendapatkan ranking.
Anak harus kuliah di perguruan tinggi tertentu.
Kemudian setelah itu harus mendapatkan pekerjaan tertentu.
Tidak salah memiliki target seperti itu. Tetapi yang menjadi persoalan adalah ketika semua anak dipaksa mengikuti ukuran kesuksesan yang sama.
Padahal kehidupan tidak membutuhkan manusia yang semuanya memiliki kemampuan sama.
Kehidupan membutuhkan manusia dengan berbagai kemampuan.
Kita membutuhkan guru, dokter, insinyur, petani, pengusaha, seniman, atlet, teknolog, peneliti, pekerja sosial, pemimpin dan berbagai profesi lainnya.
Karena itu, pendidikan harus mampu mempersiapkan anak berdasarkan kekuatan yang ada dalam dirinya.
John Dewey, tokoh pendidikan progresif, menekankan pentingnya pengalaman anak dalam proses pendidikan. Pendidikan tidak semestinya hanya menjadi proses menerima informasi, tetapi harus menjadi pengalaman yang memungkinkan anak belajar melalui aktivitas dan kehidupan nyata.
Pemikiran Dewey ini relevan dengan pendidikan berbasis potensi dan bakat.
Anak harus diberikan kesempatan untuk mencoba.
Anak harus diberikan kesempatan untuk bertanya.
Anak harus diberikan kesempatan untuk berkreasi.
Anak harus diberikan kesempatan untuk mengalami kegagalan.
Sebab dari proses tersebut anak akan menemukan apa yang disukainya dan apa yang menjadi kekuatannya.
Orang Tua Jangan Memaksakan Cita-Citanya
Persoalan berikutnya adalah peran orang tua.
Kadang-kadang orang tua tanpa sadar menjadikan anak sebagai tempat untuk mewujudkan cita-cita yang belum tercapai.
Orang tua ingin anak menjadi dokter.
Anak sebenarnya ingin menjadi seniman.
Orang tua ingin anak menjadi ASN.
Anak memiliki minat besar menjadi pengusaha.
Orang tua ingin anak menjadi akademisi.
Anak justru memiliki bakat besar dalam olahraga atau teknologi.
Di sinilah orang tua harus belajar membedakan antara mengarahkan dan memaksakan.
Mengarahkan itu penting.
Memaksakan justru bisa menjadi masalah.
Menurut saya, orang tua harus menjadi orang pertama yang membantu anak menemukan potensinya. Orang tua harus mengamati apa yang membuat anak bersemangat, apa yang sering dilakukan anak, apa yang membuat anak memiliki rasa ingin tahu, serta bidang apa yang membuat anak mampu bertahan dan terus belajar meskipun mengalami kesulitan.
Dari sana minat dan bakat anak dapat mulai terlihat.
Guru Harus Menjadi Penemu Potensi Anak
Sekolah berbasis potensi, minat dan bakat juga menuntut perubahan peran guru.
Guru bukan hanya pengajar mata pelajaran.
Guru juga harus menjadi pengamat, pembimbing, motivator dan penemu potensi anak.
Guru harus mampu melihat bahwa setiap anak memiliki kelebihan.
Ada anak yang cepat memahami pelajaran.
Ada anak yang membutuhkan waktu lebih lama tetapi memiliki kreativitas tinggi.
Ada anak yang pendiam tetapi memiliki kemampuan analisis yang kuat.
Ada anak yang aktif dan banyak bergerak tetapi ternyata mempunyai kemampuan kepemimpinan.
Semua itu harus dibaca sebagai bagian dari karakter dan potensi anak.
Di sinilah pendidikan membutuhkan guru yang tidak hanya menguasai materi pelajaran, tetapi juga memahami psikologi perkembangan anak.
Maria Montessori, tokoh pendidikan anak, juga menekankan pentingnya memberikan kesempatan kepada anak untuk berkembang secara mandiri melalui lingkungan belajar yang mendukung kebutuhan perkembangan mereka.
Menurut saya, pendekatan Montessori memberikan pelajaran bahwa anak tidak boleh terus-menerus diperlakukan sebagai objek yang hanya menerima perintah. Anak harus diberikan ruang untuk mengeksplorasi, memilih aktivitas yang sesuai dengan perkembangannya dan belajar melalui pengalaman.
Sekolah Harus Menjadi Tempat Menemukan Potensi
Saya melihat sekolah berbasis potensi, minat dan bakat bukan berarti sekolah membebaskan anak belajar sesuka hati.
Bukan begitu.
Sekolah tetap membutuhkan kurikulum, aturan, disiplin dan target pembelajaran.
Tetapi di dalam sistem tersebut harus ada ruang yang cukup untuk mengembangkan keunikan setiap anak.
Anak yang mempunyai bakat seni diberikan ruang berkarya.
Anak yang mempunyai bakat olahraga diberikan ruang berlatih.
Anak yang mempunyai minat teknologi diberikan ruang bereksperimen.
Anak yang memiliki kemampuan komunikasi diberikan ruang berbicara.
Anak yang memiliki bakat kepemimpinan diberikan kesempatan mengelola kegiatan.
Dengan demikian, sekolah tidak hanya menghasilkan anak yang pintar menjawab soal, tetapi juga anak yang mampu menghasilkan sesuatu.
Menurut saya, inilah tantangan pendidikan ke depan.
Kita tidak cukup hanya menghasilkan anak yang tahu banyak, tetapi harus menghasilkan anak yang mampu melakukan banyak hal dan mampu memberikan manfaat kepada orang lain.
Jangan Membandingkan Anak dengan Anak Lain
Hal lain yang menurut saya sangat penting adalah menghentikan kebiasaan membandingkan anak.
“Kenapa kamu tidak seperti dia?”
“Lihat temanmu nilainya lebih tinggi.”
“Kenapa kamu tidak bisa seperti kakakmu?”
Kalimat-kalimat seperti ini mungkin dianggap biasa oleh sebagian orang tua. Tetapi bagi seorang anak, kalimat tersebut bisa membentuk cara pandang negatif terhadap dirinya sendiri.
Setiap anak mempunyai waktunya masing-masing.
Ada anak yang berkembang cepat.
Ada anak yang membutuhkan waktu lebih panjang.
Ada anak yang menemukan bakatnya sejak kecil.
Ada pula yang baru menemukan potensi dirinya ketika sudah remaja atau dewasa.
Karena itu, pendidikan harus memberikan kesempatan kepada anak untuk bertumbuh.
Bukan memaksa mereka tumbuh dengan ukuran orang lain.
Pendidikan Harus Menuntun Anak Menjadi Dirinya Sendiri
Pada akhirnya, menurut saya, sekolah berbasis potensi, minat dan bakat adalah sebuah paradigma pendidikan yang menempatkan anak sebagai manusia yang memiliki keunikan.
Pendidikan tidak lagi sekadar bertanya:
“Anak ini mendapat nilai berapa?”
Tetapi juga bertanya:
“Apa potensi anak ini?”
“Apa yang menjadi minatnya?”
“Apa bakat yang dimilikinya?”
“Bagaimana kemampuan itu bisa dikembangkan?”
Dan yang tidak kalah penting:
“Bagaimana anak ini bisa menjadi manusia yang bermanfaat?”
Pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan yang menuntun, gagasan Howard Gardner tentang keragaman kecerdasan, pemikiran John Dewey tentang pentingnya pengalaman dalam belajar, serta pendekatan Maria Montessori yang memberikan ruang bagi perkembangan dan kemandirian anak, semuanya memberikan pelajaran bahwa pendidikan tidak seharusnya hanya melihat anak dari satu ukuran.
Anak adalah manusia yang sedang tumbuh.
Ia membutuhkan ilmu, tetapi juga membutuhkan kepercayaan.
Ia membutuhkan aturan, tetapi juga membutuhkan ruang.
Ia membutuhkan guru, tetapi juga membutuhkan kesempatan untuk menemukan dirinya.
Karena itu, sekolah berbasis potensi, minat dan bakat bukan sekadar model pendidikan. Lebih dari itu, ia adalah cara pandang bahwa setiap anak mempunyai potensi yang layak ditemukan dan dikembangkan.
Saya percaya, tugas pendidikan bukan menjadikan semua anak sama.
Tugas pendidikan adalah membantu setiap anak menemukan jalan terbaik sesuai dengan potensi dirinya.
Sebab anak yang hebat bukan selalu anak yang memperoleh nilai tertinggi.
Anak yang hebat adalah anak yang mengenal dirinya, percaya pada kemampuannya, terus belajar, memiliki karakter dan mampu menggunakan potensinya untuk memberikan manfaat bagi kehidupan.
Pendidikan bukan memaksa anak menjadi apa yang kita inginkan. Pendidikan adalah menuntun anak menemukan siapa dirinya dan menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.
