Kancing Baju Perempuan Sebelah Kiri Representasi Sistem Patriarki Tak Kasat Mata

 

 

(Ilustrasi Baju Perempuan dan Laki-Laki Era Victoria. Dok/Pinterest)

Kita mulai dari kisah Ani dan Edo. Keduanya merupakan remaja berusia 16 tahun yang sedang bersiap menghadiri acara keluarga. Di depan cermin, mereka mengenakan kemeja berwarna hijau dengan model senada. Semuanya tampak biasa saja hingga Ani menyadari satu hal yang selama ini luput dari perhatiannya, letak kancing kemejanya berbeda dengan milik Edo. Kancing pada kemeja Edo berada di sebelah kanan, sedangkan kancing pada kemeja yang ia kenakan berada di sebelah kiri. Rasa penasaran pun muncul. Mengapa letaknya harus berbeda? Bukankah fungsi kancing pada pakaian laki-laki dan perempuan sama?. Ketika ia menanyakan hal tersebut kepada ibunya, jawaban yang ia terima sangat sederhana, “Memang begitu model bajunya.” Jawaban tersebut mungkin cukup bagi sebagian orang, tetapi bagi Ani justru memunculkan pertanyaan baru. Jika semuanya dapat dibuat sama, mengapa harus dibedakan? Mengapa itu tetap dipertahankan hingga saat ini?. Pertanyaan tersebut mungkin terdengar sepele.

Tidak banyak orang yang menyadari tentang fenomena ini, peletakan kancing yang terlihat sepele ternyata memiliki sejarah yang cukup panjang. Dilansir dari artikel Smithsonian Magazine (2024) yang berjudul “Men’s Shirts Button on the Right. Why Do Women’s Button on the Left?”1  menyebutkan tradisi tersebut telah berkembang sejak era Renaissance hingga era Victoria di Eropa. Pada periode tersebut, perempuan dari kalangan bangsawan umumnya mengenakan busana yang rumit dengan banyak lapisan, korset, dan detail pakaian yang sulit dikenakan tanpa bantuan orang lain. Oleh karena itu, mereka biasanya dibantu oleh pelayan saat berpakaian. Dalam kondisi tersebut, posisi kancing pada pakaian perempuan ditempatkan di sebelah kiri untuk memudahkan pelayan yang mayoritas menggunakan tangan kanan ketika mengancingkan pakaian dari arah berhadapan. Sebaliknya, pakaian laki-laki dirancang agar dapat dikenakan sendiri sehingga kancing diletakkan di sebelah kanan untuk memudahkan penggunaan oleh tangan kanan yang dominan2. Selain itu, posisi kancing pada pakaian laki-laki diletakkan sebelah kiri karena laki-laki dengan kebiasaan membawa pedang di sisi kiri tubuh, sehingga desain pakaian dibuat untuk menunjang mobilitas dan aktivitas mereka3. Perbedaan letak kancing bukanlah hasil dari kebutuhan biologis antara laki-laki dan perempuan, melainkan lahir dari kondisi sosial yang berkembang pada masa itu. Desain pakaian tidak hanya berfungsi sebagai penutup tubuh, tetapi juga mencerminkan struktur sosial dan pembagian peran gender yang berlaku dalam masyarakat.

Sejak awal, desain pakaian perempuan tidak sepenuhnya dibuat berdasarkan kenyamanan perempuan sebagai pengguna utama, melainkan berdasarkan kebutuhan orang lain yang membantu mereka berpakaian. Tubuh perempuan ditempatkan sebagai objek yang diatur oleh lingkungan sosial di sekitarnya 4. Sementara itu, laki-laki diposisikan sebagai individu yang mandiri dan aktif.

Pada masa itu, ruang gerak perempuan sangat terbatas jika dibandingkan dengan laki-laki. Mereka hanya berpusat pada kegiatan domestik rumah tangga dan berada dibawah pengawasan norma sosial yang mencekik 5. Sementara laki-laki diberi kebebasan untuk melakukan semua hal dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, politik, pekerjaan, hingga tampil di ruang publik. Perbedaan peran sosial tersebut kemudian tidak hanya tercermin dalam aturan dan kebijakan, tetapi juga dalam desain benda-benda yang digunakan sehari-hari, termasuk pakaian.

Menariknya kebiasaan seperti ini dilestarikan hingga masa sekarang. Padahal kondisi sosial yang melatarbelakangi lahirnya perbedaan letak kancing sudah lama berubah. Perempuan modern tidak lagi hidup dalam struktur sosial yang sama seperti perempuan bangsawan pada abad ke-19. Mereka dapat bersekolah, bekerja, memimpin organisasi, bahkan menduduki jabatan politik tertinggi6. Sebagian besar perempuan juga berpakaian sendiri tanpa bantuan pelayan. Akan tetapi, desain pakaian yang lahir dari konteks sosial masa lalu tetap diwariskan dan dianggap sebagai sesuatu yang wajar.

Hal ini memperlihatkan bahwa patriarki tidak selalu berbentuk diskriminasi yang nyata, seperti ketimpangan upah, pembatasan hak perempuan, atau kekerasan berbasis gender. Padahal, patriarki juga dapat hadir dalam bentuk yang jauh lebih halus dan tak kasat mata yang tidak semua orang dapat sadari.  Patriarki terbentuk melalui kebiasaan, simbol, tradisi, dan praktik sosial yang terus diproduksi sehingga dianggap normal oleh masyarakat7. Permasalahan terkait peletakan posisi kancing pada baju perempuan merupakan salah satu contoh bentuk patriarki yang tak kasat mata, terlihat sangat sepele. Tidak ada perempuan yang kehilangan haknya hanya karena posisi kancing berada di sebelah kiri. Namun, fenomena ini memperlihatkan bagaimana konstruksi gender dapat tertanam dalam hal-hal kecil yang sering kali tidak disadari. Perbedaan yang awalnya lahir dari struktur sosial tertentu kemudian diwariskan sebagai tradisi dan diterima begitu saja tanpa pernah dipertanyakan kembali.

Hal ini sejalan dengan pandangan Simone de Beauvoir dalam bukunya The Second Sex yang menyatakan bahwa seseorang tidak dilahirkan sebagai perempuan, tetapi menjadi perempuan melalui proses sosial dan budaya8. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa identitas gender tidak terbentuk secara alami, melainkan melalui berbagai pengalaman, aturan, simbol, dan praktik yang diajarkan masyarakat. Dengan kata lain, apa yang dianggap sebagai kodrat perempuan sering kali merupakan hasil konstruksi sosial yang telah berlangsung dalam waktu yang lama.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pakaian yang saat ini kita pakai tidak pernah benar-benar netral. Pakaian bukan hanya alat untuk menutupi tubuh, tetapi juga sarana komunikasi sosial yang menyampaikan pesan mengenai identitas, status, dan posisi seseorang dalam masyarakat9. Melalui pakaian, masyarakat belajar memahami apa yang dianggap maskulin dan apa yang dianggap feminin. Karena itu, setiap elemen dalam pakaian, sekecil apa pun dapat mengandung makna sosial yang lebih besar daripada sekadar fungsi praktisnya. Fokus utama pembahasan ini bukanlah pada perubahan desain pakaian, melainkan pada pentingnya kesadaran yang lebih kritis dalam melihat berbagai praktik sosial yang selama ini dianggap biasa. Ketika kita mulai mempertanyakan hal-hal sederhana seperti letak kancing baju, kita sebenarnya sedang belajar memahami bagaimana norma dan relasi kuasa bekerja dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Pada akhirnya, fenomena kancing baju perempuan yang berada di sebelah kiri menunjukkan bahwa patriarki tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar dan mencolok10. Ia dapat bersembunyi dalam benda-benda sederhana yang digunakan setiap hari. Perbedaan letak kancing menjadi pengingat bahwa banyak aspek kehidupan yang tampak netral sesungguhnya memiliki sejarah sosial yang panjang. Oleh karena itu, memahami isu gender bukan hanya berbicara tentang kebijakan, hukum, atau gerakan sosial, tetapi juga tentang keberanian untuk mempertanyakan hal-hal yang selama ini dianggap wajar. Hal ini disebabkan jejak patriarki justru paling mudah ditemukan pada detail-detail kecil yang selama ini luput dari perhatian kita.

Daftar Pustaka

1. Lewis D. Men’s Shirts Button on the Right. Why Do Women’s Button on the Left? Smithson Mag. Published online 2024. https://www.smithsonianmag.com/smart-news/mens-shirts-button-on-the-right-why-do-womens-button-on-the-left-180957361/

2. Kumparan E. Alasan Kancing Baju Perempuan Ada di Sebelah Kiri, Pernah Sadar Nggak? KumparanWOMAN. 2025. https://kumparan.com/kumparanwoman/alasan-kancing-baju-perempuan-ada-di-sebelah-kiri-pernah-sadar-nggak-25ymQJ3xPdK

3. WGM A. Jejak Tradisi Bangsawan di Balik Rahasia Posisi Kancing Baju: Pria di Kanan, Wanita di Kiri! WGlobalMedia.com. 2026. https://wglobalmedia.com/article/jejak-tradisi-bangsawan-di-balik-rahasia-posisi-kancing-baju-pria-di-kanan-wanita-di-kiri

4. Swastini, N. L. M. E., Erviantono, T., & Noak, P. A. (2025). Politik tubuh perempuan antara kontrol sosial dan resistensi. Socio-political Communication and Policy Review, 2(3).

5. Sakina, A. I. (2017). Menyoroti budaya patriarki di Indonesia. Share: Social Work Journal, 7(1), 71-80.

6. Maulida, H. (2021). Perempuan dalam kajian sosiologi gender: Konstruksi peran sosial, ruang publik, dan teori feminis. Journal of Politics and Democracy, 1(1), 71-79.

7. Febriyanti, G. F., & Rahmatunnisa, M. (2022). Ketidakadilan Gender Akibat Stereotip Pada Sistem Patriarki. ResearchGate, June, 1-7.

8. De Beauvoir, S. (2023). Jenis kelamin kedua. Dalam Teori sosial yang ditata ulang (hlm. 346-354). Routledge.

9. Afifah, N. (2019). Pakaian Syar’i, Media dan Konstruksi Kesalehan Perempuan. Jurnal Sosiologi Reflektif, 13(1), 61-73.

10. Satriya D. Kenapa Patriarki Masih Bertahan di Abad 21 dan Bagaimana Kita Melawannya. Kulturnativ. 2025. https://www.kulturnativ.com/edukasi/7015407916/kenapa-patriarki-masih-bertahan-di-abad-21-dan-bagaimana-k

ita-melawannya

 

 

 

 

Writer: Nur Mazidah Agustin NingsihEditor: fitraamira
Exit mobile version