Maternal Sacrifice dalam Sinema Horor Indonesia “Alas Roban”

Sinema horor telah menjadi identitasú yang melekat dalam industri perfilman Indonesia. Menurut data yang dirilis oleh goodstats genre ini mendominasi sekitar 40,16% dari keseluruhan total produksi film nasional pada tahun 2023. Film horor tidak lagi sekadar mengeksploitasi kemunculan makhluk halus demi memicu rasa takut penonton, tetapi genre ini menjadi cermin yang mencerminkan realitas sosial, hingga tatanan domestik masyarakat kita. Pola yang sering kali diadopsi oleh para pembuat film horor lokal adalah penempatan figur perempuan sebagai pusat dari konflik. Dalam film horor, perempuan kerap kali diposisikan di antara dua hal yakni sebagai sosok pembawa teror akibat balas dendam masa lalu, atau justru sebagai korban tak berdaya atas kejahatan.

Pandangan ini selaras dengan konsep abjection, yaitu kondisi ketika sesuatu dianggap melanggar batas-batas sosial, moral, atau budaya yang telah ditetapkan sehingga menimbulkan perasaan takut, tidak nyaman, maupun jijik. Dalam film horor, konsep ini sering digunakan untuk merepresentasikan perempuan yang dianggap keluar dari norma atau peran gender yang ideal. Akibatnya, sosok perempuan tersebut dikonstruksikan sebagai figur yang mengancam, menakutkan, sekaligus memunculkan rasa jelek bagi penonton.

Konstruksi yang menempatkan ibu sebagai martir tercermin dalam film yang berjudul “Alas Roban”. Sebelum jauh, penulis ingin memperkenalkan terlebih dahulu sedikit perihal film karya anak bangsa ini. Film horor Alas Roban disutradarai oleh Hadrah Daeng Ratu dan diangkat dari kisah nyata yang berkembang menjadi urban legenda di Jawa Tengah. Diproduksi pada tahun 2025 dan dirilis di bioskop pada 15 Januari 2026, Alas Roban mengisahkan perjalanan seorang ibu tunggal (Sita) yang diperankan oleh Michelle Ziudith demi mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dan memberikan kehidupan yang lebih baik bagi anaknya yang mengalami kebutaan, ia memutuskan untuk merantau ke luar kota. Namun, perjalanan tersebut justru membawa pada berbagai peristiwa mistis yang berkaitan dengan legenda Alas Roban. Puncak dari penderitaan tersebut terlihat pada ending film, di mana sang ibu harus merelakan nyawanya dan membiarkan arwahnya terjebak di alam gaib selamanya demi menyelamatkan anaknya yang tersesat agar tetap hidup.

Apa sebenarnya definisi ibu ideal yang dikenal masyarakat kita?

Salsabila, salah satu informan yang diwawancarai penulis minggu lalu, memandang bahwa ibu ideal adalah sosok yang memberikan seluruh waktunya kepada anak, memusatkan perhatian secara maksimal, dan rela berkorban demi kepentingan serta kesejahteraan anak. Dalam kajian gender, gagasan mengenai “ibu yang baik” bukanlah sesuatu yang tumbuh secara alami atau alami, melainkan lahir dari sebuah konstruksi sosial yang dibentuk oleh budaya patriarki. Masyarakat mendikte bahwa ukuran kelayakan seorang perempuan baru mencapai batas ideal ketika ia bersedia menomorduakan dirinya, menderita, atau bahkan hancur demi anak-anaknya. Mitos keibuan (mitos keibuan) inilah yang melahirkan pengorbanan seorang ibu. Film Alas Roban memperkuat konstruksi tersebut dengan memberikan beban ganda kepada karakter utama sejak awal cerita. Sebagai orang tua tunggal dengan anak berkebutuhan khusu, karakter utama dalam film diharuskan memikul tanggung jawab keluarga sendirian.

Konsep pengorbanan ibu Merujuk pada Tindakan seorang ibu yang menempatkan kebutuhan, keselamatan, dan kesejahteraan anak melebihi kepentingan dirinya sendiri, bahkan ketika hal tersebut membutuhkan pengorbanan yang besar. Di satu sisi, konsep ini sering diartikan sebagai wujud cinta tertinggi seorang perempuan. Namun di sisi lain, pengorbanan ibu justru kerap memikat karakter perempuan ke dalam narasi yang eksploitatif dan tidak adil.

Hal yang paling ekstrim dan mengerikan dalam film ini justru tidak datang dari teror hantunya, melainkan dari hilangnya “kebebasan diri” dalam tokoh utama film itu sendiri. Ketika karakter yang diperankan oleh michelle ziudith memilih mati menyerahkan nyawanya dan terjebak di alam gaib selamanya, film ini justru sedang meromantisasi penderitaan perempuan. Sang ibu yang diceritakan sudah menderita sejak awal, sampai akhir cerita dia lagi-lagi harus kehilangan dirinya sendiri. Seolah-olah tidak ada masa dimana ia menemukan kebebasan atas dirinya. Penonton digiring untuk menangis dan mengagumi tindakan tersebut sebagai “kasih ibu sepanjang masa”. Nyatanya, hal tersebut secara tidak langsung mengamini doktrin patriarki bahwa tubuh, nyawa, dan kebebasan perempuan adalah harga yang “wajar” dibayar demi keberlangsungan hidup generasi penerusnya (anak).

Lalu, bukankah adakah opsi lain bagi para penulis untuk mengubah tatanan yang seringkali dipakai dalam pembuatan film? Yakni dengan menggunakan objek perempuan sebagai hal-hal yang menyeramkan?

Menurut penelitian yang dilakukan oleh The Conversation Indonesia dalam artikelnya menyebutkan, sekitar 60,47% dari total seluruh film horor Indonesia menghadirkan perempuan sebagai sosok hantu utama. Sementara itu, peran utama laki-laki digambarkan sebagai sosok penyelamat seperti ustadz, dukun atau pendeta yang bertugas menyelamatkan dari serangan hantu. Adanya ketimpangan gender yang membuat perempuan sering dikaitkan dengan sosok yang menyeramkan, padahal berbuat baik.

Menurut penuturan Amanda, seorang mahasiswi penikmat film horor ia berpendapat bahwa penggambaran perempuan sebagai hantu dan laki-laki sebagai penyelamat dalam film horor cenderung kurang adil. Menurutnya, representasi tersebut dapat memperkuat stereotip bahwa perempuan identik dengan sosok yang menakutkan, lemah, atau selalu berada pada posisi yang membutuhkan pertolongan. Padahal, perempuan juga dapat digambarkan sebagai tokoh utama yang kuat bahkan berperan sebagai penyelamat

Ketika karakter perempuan terus menerus dihukum menjadi hantu setelah mengalami ketidakadilan selama hidupnya, atau dipaksa menghilang menjadi martir seperti dalam Alas Roban, film-film ini secara tidak langsung melanggengkan status quo. Laki-laki tetap berada pada posisi aman sebagai subjek rasional, pemegang otoritas spiritual (ustaz/pendeta), dan penyelamat keadaan. Sementara perempuan dikunci dalam dikotomi yang sempit, seperti jika tidak menjadi korban yang menderita (ibu yang menderita), maka ia akan menjadi monster yang mengerikan (the monstrous-feminine).

Untuk memutus rantai bias gender ini, para penulis skenario film harus berani merombak narasi lama melalui beberapa langkah. Pertama, penulis perlu memberikan kesempatan kepada karakter perempuan, dengan membentuk mereka menjadi manusia utuh yang rasional, dan tangguh dalam menghadapi teror, bukan sebagai objek pasrah yang tindakan penderita. Konsep “kasih ibu” tidak boleh lagi diidentikkan dengan kehancuran diri, justru sebaliknya, sinema kita perlu memperkenalkan redefinisi baru di mana seorang ibu dan anaknya mampu bertahan hidup bersama hingga akhir cerita tanpa harus menumbalkan nyawa.

Selain itu, kiblat sumber ketakutan harus digeser. Alih-alih mengeksploitasi trauma perempuan menjadi sosok hantu yang mendendam, penulis dapat memposisikan struktur sosial yang menindas, kemiskinan sistemik, atau patriarki sebagai monster dalam cerita. Terakhir, dominasi figur penyelamat laki-laki seperti ustadz atau dukun yang selalu datang sebagai pahlawan di menit-menit akhir harus direkonstruksi. Dengan memberikan peran yang setara kepada karakter perempuan, sinema horor Indonesia tidak hanya akan melahirkan alur cerita yang lebih baik dan diakui secara global, tetapi juga berhenti menjadi alat legitimasi yang meromantisasi kebohongan terhadap perempuan.

Pada akhirnya, film Alas Roban menjadi contoh konkrit bagaimana sinema horor Indonesia masih terjebak dalam romantisasi penderitaan perempuan atas nama realitas sosial. Pengorbanan ibu yang digambarkan dengan begitu mengharu biru pada dasarnya adalah bentuk pembenaran terselubung terhadap ketimpangan gender yang mapan di masyarakat.

Sudah tiba saatnya jikalau masa perfilman Indonesia berbenah. Menolak menempatkan perempuan sebagai objek yang menyeramkan atau martir yang malang bukanlah upaya memperlemah genre horor, melainkan langkah-langkah yang patut diambil untuk melahirkan cerita yang lebih manusiawi, segar, tanpa adanya bias gender. Karya luar biasa seharusnya bisa menghadirkan berbagai sudut pandang sesuai kenyataan sosial. Tidak hanya dipahami pada stereotip lama, tetapi juga memberikan ruang bagi individu

yang lain. Dengan demikian, film tidak sekadar menjadi hiburan yang digandrungi masyarakat, melainkan juga sebagai sarana refleksi yang mampu mendorong pemahaman lebih baik terhadap representasi gender di benak penonton.

 

Daftar Pustaka

Annissa, Winda Larasati. “Memaksa Ibu Jadi Hantu Wacana Materi Horor Dalam Film Indonesia Kontemporer | Perpustakaan Pascasarjana.” Perpustakaan Pascasarjana, 2022, lib.pasca.isi.ac.id/index.php?p=show_detail&id=5929&keywords=, https://doi.org/978-623-6063-72-9. Diakses 9 Juni 2026. Tim Harian Kompas. “Hantu” Ibu “Dalam Film Horor Indonesia.” Kompas.id, 5 Juli 2023, www.kompas.id/artikel/hantu-ibu-dalam-film-horor. Diakses 12 Juni 2026. Larasati, Annissa Winda, dan Justito Adiprasetio. “Dominasi Hantu Perempuan Dalam Film Horor Indonesia: Bagaimana Patriarki Dalam Budaya Populer Mengontrol Tubuh Perempuan.” The Conversation, 13 Juni 2022, theconversation.com/dominasi-hantu-perempuan-dalam-film-horor-indonesia-bagaimana-patriarki-dalam-budaya-populer-mengontrol-tubuh-perempuan-184770. Marvela, dan Marvela. “Film Alas Roban: Perpaduan Horor Dan Kisah Yang Melegenda.” Tempo, PT Tempo Inti Media, 7 Januari 2026, www.tempo.co/teroka/film-alas-roban-perpaduan-horor-dan-kisah-yang-melegenda-2105285. Diakses 12 Juni 2026. Namira Choirani Fajri. “KETAKUTAN DALAM IMAN: ANALISIS SEMIOTIKA PEIRCE PADA FILM HOROR-RELIGI.” Prosiding Konferensi Linguistik Tahunan Atma Jaya (KOLITA), vol. 23, tidak. 23, 18 September 2025, https://doi.org/10.25170/kolita.v23123.7164. Diakses 13 Oktober 2025. Berita, Tribun. “Monstrous Feminine: Mengapa Perempuan Jadi Sosok Menakutkan Di Film Horor? Tribunnews.com. Tribunnews.com, 3 Nov 2025, www.tribunnews.com/wadidaw/7749847/monstrous-feminine-kenapa-perempuan-jadi-sosok-menakutkan-di-film-horor. Paranta, Velia, dkk. “Citra Perempuan Sebagai Objek Dalam Film Horor. Melek Sintaks; Jurnal Ilmiah Indonesia, vol. 8, tidak. 5, 15 Mei 2023, hlm. 3309-3320, https://doi.org/10.36418/syntax-literate.v8i5.11877. Diakses 7 Mei 2025. Ramadhani, Aulia Fitri, dan Vani Dias Adiprabowo. “Inferioritas Perempuan Dalam Film Perempuan Tanah Jahanam.” Jurnal PIKMA: Publikasi Ilmu Komunikasi Media Dan Sinema, vol. 31 Maret 2023, hlm. 320-336, 2, 5, no. https://doi.org/10.24076/pikma.v5i2.929. Diakses 24 Februari 2026. Regev, Michael. “Monstrous Feminine: Kenapa Perempuan Jadi Sosok Menakutkan Di Film Horor? Tribunnews.com.” Tribunnews.com, 3 November 2025, www.tribunnews.com/wadidaw/7749847/monstrous-feminine-kenapa-perempuan-jadi-sosok-menakutkan-di-film-horor. Reinnia Chintawati, dkk. “Ketimpangan Gender dan Representasi Keluarga dalam Film Andai Ibu Tidak Menikah Dengan Ayah.” SINTHOP Media Kajian Pendidikan Agama Sosial Dan 302-315, Budaya, vol 4 no. 2, 24 Desember 2025, hal. www.researchgate.net/publication/399737310_Gender_Inequality_and_Family_Repre sentation_in_The_Film_Andai_lbu_Tidak_Menikah_Dengan_Ayah, https://doi.org/10.69548/sinthop.v4.12.68.302-315. Ruth Viyadhanu S, dan Ramadhani Nur A. “Menilik Potensi Global Film Horor Di Indonesia.” Website Resmi Universitas Airlangga, 16 April 2024, unair.ac.id/menilik-potensi global-film-horor-di-indonesia/.

 

Writer: Nafisa Putri SalsabilaEditor: fitraamira
Exit mobile version