Oleh : Sidi Novi Zulfikar, S.Sos, S.Pd, M.AP
Ada sebuah pertanyaan yang menarik untuk direnungkan : Mengapa sesuatu yang dianggap sebagai KEBENARAN oleh suatu kaum manusia, pada saat yang sama dapat dianggap bukan sebagai KEBENARAN oleh kaum manusia lainnya?
Pertanyaan ini menjadi semakin menarik ketika yang dipersoalkan adalah agama.
Sebab setiap manusia yang beragama pada umumnya memiliki keyakinan bahwa apa yang diyakininya adalah benar. Namun, pada kenyataannya manusia hidup dalam keragaman agama, keyakinan, tradisi, budaya dan bahkan ada manusia yang memilih untuk tidak beragama atau tidak percaya kepada Tuhan.
Lalu, apakah semua yang diyakini manusia sebagai kebenaran otomatis merupakan KEBENARAN?
Atau jangan-jangan perlu dibedakan antara kebenaran sebagai keyakinan manusia dengan kebenaran sebagai suatu keniscayaan?
Di sinilah saya melihat pentingnya kita membedakan antara kebenaran yang diyakini dan kebenaran yang bersifat universal.
Kebenaran Dan Keniscayaan
Menurut pemahaman saya, sesuatu dapat disebut sebagai keniscayaan apabila keberadaannya tidak bergantung kepada siapa yang mempercayainya.
Siang tetap siang walaupun seseorang tidak percaya bahwa siang itu ada. Malam tetap malam walaupun seseorang tidak menyukainya. Hukum-hukum alam tetap bekerja meskipun manusia belum mengetahuinya.
Karena itu, keniscayaan mempunyai sifat yang berbeda dengan keyakinan.
Keyakinan berada dalam wilayah kesadaran manusia. Sedangkan keniscayaan berada pada sesuatu yang keberadaannya tidak bergantung kepada pengakuan manusia.
Tetapi di sinilah persoalan agama menjadi menarik.
Jika suatu agama dianggap sebagai satu-satunya KEBENARAN dalam pengertian universal, bagaimana kita menjelaskan kenyataan bahwa manusia di muka bumi memiliki agama yang berbeda-beda?
Apakah perbedaan agama menunjukkan bahwa ada banyak kebenaran?
Ataukah perbedaan agama justru menunjukkan bahwa manusia mempunyai cara yang berbeda dalam memahami sesuatu yang dianggapnya sebagai kebenaran?
Pertanyaan kedua inilah yang menurut saya menarik untuk direnungkan.
Ninian Smart, seorang ahli kajian agama, menunjukkan bahwa agama tidak hanya dapat dipahami dari doktrin. Agama memiliki dimensi doktrin, ritual, pengalaman, etika, sosial, material dan narasi. Dengan demikian, agama selalu hadir dalam kehidupan manusia melalui suatu sistem budaya yang kompleks.
Artinya, ketika manusia mengatakan “agama saya adalah benar”, yang berbicara bukan hanya keyakinan teologis, tetapi juga sejarah, kebudayaan, keluarga, lingkungan sosial, pengalaman spiritual dan proses pendidikan yang membentuk kesadarannya.
Agama dan Konstruksi Kebudayaan Manusia
Dalam perspektif kajian budaya, manusia tidak lahir dalam keadaan kosong.
Seorang anak lahir ke dalam keluarga, masyarakat, bahasa dan kebudayaan tertentu. Ia kemudian diperkenalkan kepada nilai, norma, simbol dan keyakinan yang telah hidup sebelum dirinya lahir.
Seorang anak yang lahir dalam keluarga Muslim akan mengenal Islam sejak kecil. Anak yang lahir dalam keluarga Kristen akan mengenal Kekristenan. Demikian pula seseorang yang lahir dalam lingkungan Hindu, Buddha, Yahudi atau tradisi kepercayaan lainnya.
Di sinilah agama mengalami proses pewarisan budaya.
Bukan berarti agama hanya merupakan produk budaya. Pernyataan seperti itu terlalu sederhana.
Yang ingin saya katakan adalah bahwa cara manusia menerima, memahami, menafsirkan dan menjalankan agama tidak pernah terlepas dari kebudayaan manusia tempat ia hidup.
Karen Armstrong, dalam A History of God, menunjukkan bagaimana pemahaman manusia tentang Tuhan mengalami perjalanan sejarah yang panjang dalam tradisi Yahudi, Kristen dan Islam. Gagasan tentang Tuhan, menurut kajian sejarah agama, memiliki perkembangan dalam konteks sejarah, intelektual dan sosial manusia.
Dengan demikian, perlu dibedakan antara Tuhan atau realitas transenden yang diyakini dengan cara manusia memahami dan menjelaskan Tuhan atau realitas transenden tersebut.
Tuhan, bagi orang beriman, bukan produk kebudayaan.
Tetapi cara manusia memahami Tuhan sangat mungkin dipengaruhi oleh kebudayaan.
Di sinilah kita dapat memahami mengapa manusia dapat memiliki keyakinan agama yang berbeda.
Kapan Agama Ada?
Pertanyaan berikutnya menjadi lebih menarik:
Kapankah agama itu mulai ada?
Apakah agama sudah ada pada masa Nabi Adam AS?
Jika Nabi Adam AS sudah beragama, apakah agama Nabi Adam AS sama dengan agama yang dikenal manusia sekarang?
Bagaimana pula agama pada masa Nabi Nuh AS, Nabi Ibrahim AS, Nabi Musa AS, dan Nabi Isa AS?
Kemudian bagaimana dengan agama setelah Nabi Muhammad SAW?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak sederhana apabila Agama dipahami sebagai sebuah institusi sosial yang mempunyai nama, kitab, organisasi, ritual dan sistem hukum tertentu.
Namun dalam perspektif teologi Islam, persoalannya menjadi berbeda.
Al-Qur’an menyatakan bahwa agama di sisi Allah adalah Islam.
Dalam pengertian teologis, “Islam” dapat dipahami bukan hanya sebagai nama komunitas keagamaan yang muncul pada masa Nabi Muhammad SAW, tetapi juga sebagai makna berserah diri kepada Allah. Karena itu, dalam perspektif Islam, para nabi sebelum Nabi Muhammad SAW dipahami membawa ajaran tauhid dan kepasrahan kepada Allah, meskipun syariat dan bentuk aturan kehidupan mereka dapat berbeda sesuai zaman dan umatnya.
Al-Qur’an juga menggambarkan bahwa manusia pada awalnya merupakan umat yang satu, kemudian terjadi perselisihan dan perbedaan. Gagasan ini penting untuk menunjukkan bahwa persoalan keberagamaan manusia mempunyai sejarah yang panjang.
Dengan demikian, kita perlu membedakan:
Islam sebagai prinsip ketundukan kepada Tuhan dengan Islam sebagai sistem agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW dalam bentuk risalah terakhir.
Pembedaan ini membantu kita menjawab pertanyaan tentang agama Nabi Adam AS tanpa harus memaksakan bahwa bentuk institusi agama pada masa Nabi Adam AS identik dengan bentuk agama pada zaman sekarang.
Dari Adam Sampai Muhammad : Satu Sumber, Beragam Perjalanan Manusia
Dalam perspektif Islam, para nabi membawa pesan ketauhidan.
Tetapi manusia yang menerima pesan tersebut hidup dalam kondisi sosial dan sejarah yang berbeda.
Karena itu, terdapat perbedaan syariat, aturan kehidupan dan bentuk praktik.
Di sinilah kita menemukan satu hal penting:
Sumber kebenaran yang diyakini sama, tetapi pemahaman dan perjalanan manusia terhadap kebenaran tersebut dapat berbeda.
Maka, persoalan agama tidak cukup dilihat hanya dari banyak atau sedikitnya agama.
Kita harus melihat bagaimana manusia menerima agama, memahami agama, menjalankan agama dan mewariskan agama.
Agama dapat menjadi pengalaman kesadaran.
Tetapi agama juga dapat berubah menjadi identitas sosial.
Agama dapat menjadi jalan pencarian Tuhan.
Tetapi agama juga dapat berubah menjadi simbol kelompok.
Agama dapat menjadi sumber kedamaian.
Tetapi agama juga dapat dipakai manusia untuk mempertahankan ego kelompok.
Persoalannya bukan semata-mata agama.
Persoalannya adalah manusia yang memahami agama.
Dogma, Doktrin dan Kesadaran
Di sinilah saya melihat pentingnya membedakan antara menerima agama karena dogma dan doktrin dengan memahami agama melalui kesadaran.
Dogma dan doktrin mempunyai fungsi dalam kehidupan agama. Ia memberikan identitas, arah, norma dan batas-batas keyakinan kepada pemeluknya.
Namun apabila seseorang hanya berhenti pada doktrin tanpa mengembangkan kesadaran, maka agama dapat berubah menjadi sekadar identitas.
“Saya benar karena agama saya benar.”
“Orang lain salah karena agamanya berbeda.”
Cara berpikir seperti ini dapat melahirkan ego keagamaan.
William James, salah seorang tokoh besar filsafat dan psikologi agama, justru memberikan perhatian besar kepada pengalaman keagamaan individual. Dalam The Varieties of Religious Experience, ia tidak terutama mempelajari agama sebagai institusi, melainkan pengalaman manusia dalam hubungannya dengan apa yang dianggapnya sebagai Yang Ilahi.
James bahkan mengingatkan bahwa pengalaman keagamaan dapat melahirkan mitos, dogma, kredo dan sistem teologi setelah pengalaman tersebut terjadi. Dengan kata lain, pengalaman manusia dan kemudian penafsiran intelektual terhadap pengalaman tersebut merupakan dua hal yang dapat dibedakan.
Pemikiran ini menarik apabila dikaitkan dengan konsep KESADARAN.
Seseorang tidak cukup hanya berkata:
“Saya percaya.”
Tetapi perlu bertanya:
Mengapa saya percaya?
Apa yang saya pahami dari keyakinan saya?
Apakah keyakinan saya membuat saya menjadi manusia yang lebih baik?
Apakah agama yang saya yakini membuat saya mampu menghormati manusia lain?
Apakah saya memahami Tuhan, atau saya hanya memahami tafsir manusia tentang Tuhan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa manusia dari sekadar percaya menuju kesadaran.
Kecerdasan dan Kesadaran
Kesadaran tidak dapat dipisahkan dari kecerdasan.
Manusia mempunyai kemampuan untuk berpikir, membandingkan, mempertanyakan, menguji, merenungkan dan mengambil kesimpulan.
Karena itu, keberagamaan yang sadar bukan berarti keberagamaan yang meninggalkan agama.
Justru sebaliknya.
Keberagamaan yang sadar adalah keberagamaan yang berusaha memahami mengapa seseorang beragama, untuk apa seseorang beragama dan bagaimana agama seharusnya diwujudkan dalam kehidupan.
Pada titik ini agama tidak lagi hanya menjadi identitas.
Agama menjadi jalan kesadaran.
Seseorang tidak lagi beragama semata-mata karena “orang tua saya beragama demikian”, tetapi karena ia telah menemukan makna keberagamaannya melalui proses kesadaran.
Tentu saja, hal ini bukan berarti setiap manusia harus meninggalkan doktrin agamanya dan menciptakan agama baru menurut pikirannya sendiri.
Tidak.
Yang dimaksud adalah bahwa manusia perlu menggunakan akal dan kesadarannya untuk memahami keyakinan yang dianutnya.
Karena manusia bukan hanya makhluk yang menerima.
Manusia juga makhluk yang memahami.
John Hick dan Persoalan Kebenaran Agama
Dalam filsafat agama modern, John Hick memberikan gagasan yang sangat menarik melalui pemikiran pluralisme agama.
Dalam An Interpretation of Religion, Hick berusaha memahami agama-agama sebagai respons yang berbeda-beda secara kultural terhadap suatu Realitas Transenden. Ia menggunakan pembedaan antara realitas sebagaimana adanya dan realitas sebagaimana dialami serta dipahami manusia.
Pemikiran Hick tentu saja bukan satu-satunya jawaban dan juga tidak diterima oleh semua kalangan agama.
Namun pemikirannya membantu kita memahami persoalan:
Mengapa manusia dapat mempunyai pengalaman terhadap realitas transenden yang kemudian menghasilkan pemahaman agama yang berbeda?
Dengan pendekatan ini, perbedaan agama dapat dilihat sebagai persoalan epistemologis dan kultural: manusia yang berbeda, berada dalam sejarah yang berbeda, menggunakan bahasa dan simbol yang berbeda, kemudian memahami realitas transenden melalui kerangka yang berbeda.
Namun di sinilah saya memberikan catatan penting.
Mengakui bahwa agama-agama mempunyai dimensi pengalaman dan budaya yang berbeda tidak otomatis berarti semua doktrin agama secara logis pasti benar secara bersamaan.
Ini penting.
Sebab dua pernyataan yang bertentangan tidak mungkin secara sederhana dinyatakan benar dalam pengertian yang sama dan pada waktu yang sama.
Maka, pluralitas agama tidak otomatis berarti pluralitas kebenaran absolut.
Yang dapat kita katakan adalah bahwa manusia mempunyai banyak klaim tentang kebenaran.
Sedangkan apakah klaim tersebut benar secara absolut merupakan persoalan filsafat, teologi dan keyakinan yang jauh lebih dalam.
Kebenaran Tidak Sama Dengan Jumlah Orang Yang Percaya
Ada satu hal lagi yang menurut saya penting.
Kebenaran tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan jumlah orang yang mempercayainya.
Jika satu juta orang percaya sesuatu, tidak otomatis sesuatu itu benar.
Jika hanya satu orang yang mengetahui sesuatu, juga tidak otomatis sesuatu itu salah.
Karena itu, ukuran kebenaran bukan jumlah pengikut.
Kebenaran tidak menjadi benar karena mayoritas.
Dan kebenaran tidak menjadi salah karena minoritas.
Dalam konteks inilah konsep KENISCAYAAN menjadi penting.
Keniscayaan adalah sesuatu yang tidak bergantung pada jumlah manusia yang mempercayainya.
Tetapi ketika kita masuk ke wilayah agama, manusia berhadapan dengan sesuatu yang transenden. Karena itu, manusia tidak dapat dengan mudah menyamakan pengalaman keagamaan dengan keniscayaan alam seperti siang dan malam.
Siang dan malam dapat diamati secara bersama.
Sedangkan pengalaman transenden bersifat jauh lebih kompleks dan sering kali hadir melalui pengalaman batin, wahyu, tradisi, bahasa, simbol dan penafsiran.
Maka, menurut saya, kerendahan hati epistemologis diperlukan dalam keberagamaan.
Saya boleh meyakini agama saya sebagai kebenaran.
Tetapi saya juga harus menyadari bahwa saya adalah manusia yang sedang memahami kebenaran.
Di sinilah perbedaan antara “kebenaran yang saya yakini” dan “Kebenaran Absolut” menjadi sangat penting.
Islam dan Kesadaran: Tidak Ada Paksaan dalam Agama
Dalam perspektif Islam sendiri terdapat ayat yang sangat menarik untuk direnungkan:
“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama.” QS. Al-Baqarah: 256.
Ayat ini memberikan ruang penting bagi kesadaran manusia.
Keimanan tidak dapat dipaksakan.
Seseorang dapat dipaksa untuk mengucapkan suatu kalimat, tetapi tidak mudah memaksa kesadaran batinnya untuk percaya.
Karena itu, keberagamaan yang lahir dari kesadaran mempunyai dimensi yang berbeda dengan keberagamaan yang lahir karena tekanan.
Dalam konteks ini, agama bukan sekadar persoalan “apa yang harus saya percaya”, tetapi juga:
Apa yang saya sadari?
Apa yang saya pahami?
Apa yang saya lakukan setelah saya percaya?
Karena padaakhirnya agama seharusnya tidak berhenti pada keyakinan di dalam pikiran.
Agama harus hadir dalam perilaku.
Memaklumi Perbedaan Adalah Zona Netral Manusia
Dari sinilah saya memahami konsep memaklumi manusia lain.
Memaklumi bukan berarti membenarkan semua keyakinan.
Menghormati bukan berarti harus menyetujui.
Toleransi bukan berarti kehilangan keyakinan.
Seseorang dapat meyakini agamanya sendiri sebagai kebenaran, tetapi pada saat yang sama mengakui bahwa manusia lain mempunyai kebebasan kesadaran dalam menentukan keyakinannya.
Ini adalah wilayah yang saya sebut sebagai zona aman atau zona netral dalam kehidupan manusia.
Zona netral bukan wilayah tanpa prinsip.
Zona netral adalah ruang dimana manusia tidak memaksakan ego keyakinannya kepada manusia lain.
Di sinilah kita dapat memahami mengapa seseorang yang beragama perlu memaklumi orang yang berbeda agama.
Bahkan terhadap manusia yang memilih tidak beragama atau tidak percaya kepada Tuhan, kita tetap dapat memandangnya sebagai sesama manusia.
Memaklumi keberadaan seorang ateis bukan berarti seorang beriman harus menjadi ateis.
Sebaliknya, seorang ateis menghormati orang beragama juga tidak berarti ia harus menjadi orang beragama.
Yang dibutuhkan adalah kesadaran bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam wilayah keyakinan dan kesadaran dirinya.
Perbedaan Agama: Keniscayaan atau Fakta Sosial?
Pada titik ini saya justru ingin memberikan satu koreksi terhadap gagasan awal yang sering muncul:
“Kalau agama itu benar, seharusnya hanya ada satu agama dan semua manusia menerimanya.”
Secara logika, argumen tersebut dapat dipahami, tetapi belum tentu dapat dijadikan bukti bahwa hanya satu agama yang benar.
Mengapa?
Karena keseragaman penerimaan manusia bukan ukuran tunggal kebenaran.
Bahkan dalam ilmu pengetahuan pun manusia dapat berbeda pandangan sebelum mencapai konsensus.
Karena itu, yang dapat dikatakan secara lebih hati-hati adalah:
Perbedaan agama merupakan keniscayaan sosial dan sejarah manusia, tetapi belum tentu merupakan keniscayaan metafisik tentang kebenaran Tuhan.
Ini adalah perbedaan yang sangat penting.
Perbedaan agama adalah fakta.
Tetapi apakah perbedaan agama berarti Tuhan menciptakan banyak kebenaran yang saling bertentangan, atau manusia mempunyai cara berbeda dalam memahami kebenaran transenden, merupakan pertanyaan yang masih terbuka dalam filsafat agama dan teologi.
Kebenaran dan Keterbatasan Manusia
Manusia mempunyai kecerdasan, tetapi kecerdasan manusia terbatas.
Manusia mempunyai kesadaran, tetapi tingkat kesadaran manusia berbeda.
Manusia mempunyai pengalaman, tetapi pengalaman setiap manusia tidak sama.
Manusia mempunyai bahasa, tetapi bahasa manusia juga terbatas.
Karena itu, ketika manusia berbicara tentang Tuhan dan Kebenaran Absolut, manusia sebenarnya sedang menggunakan instrumen manusia untuk memahami sesuatu yang diyakini melampaui manusia.
Di sinilah saya melihat pentingnya kerendahan hati dalam beragama.
Semakin seseorang merasa mengetahui seluruh Kebenaran Absolut, semakin ia seharusnya menyadari keterbatasan dirinya sebagai manusia.
Karena mungkin saja yang kita miliki bukan seluruh Kebenaran, tetapi pemahaman manusia tentang Kebenaran.
William James menunjukkan bahwa pengalaman religius sangat terkait dengan pengalaman individual manusia dan bahwa pengalaman tersebut kemudian memperoleh interpretasi filosofis dan teologis.
Sementara John Hick mengingatkan bahwa manusia dari tradisi yang berbeda dapat mengalami dan memahami Realitas Transenden melalui kerangka budaya yang berbeda.
Dan Ninian Smart menunjukkan bahwa agama perlu dilihat melalui berbagai dimensi kehidupan manusia, bukan hanya doktrin.
Ketiganya memberikan satu pelajaran penting:
agama tidak hanya hidup dalam kitab dan doktrin, tetapi juga hidup dalam kesadaran manusia.
Pada Akhirnya, Siapa Yang Menentukan Makna Agama?
Pada akhirnya, manusia sendirilah yang menjalani kehidupan keberagamaannya.
Namun bukan berarti manusia bebas menentukan Tuhan sesuka hatinya.
Yang dimaksud adalah bahwa manusia mempunyai tanggung jawab kesadaran terhadap keyakinannya sendiri.
Ia harus bertanggung jawab terhadap apa yang dipercayainya.
Ia harus bertanggung jawab terhadap bagaimana ia memahami agamanya.
Ia harus bertanggung jawab terhadap bagaimana keyakinannya memengaruhi perilakunya kepada manusia lain.
Sebab agama yang hanya menghasilkan kebencian terhadap manusia lain patut dipertanyakan cara pemahamannya.
Agama yang membuat manusia semakin sombong patut direnungkan kembali cara penghayatannya.
Sebaliknya, agama yang membuat manusia semakin rendah hati, semakin adil, semakin kasih, semakin menghargai kehidupan dan semakin bertanggung jawab terhadap sesama manusia menunjukkan bahwa agama tersebut telah masuk ke wilayah kesadaran, bukan hanya wilayah identitas.
Kesadaran Sebagai Jalan Menuju Keniscayaan
Maka, bagi saya, persoalan terbesar manusia bukanlah:
“Agama siapa yang paling benar?”
Tetapi:
“Seberapa sadar manusia memahami kebenaran yang diyakininya?”
Sebab manusia dapat mewarisi agama tanpa memahami maknanya.
Manusia dapat menghafal doktrin tanpa memahami substansinya.
Manusia dapat rajin menjalankan ritual tetapi masih dikuasai ego.
Manusia juga dapat memiliki keyakinan yang sangat kuat tetapi tidak memiliki kesadaran untuk memahami keberadaan manusia lainnya.
Karena itu, saya melihat bahwa KESADARAN dan KECERDASAN merupakan dua instrumen penting manusia dalam perjalanan memahami KEBENARAN.
Kesadaran membuat manusia mampu melihat dirinya.
Kecerdasan membuat manusia mampu memahami.
Keduanya kemudian membawa manusia kepada sikap yang lebih netral dalam melihat perbedaan.
Bukan netral dalam arti tidak mempunyai keyakinan.
Tetapi netral dalam arti tidak dikuasai ego untuk memaksakan keyakinannya kepada manusia lain.
Agama Sebagai Aturan Gawe Manusia
Dalam memperluas perspektif tentang agama, menarik pula mencermati pemikiran Dicky Zainal Arifin, yang memaknai kata AGAMA sebagai singkatan dari “Aturan GAwe MAnusia.”
Ungkapan ini tentu bukan pengertian etimologis yang menjadi kesepakatan dalam kajian bahasa, melainkan sebuah tafsir atau pemaknaan filosofis terhadap kata “agama”. Dalam sejumlah materi yang memuat pandangan Dicky Zainal Arifin, agama dijelaskan sebagai aturan yang mengarahkan manusia dalam menjalani kehidupannya, termasuk hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan Sang Pencipta.
Bagi saya, pemikiran tersebut menarik apabila ditempatkan dalam pembahasan mengenai KESADARAN.
Sebab apabila agama hanya dipahami sebagai sekumpulan nama, identitas, simbol, ritual dan doktrin, maka seseorang dapat merasa telah beragama hanya karena memiliki identitas keagamaan.
Namun apabila agama dimaknai sebagai Aturan Gawe Manusia, maka pertanyaan yang muncul menjadi lebih mendasar:
“Sudah menjadi manusia seperti apakah kita setelah beragama?”
Pertanyaan ini justru membawa agama dari wilayah identitas menuju wilayah perilaku.
Agama tidak berhenti pada apa yang diyakini, tetapi terlihat pada bagaimana manusia memperlakukan manusia lainnya.
Agama tidak berhenti pada ritual, tetapi terlihat pada bagaimana manusia memperlakukan alam.
Agama tidak berhenti pada ucapan tentang Tuhan, tetapi terlihat pada bagaimana manusia menjalankan kehidupannya sebagai makhluk ciptaan Tuhan.
Dalam salah satu tulisan yang mengutip pemikiran Dicky Zainal Arifin, “Aturan Gawe Manusia” dikaitkan dengan tujuan membangun hubungan baik antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan Sang Pencipta. Tulisan tersebut juga menekankan pentingnya menurunkan ego, memaklumi orang lain dan memahami perbedaan pemikiran.
Menurut saya, gagasan ini mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan konsep KENETRALAN dan KESADARAN.
Seseorang yang sadar terhadap keberagamaannya seharusnya memahami bahwa agama bukan hanya alat untuk mengatakan:
“Saya benar dan kamu salah.”
Tetapi agama seharusnya menjadi jalan untuk bertanya kepada diri sendiri:
“Apakah saya sudah benar dalam menjadi manusia?”
Karena ukuran keberagamaan pada akhirnya tidak hanya dapat dilihat dari seberapa banyak seseorang berbicara tentang Tuhan, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan sesama manusia.
Kalau seseorang mengaku beragama tetapi kehidupannya dipenuhi kebencian, permusuhan, penghinaan, kesombongan dan keinginan untuk merendahkan manusia lain, maka perlu dipertanyakan apakah agama tersebut telah benar-benar masuk ke dalam kesadarannya atau baru berhenti pada identitas dan doktrin.
Di sinilah pemikiran “Agama sebagai Aturan Gawe Manusia” menjadi menarik.
Agama dipahami bukan sekadar sebagai sesuatu yang membuat manusia merasa menjadi bagian dari kelompok tertentu, tetapi sebagai aturan untuk membentuk manusia menjadi manusia.
Manusia yang sadar bahwa dirinya hidup bersama manusia lain akan memahami bahwa perbedaan merupakan bagian dari kehidupan.
Manusia yang sadar bahwa dirinya bergantung kepada alam akan memahami pentingnya menjaga alam.
Dan manusia yang sadar bahwa dirinya adalah makhluk ciptaan Tuhan akan memahami keterbatasan dirinya.
Dengan demikian, agama dapat dilihat sebagai sebuah jalan pembentukan kesadaran manusia.
Namun demikian, perlu diberi catatan bahwa pemaknaan “AGAMA = Aturan GAwe MAnusia” merupakan interpretasi filosofis tertentu, bukan pengertian bahasa yang secara akademik disepakati sebagai asal-usul kata “agama”. Bahkan kajian tentang komunitas Sunda tertentu menunjukkan bahwa ungkapan “aturan gawe manusia” juga digunakan dalam konteks pemaknaan agama sebagai pedoman hidup dan perilaku manusia.
Karena itu, saya melihat ungkapan Dicky Zainal Arifin tersebut bukan terutama sebagai persoalan mencari kepanjangan kata AGAMA, tetapi sebagai sebuah pertanyaan tentang hakikat keberagamaan manusia:
Apakah agama hanya sesuatu yang dipercayai manusia, atau agama juga harus menjadi sesuatu yang dikerjakan manusia?
Sebab kata “gawe” sendiri mengandung dimensi tindakan.
Beragama berarti melakukan.
Beragama berarti menjalankan.
Beragama berarti membentuk perilaku.
Beragama berarti membangun hubungan.
Dan beragama berarti menjadikan keyakinan sebagai kesadaran yang hadir dalam kehidupan.
Pada akhirnya, mungkin inilah titik temu antara AGAMA, KESADARAN, KECERDASAN dan KENETRALAN.
Kesadaran membuat manusia memahami siapa dirinya.
Kecerdasan membuat manusia mampu memahami apa yang diyakininya.
Agama memberikan pedoman bagi manusia dalam menjalankan kehidupannya.
Sedangkan kenetralan membuat manusia mampu menghadapi perbedaan tanpa harus kehilangan keyakinannya sendiri.
Dengan cara pandang seperti ini, keberagamaan tidak lagi sekadar persoalan “agama apa yang saya anut?”, tetapi berkembang menjadi pertanyaan yang jauh lebih dalam:
“Manusia seperti apa yang saya bentuk melalui agama yang saya anut?”
Dan mungkin di situlah agama menemukan makna terdalamnya sebagai Aturan Gawe Manusia—bukan sekadar aturan untuk membuat manusia menjadi pemeluk suatu identitas agama, tetapi aturan yang mengarahkan manusia untuk belajar menjadi manusia yang sadar, berakal, berperikemanusiaan, menghormati kehidupan dan bertanggung jawab kepada Sang Pencipta.
Penutup : Kebenaran, Agama dan Keniscayaan
Pada akhirnya, saya melihat bahwa perbedaan agama merupakan salah satu kenyataan terbesar dalam perjalanan kebudayaan manusia.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa manusia mempunyai sejarah, budaya, pengalaman dan tingkat kesadaran yang berbeda-beda dalam memahami kehidupan dan realitas transenden.
Namun perbedaan agama tidak harus menjadi alasan untuk saling membenci.
Justru perbedaan dapat menjadi ruang bagi manusia untuk menguji kedalaman kesadarannya sendiri.
Saya meyakini agama sebagai jalan manusia mencari makna dan kebenaran.
Tetapi saya juga menyadari bahwa manusia bukan Kebenaran Absolut itu sendiri.
Manusia hanyalah makhluk yang sedang mencari, memahami dan menjalani kebenaran.
Karena itu, semakin tinggi kesadaran seseorang, seharusnya semakin tinggi pula kemampuannya untuk memaklumi keberadaan manusia lainnya.
Memaklumi bukan berarti kehilangan iman.
Menghormati bukan berarti kehilangan keyakinan.
Berdialog bukan berarti menggadaikan agama.
Dan bersikap netral terhadap perbedaan bukan berarti tidak memiliki prinsip.
Justru di situlah mungkin letak kedewasaan manusia:
meyakini apa yang diyakininya sebagai kebenaran, tetapi tetap menyadari bahwa dirinya adalah manusia yang sedang memahami Kebenaran.
Sebab jika Kebenaran Absolut benar-benar merupakan suatu KENISCAYAAN, maka keberadaan Kebenaran tersebut tidak akan bergantung kepada ego manusia yang mengaku paling mengetahui-Nya.
Dan mungkin, perjalanan manusia beragama bukanlah perjalanan untuk memenangkan agama seseorang atas agama orang lain, melainkan perjalanan kesadaran untuk menemukan makna terdalam dari keberadaan manusia, Tuhan, kehidupan dan Kebenaran itu sendiri.
—
Referensi Pustaka
-
Armstrong, Karen. A History of God: The 4,000-Year Quest of Judaism, Christianity and Islam. New York: Alfred A. Knopf, 1993. Kajian sejarah perkembangan gagasan tentang Tuhan dalam tradisi monoteistik.
-
James, William. The Varieties of Religious Experience: A Study in Human Nature. Edinburgh Gifford Lectures, 1901–1902; pertama kali diterbitkan 1902. Karya penting dalam psikologi agama yang menempatkan pengalaman keagamaan individual sebagai objek kajian utama.
-
Hick, John. An Interpretation of Religion: Human Responses to the Transcendent. Palgrave Macmillan. Buku penting dalam filsafat agama dan teori pluralisme agama.
-
Smart, Ninian. Dimensions of the Sacred: An Anatomy of the World’s Beliefs. University of California Press, 1996. Membahas berbagai dimensi agama dan sistem keyakinan manusia, termasuk doktrin, ritual, pengalaman, etika dan dimensi sosial.
-
Al-Qur’an, QS. Ali ‘Imran [3]:19, mengenai agama di sisi Allah.
-
Al-Qur’an, QS. Al-Baqarah [2]:256, mengenai tidak adanya paksaan dalam agama.
-
Dicky Zainal Arifin, Novel Arkhytirema.
