
Novi menjelaskan bahwa di era globalisasi, akses terhadap sumber literasi semakin mudah dan cepat. Namun, kemudahan tersebut tetap membutuhkan perpustakaan sebagai wadah pengelolaan, kurasi, dan validasi informasi agar dapat dipertanggungjawabkan. “Perpustakaan hadir bukan hanya untuk menyediakan buku, tetapi juga menyediakan referensi yang dapat dipastikan kebenaran serta mutunya,” ujarnya. Dengan demikian, perpustakaan tetap menjadi rujukan utama, terutama di lingkungan pendidikan tinggi.
Lebih lanjut, Novi menegaskan bahwa modernisasi layanan perpustakaan harus berjalan seiring perkembangan teknologi informasi. Perpustakaan kini harus memfasilitasi kebutuhan pengguna melalui katalog digital, e-journal, repository institusi, hingga layanan literasi digital. Transformasi ini membutuhkan inovasi berkelanjutan agar perpustakaan tetap relevan dan adaptif. “Kita harus memastikan pemustaka dapat mengakses sumber ilmu dari mana saja dan kapan saja,” tambahnya.
Meski demikian, Novi menilai bahwa peningkatan layanan tidak akan tercapai tanpa dukungan anggaran yang memadai. Ketersediaan alokasi dana untuk perpustakaan harus disesuaikan dengan kebutuhan pengembangan sarana, koleksi, teknologi, dan peningkatan kapasitas SDM. Menurutnya, perpustakaan harus dipandang sebagai investasi strategis dalam pembangunan intelektual kampus. “Anggaran yang memadai merupakan fondasi layanan perpustakaan yang berkualitas,” tuturnya.
Novi juga menyoroti bahwa peran pimpinan lembaga sangat penting dalam memajukan perpustakaan. Tanpa perhatian dan keseriusan dari pucuk pimpinan, perpustakaan akan sulit berkembang optimal. Ia menekankan perlunya penegakan komitmen dalam kebijakan, perencanaan, maupun implementasi pengelolaan perpustakaan agar visi pengembangan institusi berjalan selaras.
Selain pimpinan, Novi menilai kolaborasi dengan seluruh stakeholder kampus, termasuk dosen, mahasiswa, unit akademik, dan lembaga riset, juga memiliki posisi strategis. Perpustakaan harus menjadi bagian dari ekosistem akademik yang saling menguatkan, bukan sekadar pelengkap administratif. “Semua pihak perlu memandang perpustakaan sebagai jantung institusi akademik,” jelasnya.
Ia berharap ke depan, terkhusus perpustakaan perguruan tinggi harus semakin mampu menjadi pusat literasi, riset, dan inovasi. Hal ini tentunya di dukung oleh teknologi dan kolaborasi, perpustakaan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan kualitas akademik dan reputasi kampus. “Perpustakaan yang maju akan membawa kemajuan bagi sivitas akademika,” pungkasnya.
Dengan pesan tersebut, Novi mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama meningkatkan kesadaran tentang pentingnya perpustakaan. Di tengah derasnya arus informasi digital, keberadaan perpustakaan tetap menjadi pilar utama dalam menjaga kualitas ilmu pengetahuan. Perpustakaan bukan hanya masa lalu, tetapi bagian terpenting dari masa kini dan masa depan pendidikan.
(Warta baru.Id/BiroSumatera/169)