Pendahuluan
Manusia merupakan makhluk yang memiliki dimensi lahir dan batin. Dalam perspektif tasawuf, manusia tidak hanya terdiri atas jasad yang tampak secara fisik, tetapi juga memiliki ruh, jiwa (nafs dalam pengertian diri/kepribadian pada sebagian literatur), dan berbagai potensi batin yang saling berinteraksi. Keseimbangan seluruh unsur tersebut menentukan kualitas kehidupan manusia, baik secara spiritual maupun jasmani.
Tulisan ini mengembangkan sebuah kerangka pemikiran bahwa ruh merupakan sumber kehidupan, jiwa berperan mengarahkan kehidupan, sedangkan jasad menjadi sarana menjalankan amanah sebagai khalifah di bumi (khalifah fil ardh). Adapun uraian mengenai posisi nafsu sebagai dorongan yang bekerja melalui pikiran dan dinamika biologis tubuh merupakan sebuah pendekatan konseptual penulis untuk menjelaskan hubungan antara aspek spiritual dan kehidupan manusia sehari-hari, bukan sebagai penjelasan yang telah menjadi kesepakatan tunggal dalam khazanah tasawuf.
Ruh sebagai Sumber Kehidupan
Al-Qur’an menjelaskan bahwa kehidupan manusia dimulai ketika Allah SWT (Arrasy) meniupkan ruh kepada manusia.
“Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ke dalam tubuhnya ruh (ciptaan)-Nya.”(QS. As-Sajdah: 9).
Ayat ini menunjukkan bahwa tanpa ruh, jasad hanyalah materi yang belum memiliki kehidupan.
Menurut Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din, ruh merupakan unsur yang berasal dari perintah Allah dan menjadi dasar kehidupan spiritual manusia. Ruh menghubungkan manusia dengan Sang Pencipta , sehingga manusia memiliki kemampuan mengenal kebenaran.
Senada dengan itu, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Kitab ar-Ruh menjelaskan bahwa ruh merupakan hakikat kehidupan yang keberadaannya melampaui pemahaman manusia secara sempurna.
Jiwa sebagai Pengendali Kehidupan
Dalam kerangka pemikiran artikel ini, jiwa dipahami sebagai pengendali seluruh aktivitas manusia. Jiwa mengarahkan pikiran, menentukan pilihan, dan mengendalikan perilaku sehingga jasad menjalankan fungsi kehidupan secara benar.
Dalam tasawuf, Abu Hamid al-Ghazali menjelaskan pentingnya penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) agar manusia mampu mengendalikan kecenderungan buruk dalam dirinya. Jiwa yang bersih akan memimpin seluruh potensi manusia menuju kebaikan.
Al-Qur’an juga menegaskan:
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
(QS. Asy-Syams: 9–10)
Posisi Nafsu dalam Kehidupan Manusia
Dalam pandangan penulis, nafsu mulai berperan setelah ruh menghidupkan manusia dan kehidupan psikis berlangsung. Nafsu menjadi sumber berbagai dorongan, seperti kebutuhan makan, minum, mempertahankan hidup, mencari pasangan, memperoleh harta, mengejar kedudukan, hingga keinginan-keinginan lainnya.
Pendekatan ini dapat dipahami sebagai cara menjelaskan bahwa manusia memiliki daya dorong positif dan daya dorong negatif. Dorongan tersebut pada dirinya tidak selalu buruk. Yang menentukan nilainya adalah bagaimana jiwa mengarahkannya.
Dalam literatur tasawuf, nafsu dipandang memiliki beberapa tingkatan, antara lain:
– Nafs al-Ammarah, yaitu nafsu yang mendorong kepada keburukan.
– Nafs al-Lawwamah, yaitu jiwa yang mulai menyesali kesalahan.
– Nafs al-Muthmainnah, yaitu jiwa yang telah mencapai ketenangan.
Pembagian tersebut dijelaskan oleh banyak ulama tasawuf, di antaranya Abu Hamid al-Ghazali dan Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam karya-karya mereka mengenai penyucian jiwa.
Jiwa sebagai Raja, Nafsu sebagai Pelayan
Untuk memudahkan pemahaman, manusia :
– Ruh adalah sumber kehidupan yang berasal dari Sang Pencipta (Rabb).
– Jiwa adalah Sang Raja yang memimpin kerajaan.
– Nafsu adalah pelayan yang menyediakan berbagai dorongan kebutuhan Sang Raja.
– Jasad adalah wilayah kerajaan atau wadah atau wilayah tempat seluruh aktifitas berlangsung sekaligus kendaraan.
Maka jika raja memimpin dengan bijaksana, seluruh pelayan dapat bekerja sesuai dengan tugasnya masing-masing sehingga kerajaan menjadi makmur sentosa.
Sebaliknya, apabila raja tunduk kepada pelayan, maka seluruh kerajaan akan mengalami kekacauan dan ketidakteraturan.
Demikian pula manusia. Jiwa seharusnya mengendalikan nafsu, bukan dikendalikan oleh nafsu. Ketika nafsu menguasai pikiran dan keputusan, manusia mudah terjerumus pada perilaku berlebihan yang merugikan dirinya sendiri atau terjebak pada permainan pikirannya sendiri.
Pengendalian Nafsu dan Kekuatan Jasad
Tasawuf tidak mengajarkan mematikan nafsu, tetapi mendidik dan mengarahkannya. Nafsu yang terkendali menjadikan pola makan lebih baik, tidur lebih teratur, emosi lebih stabil, dan perilaku lebih seimbang.
Namun untuk pencapaian peningkatan kemampuan Jasad, oleh sebagian orang-orang ada yang melatihnya dengan konsep “Puasa” dan sebagian lain melatih dengan selalu selektif dengan asupan makanan dan minuman yang masuk ke Tubuh atau selalu makan dan minuman yang Toyyib (baik) bagi Tubuh. Sehingga jika setiap makanan dan minuman yang Toyyib (Baik) bagi tubuh tentu akan menunjang kesehatan tubuh dan berpotensi berusia panjang. Semakin sehat tubuh maka semakin meningkat dan besar peluang melakukan regenerasi sel (peremajaan sel tubuh).
Pandangan tersebut memiliki kesesuaian dengan temuan ilmu pengetahuan modern. Ahli psikologi Roy F. Baumeister menjelaskan bahwa kemampuan mengendalikan diri (self-control) berkaitan dengan kesehatan fisik, keberhasilan hidup, serta kemampuan mengambil keputusan secara rasional.
Sementara itu, Walter Mischel melalui penelitian mengenai pengendalian diri menunjukkan bahwa kemampuan menunda kepuasan (delayed gratification) berhubungan dengan kesehatan, prestasi, dan kualitas hidup pada masa mendatang.
Dengan demikian, pengendalian nafsu tidak hanya bernilai spiritual, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi kekuatan jasad.
Jasad sebagai Kendaraan Menjalankan Amanah
Tubuh manusia merupakan amanah yang harus dijaga. Semakin sehat jasad seseorang, semakin besar peluangnya untuk beribadah, bekerja, berkarya, menolong sesama, dan menjalankan tugas sebagai khalifah di bumi (khalifah fil ardh).
Karena itu, memperkuat jasad tidak cukup hanya dengan latihan fisik dan makanan bergizi, tetapi juga harus disertai pengendalian nafsu agar seluruh energi kehidupan digunakan secara proporsional.
Penutup
Pengendalian nafsu merupakan salah satu fondasi penting dalam perjalanan spiritual manusia. Ruh memberikan kehidupan, jiwa memimpin arah kehidupan, nafsu menyediakan berbagai dorongan kehidupan, sedangkan jasad menjadi kendaraan untuk menjalankan amanah Allah SWT di bumi.
Ketika jiwa mampu memimpin nafsu dengan kebijaksanaan, manusia akan memperoleh keseimbangan antara kesehatan jasmani, ketenangan batin, dan kedekatan kepada Allah SWT zat Yang Maha Menjadikan. Sebaliknya, apabila jiwa tunduk kepada nafsu, maka keseimbangan tersebut akan terganggu.
Dengan demikian, memperkuat kemampuan jasad tidak hanya dilakukan melalui pembinaan fisik, tetapi juga melalui pendidikan jiwa dan pengendalian nafsu. Inilah salah satu pesan penting tasawuf: manusia yang kuat adalah manusia yang mampu memimpin dirinya sendiri sebelum memimpin kehidupan di sekitarnya.
Daftar Pustaka
- Al-Qur’an al-Karim.
- Ihya’ Ulum al-Din.
- Kitab ar-Ruh.
- Al-Hikam.
- Willpower: Rediscovering the Greatest Human Strength.
- The Marshmallow Test.
- Kitab Ajaran Sjech Abdul Qadir Djaelani
- Arkhytirema
