
Hadirnya media bukan hanya sebagai sarana hiburan saja, tetapi sebagai sistem yang memproduksi dan menyebarkan makna, dimana media tidak pernah memiliki sifat yang netral dan selalu membawa ideologi tertentu mengenai gender, kekuasaan, dan identitas (Perry & Kurniawan, 2025). Melalui narasi yang telah dibuat, karakter, dan citra visual, sebuah film dapat berkontribusi untuk menentukan bagaimana perempuan “seharusnya” bersikap, tampil, dan dinilai oleh masyarakat. Salah satu film yang dengan tajam memotret hal tersebut ialah film Mean Girls (2004) Garapan Mark Waters yang ditulis oleh Tina Fey, dengan style sebuah satire atas dinamika sosial remaja perempuan di sekolah menengah akhir. Film ini menceritakan Cady Heron, seorang remaja perempuan yang sebelumnya merupakan homeschooling dan tinggal di Afrika, lalu masuk ke lingkungan sekolah baru yang dikuasai oleh kelompok populer bernama The Plastics, dimana tempat tekanan sosial dan persaingan atas standar kecantikan begitu kentara (Febiola, 2025). Di balik kemasan komedinya, film ini menunjukan bagaimana sebuah kecantikan dan popularitas dapat dijadikan sebagai tolak ukur nilai seorang perempuan (Perry & Kurniawan, 2025). Isu ini sangatlah penting untuk dibahas karena standar serupa tidak berhenti di layer, tetapi turut membentuk bagaimana perempuan muda atau perempuan remaja dapat memahami diri mereka sendiri, termasuk di Indonesia pada era media sosial. Esai ini memiliki tujuan untuk menganalisis konstruksi gender dalam film Mean Girls dan mengaitkannya dengan kondisi perempuan muda Indonesia dengan lensa media dan gender.
Dalam film tersebut, geng perempuan popular “The Plastics” yang berisikan anggota Regina George, Gretcheen Wieners, dan Karen Smith, dihadirkan sebagai personafikasi feminitas ideal sekaligus kelompok elit yang dijuluki “teen royalty” di North Shore High School) (Kaplan, 2019). Regina, yang merupakan leader dari geng tersebut digambarkan sebagai perempuan yang langsing, berambut pirang, dan dianggap cantik berdasarkan standar kecantikan Barat, dimana hal itu yang membuat karakter Regina memiliki otoritas yang menyertainya dan mendominasi sekolah (Kaplan, 2019). Kecantikannya bahkan dipuji sebagai kesempurnaan dimana karakter tersebut kerap disebut “flawless” dan juga dipertegas oleh kekayaan nya seperti tas Fendi, dan berbagai koleksi pakaian, sehingga penampilan serta status nya menjadi sumber kuasanya (Perry & Kurniawan, 2025). Hal tersebut yang membuat identitas perempuan dalam film ini terikat erat dengan kecantikan, penampilan, dan citra konsumtif.
Standar kecantikan dalam film ini hadir dengan sangat spesifik, dimana terdapat aturan dalam geng tersebut bahwa sebuah keharusan untuk mengenakan warna merah muda setiap hari rabu dan terdapat beberapa ketentuan berpakaian lain yang wajib untuk dipatuhi (Febiola, 2025). Terlebih lagi, terdapat beberapa scene dalam film tersebut, dimana kamera kerap menempatkan tubuh perempuan sebagai objek tontonan, seperti ketika karakter Cady disorot ketika adegan berjalan di koridor, yang menegaskan bekerjanya istilah “male gaze”, ketika tubuh perempuan diposisikan sebagai objek pandangan alih-alih subjek yang otonom (Perry & Kurniawan, 2025).
Popularitas dalam film ini sangatlah menarik dikarenakan hal tersebut bekerja sebagai semacam mata uang sosial. Cady, yang semula polos dan justru menyukai matematika, yang perlahan menyimpang dari ekspektasi gender, mulai mengubah penampilan dan perilakunya demi mendapatkan pengakuan hingga dinilai sebagai “tiruan Regina” (Kaplan, 2019; Perry & Kurniawan, 2025). Selain itu, yang juga menonjol ialah stereotip relasi antarperempuan, dimana alih-alih menunjukan solidaritas, film ini menyuguhkan adanya persaingan, gosip, dan sabotase yang dipuncaki oleh “Burn Book”, sebuah buku yang berisi hinaan terhadap sesama siswi berdasarkan penampilan, riwayat seksual, dan orientasi (Kaplan, 2019). Hal in sejalan dengan konsep female catfighting, yaitu representasi perempuan sebagai sosok yang secara alamiah cemburu, kompetitif, dan sulit bersolidaritas (Perry & Kurniawan, 2025). Melalui narasi yang seperti inilah media merepresentasikan remaja perempuan bukan sebagai individu utuh, tetapi sebagai sosok yang nilainya bergantung pada penilaian orang lain atas tubuh dan daya tariknya.
Apa yang ditunjukan oleh film Mean Girls bukanlah suatu persoalan yang asing bagi perempuan muda Indonesia. Standar kecantikan global dengan beberapa karakteristik seperti berkulit cerah, bertubuh langsing, dan berpenampilan “sempurna”, turut diinternalisasi oleh kalangan perempuan muda di Indonesia, hingga munculnya dilemma identitas dan apa yang disebut kolonialisasi tubuh, yaitu tunduknya tubuh perempuan pada ukuran ideal yang berasal dari luar dirinya (Nabila & Bakhri, 2025). Hadirnya era digital dan penggunaan sosial media, standar tersebut telah disebarkan dan diperkuat melalui media sosial, hingga diksi “cantik”, hingga semakin homogen dan lekat dengan ekpektasi gender (Irdianti, 2025).
Kini, media sosial kerap menjadi turut menjdi ruang dan berkembangnya body shaming. Berbagai komentar yang bersifat merendahkan fisik wanita, misogini digital, dan penerapan standar ganda kerap mewarnai representasi perempuan di platform daring (Putri et al., 2025). Fenomena ini menjadi salah satu isu yang dapat menandai gelombang keempat feminism di Indonesia, ketika perempuan menyuarakan penolakan terhadap body shaming melalui media sosial media (Soleman & Elindawati, 2019). Hal tersebut dapat berdampak secara psikologis, dimana intensitas penggunaan media sosial yang dapat mendorong perbandingan diri (social comparison) dan objektivikasi diri, yang berkaitan dengan meningkatnya ketidakpuasan terhadap tubuh (body dissatisfaction) pada perempuan dewasa awal (Nugroho et al., 2025). Pola yang serupa dapat terlihat pada perempuan muda, ketika body shaming berhubungan dengan ketidakpuasan tubuh) (Widayaka et al., 2025) serta menurunnya harga diri pada kalangan perempuan muda yang merasa dirinya tidak “sempurna” (Angelina et al., 2021). Logika yang menjadi objek kritik dalam film Mean Girls, yaitu kecenderungan menilai perempuan berdasarkan penampilan fisik dan tingkat penerimaan sosialnya, masih tercermin dalam kehidupan sehari-hari perempuan muda di era media sosial. Tuntutan untuk tampil canti, popular, dan sesuai dengan ekspektasi sosial tidaklah terbatas hanya pada dinamika “Girl World” yang ditampilkan dalam film Mean Girls. Tetapi juga dapat hadir dalam realitas kehidupan sehari-hari perempuan muda melalui media sosial yang turut memperkuat terkanan tersebut.
Jika representasi dalam film Mean Girls dilihat dengan kondisi perempuan muda Indonesia, menunjukan pola yang serupa, dimana nilai perempuan sering kalo dipersempit pada aspek penampilan fisik dan pengakuan sosial. Yang dilihat di layar seperti obsesi pada tubuh, popularitas, dan persaingan antar satu dengan lainnya justru menjadi pengalaman sehari-hari mayoritas perempuan muda Indonesia, terutama dengan hadirnya media sosial (Nabila & Bakhri, 2025; Nugroho et al., 2025). Hal ini mengingatkan bahwa peran media tidak hanya sekadar memantulkan realitas, tetapi secara aktif memproduksi makna tentang feminitas dan kekuasaan melalui narasi, citra, dan simbol (Hall, 1997). Penggambaran gender dalam film remaja tidaklah tontonan netral, dimana paparan terhadapnya berkaitan dengan sikap dan keyakinan berbasis gender pada penonton dewasa (Behm-Morawitz & Mastro, 2008). Hal itulah yang membuat film Mean Girls tetap relevan meski dirilis pada 2004, ditambahkan dengan remake nya pada 2024 dengan elemen ikonik yang nyaris sama menunjukan betapa lestarinya budaya yang dikritiknya (Febiola, 2025). Kekuatan sekaligus kelemahan film ini terletak pada kemasan komedi yang terdapat di dalam film tersebut karena persaingan antarperempuan dikonstruksikan sebagai sesuatu yang lucu dan wajar sehingga mudah diterima penonton, padahal pemberdayaan yang ditawarkan masih cenderung dangkal karena tetap mereproduksi nilai-nilai patriarkal yang mengukur perempuan melalui penampilan, popularitas, dan penerimaan sosial (Perry & Kurniawan, 2025).
Terdapat berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak konstruksi tersebut. perempuan muda atau remaja perempuan masih perlu untuk memperkuat literasi media agar dapat menyortir pesan film ataupun konten media sosial secara kritis dan menyadari bahwa standar kecantikan yang ditampilkan ialah konstruksi dan bukan kebenaran alamiah (Irdianti, 2025). Adanya edukasi mengenai body positivity dan body neutrality sangatlah esensial untuk menggeser fokus dari penampilan ke fungsi dan kesehatan tubuh, sekaligus diharapkan dapat melawan normalisasi body shaming (Putri et al., 2025). Diperlukannya menghadirkan representasi perempuan yang lebih beragam dari industry media serta berani menantang citra feminitas ideal, sehingga perempuan tidak melulu dinilai dari tubuh dan daya tariknya (Sheridan, 2025). Adanya penggunaan medial sosial yang bijak dan reflektif dapat mendorong terbentuknya wadah untuk menyuarakan isu-isu perempuan yang mendukung keberagaman tubuh dan menentang praktik diskriminatif terkait penampilan fisik (Soleman & Elindawati, 2019). Pada akhirnya, kesadaran bahwa perempuan bernilai lebih dari sekadar penampilan dan popularitas masih perlu terus ditumbuhkan.
Film Mean Girls menunjukan bagaimana kecantikan dan popularitas dikonstruksi sebagai tolak ukur nilai perempuan, dimana ditunjukan dengan standar tubuh dan eksklusif, objektifikasi melalui male gaze, dan stereotip persaingan antarperempuan. Fenomena serupa juga terlihat masih dialami oleh perempuan muda Indonesia melalui tekanan standar kecantikan dan body shaming di berbagai platform media sosial. Kondisi ini menunjukan bahwa isu gender dalam film Mean Girls masih tetap relevan hingga sekarang dan menuntut kesadaran kritis terhadap peran media dalam membentuk perspektif masyarakat tentang perempuan.
Sumber
Angelina, P., Christanti, F. D., & Mulya, H. C. (2021). GAMBARAN SELF-ESTEEM REMAJA PEREMPUAN YANG MERASA IMPERFECT AKIBAT BODY SHAMING.
Behm-Morawitz, E., & Mastro, D. E. (2008). MEAN GIRLS? THE INFLUENCE OF GENDER PORTRAYALS IN TEEN MOVIES ON EMERGING ADULTS’ GENDER-BASED ATTITUDES AND BELIEFS.
Febiola, R. (2025). A COMPARATIVE STUDY OF CHARACTERS IN MEAN GIRLS (2004) AND MEAN GIRLS (2024). Scripta: Jurnal Ilmiah Mahasiswa, 7(3), 74–92. https://doi.org/10.33019/zhgxz249
Hall, S. (1997). S.Hall, The work of Representation.
Irdianti. (2025). Kecantikan di Era Digital: Tinjauan Literatur tentang Standar Gender dalam Media Sosial. In Indonesian Journal of Social and Educational Studies (Vol. 6, Number 1).
Kaplan, A. (2019). “Stop Trying to Make Fetch Happen”: The Disempowerment of Women’ s Voices in the Film Mean Girls (Vol. 3).
Nabila, A. Z., & Bakhri, S. (2025). DILEMA IDENTITAS DAN KOLONIALISASI TUBUH: ANALISIS SOSIOLOGI STANDAR KECANTIKAN GLOBAL PADA PEREMPUAN GENERASI Z DI INDONESIA. SABANA: Jurnal Sosiologi, Antropologi, Dan Budaya Nusantara, 4(3), 497–508. https://doi.org/10.55123/sabana.v4i3.7338
Nugroho, A. P. A., Santi, D. E., & Kusumandari, R. (2025). Body Dissatisfaction pada Perempuan Dewasa Awal Ditinjau dari Intensitas Penggunaan Media Sosial dan Peran Objektifikasi Diri.
Perry, A. R., & Kurniawan, E. (2025). Cinematology: Journal Anthology of Film and Television Studies Female Catfight in Mark Waters’ Mean Girls (2004). Cinematology: Journal Anthology of Film and Television Studies, 5(3), 163–174. https://doi.org/10.17509/ftv-upi.v5i3.91227
Putri, A. F., Krisbiyantoro, P. L., Marhaeni, T., & Astuti, P. (2025). REPRESENTASI PEREMPUAN DI MEDIA SOSIAL DALAM ANALISIS GENDER ATAS BODY SHAMING, MISOGINI DIGITAL, DAN STANDAR GANDA.
Sheridan, S. L. (2025). Girls on Film: Subverting Ideal Femininities.
Soleman, N., & Elindawati, R. (2019). Fourth Wave Feminism in Indonesia: Body Shaming Through Social Media Phenomenon.
Widayaka, G. V., Meiyuntariningsih, T., & Ramadhani, H. S. (2025). Body Shaming dengan Body Dissatisfaction pada Remaja Perempuan.