Bukittinggi (Wartabaru.Id) — Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah (FUAD) UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi resmi meluncurkan Pusat Kajian Ekoteologi sebagai upaya memperkuat peran akademik dalam menghadapi krisis ekologi global. Peluncuran tersebut dirangkaikan dengan Diskusi Akademik bertema internasional “Building an Ecotheology Research Agenda: Interdisciplinary Methods and Global Challenges” yang digelar di Aula FUAD UIN Bukittinggi, Jumat (2/1/2026).
Krisis ekologi global yang kian mengkhawatirkan kini dipahami tidak hanya sebagai persoalan lingkungan semata, tetapi juga menyentuh dimensi etis, kultural, dan teologis. Oleh karena itu, kehadiran Pusat Kajian Ekoteologi diharapkan menjadi wadah strategis bagi pengembangan riset dan pemikiran keislaman yang responsif terhadap tantangan global, mulai dari perubahan iklim, degradasi lingkungan, hingga krisis kemanusiaan.
Diskusi akademik ini menghadirkan Prof. Anna M. Gade, Ph.D., akademisi dari University of Wisconsin–Madison, Amerika Serikat, sebagai pembicara utama. Dalam paparannya, Prof. Anna menegaskan bahwa agama memiliki posisi penting dalam membentuk kesadaran dan tanggung jawab ekologis masyarakat.
“Nilai-nilai keagamaan tidak hanya berhenti pada narasi moral, tetapi harus diterjemahkan menjadi praksis nyata dalam merawat dan melindungi alam. Ekoteologi adalah jembatan antara refleksi keimanan dan aksi penyelamatan lingkungan,” ujar Prof. Anna.
Ia juga menilai bahwa pendekatan lintas disiplin menjadi kunci dalam menjawab kompleksitas krisis ekologi global. Menurutnya, kolaborasi antara teologi, ilmu sosial, budaya, dan kajian lingkungan akan memperkaya agenda riset serta memperkuat dampak akademik bagi masyarakat luas, khususnya di kawasan Asia Tenggara yang rentan terhadap bencana ekologis.
Sementara itu, Rektor UIN Bukittinggi, Prof. Dr. Silfia Hanani, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pendirian Pusat Kajian Ekoteologi merupakan wujud komitmen institusi dalam menghadirkan kontribusi nyata bagi peradaban berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa perguruan tinggi keagamaan Islam memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk merespons krisis lingkungan secara serius.
“Krisis ekologi adalah persoalan kemanusiaan yang membutuhkan pendekatan ilmu pengetahuan yang berlandaskan nilai-nilai spiritual dan etika keislaman. Pusat Kajian Ekoteologi ini kami harapkan menjadi pusat lahirnya gagasan, riset, dan rekomendasi kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan bumi,” kata Prof. Silfia.
Menurutnya, pusat kajian ini tidak hanya difokuskan pada pengembangan akademik, tetapi juga diarahkan untuk penguatan literasi ekologis, pengabdian kepada masyarakat, serta advokasi nilai-nilai kepedulian lingkungan berbasis keislaman.
Peluncuran Pusat Kajian Ekoteologi FUAD UIN Bukittinggi mendapat antusiasme tinggi dari dosen, peneliti, mahasiswa, dan pegiat lingkungan yang hadir. Diskusi berlangsung dinamis dan mencerminkan kesadaran kolektif bahwa penyelamatan lingkungan membutuhkan sinergi antara ilmu pengetahuan, nilai spiritual, dan tanggung jawab sosial.
Dengan langkah ini, FUAD UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi menegaskan posisinya sebagai institusi akademik yang berkomitmen aktif dalam menjawab tantangan krisis global, sekaligus berkontribusi bagi masa depan bumi yang berkelanjutan berlandaskan nilai-nilai keislaman.
(Wartabaru.Id/BiroSumatera/169)
