Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi UNESA menggelar sosialisasi pemberdayaan masyarakat di Balai Desa Tambak Cemandi, Sidoarjo — memadukan penyuluhan pencegahan penyakit menular dengan penguatan branding desa melalui media digital interaktif.

Para pemateri dan panitia di sesi pembukaan kegiatan sosialisasi, Balai Desa Tambak Cemandi, Sedati, Sidoarjo — 21 Juni 2026. (Foto: Dokumentasi Tim)
SIDOARJO — Balai Desa Tambak Cemandi, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo menjadi saksi kegiatan pemberdayaan masyarakat yang digagas oleh mahasiswa Program Studi S1 Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Sabtu (21/6/2026). Kegiatan yang berlangsung penuh antusias ini merupakan implementasi nyata dari mata kuliah Rekayasa Sosial, mata kuliah berbasis proyek yang mengharuskan mahasiswa turun langsung ke tengah komunitas.
Bertema “Pemberdayaan Masyarakat melalui Edukasi Kesehatan dan Penguatan Potensi Lokal Menuju Desa Sehat dan Berdaya Saing,” kegiatan ini menggabungkan dua agenda strategis: edukasi kesehatan kepada warga dan pelatihan branding gerakan kesehatan.
Rekayasa Sosial: Lebih dari Sekadar Teori
Mata kuliah Rekayasa Sosial merupakan mata kuliah wajib di Program Studi S1 Ilmu Komunikasi UNESA, khususnya peminatan Communication Development. Dengan pendekatan berbasis proyek, mahasiswa tidak hanya duduk di kelas, mereka dituntut untuk menganalisis masalah sosial nyata, merancang program komunikasi, mengimplementasikannya di lapangan, hingga menyusun laporan evaluasi secara menyeluruh.
Dua Agenda Strategis: Kesehatan dan Branding Lokal
Sesi pertama kegiatan menghadirkan Dr. Rizky Patria Nevangga, M.Or., yang menyampaikan materi seputar pencegahan penyakit menular. Sebagai desa pesisir, Tambak Cemandi memiliki kerentanan terhadap penyakit berbasis lingkungan. Warga mendapat edukasi tentang pola hidup sehat, deteksi dini dan langkah pencegahan yang dapat dilakukan secara mandiri dalam kehidupan sehari-hari.
Sesi kedua dipandu oleh Muh. Arrifudin Isa, S.Sn., M.Sn., yang membahas strategi branding desa. Materi ini dirancang khusus untuk membantu pelaku usaha lokal, terutama pengelola BUMDes dalam membangun identitas visual yang kuat dan memanfaatkan media sosial sebagai alat promosi yang efektif.
atas: Foto bersama mahasiswa UNESA dan peserta.
bawah: Peserta menunjukkan poster “Waspada Penyakit Campak” yang diunggah ke WhatsApp Story.
Pre-Test, Post-Test, dan Gerakan Upload Story
Kegiatan ini tidak berhenti pada penyampaian materi. Seluruh peserta diarahkan untuk mengerjakan pre-test dan post-test sebagai alat ukur peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah sesi berlangsung, serta mengisi formulir evaluasi kegiatan. Hasilnya akan menjadi bahan laporan evaluasi formatif dan sumatif yang disusun oleh mahasiswa sebagai bagian dari penilaian mata kuliah.
Yang menarik, peserta terutama ibu-ibu warga desa, mendapat tugas khusus: mengunggah poster edukasi penyakit menular ke WhatsApp Story masing-masing. Langkah sederhana ini dirancang sebagai bentuk peer-to-peer health communication, menyebarkan informasi kesehatan melalui jaringan pertemanan dan keluarga secara organik dan menjangkau lebih banyak orang tanpa biaya.
“Ini bukan sekadar tugas kuliah. Kami ingin ilmu yang mahasiswa kami punya bisa benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat desa. Kalau satu orang bisa mengedukasi satu orang lain lewat story WhatsApp-nya, bayangkan berapa banyak orang yang bisa teredukasi dalam satu hari.”
— Dr. Anam Miftakhul Huda, S.I.Kom., M.I.Kom., Koordinator Program Studi S1 Ilmu Komunikasi UNESA
Kolaborasi UNESA dan Masyarakat Pesisir
¾Kegiatan ini merupakan bagian dari program kolaborasi strategis antara UNESA dan KADER Kesehatan Desa Tambak Cemandi dalam skema Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Dana Non-APBN UNESA, dengan payung program Pendampingan BUMDes dalam Pengembangan Branding Desa Wisata melalui Edukasi Kesehatan dan Keselamatan Berbasis Media Digital Interaktif.
Dengan serangkaian kegiatan pendampingan lanjutan yang mencakup pelatihan pengelolaan media digital, pengembangan konten promosi lokal, dan pendampingan penguatan kapasitas BUMDes. Sinergi antara dunia akademik dan masyarakat seperti ini diharapkan menjadi model kerja sama yang berkelanjutan demi mewujudkan Desa Tambak Cemandi sebagai desa sehat dan berdaya saing.