
Oleh : Freddy Herdian
Dosen Perbankan Syariah
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Datokarama Palu
Geopolitik Memanas, IPO Melemah: MampukahSaham Syariah Jadi Penyangga Pasar Indonesia?
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menguji ketahanan pasar keuangan global. Konflik yang melibatkan Iran dan Israel tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan, tetapi juga memicu efek berantai pada harga energi, inflasi, dan arah investasi dunia.
Dalam situasi seperti ini, respons investor cenderung seragam: menghindari risiko. Fenomena flight to safetymembuat aliran dana berpindah ke aset yang dianggap lebih aman, seperti emas dan dolar AS. Dampaknya terasa langsung pada pasar modal, terutama pada aktivitas penawaran saham perdana (IPO), yang dikenal sebagai salah satu instrumen paling sensitif terhadap ketidakpastian global (Caldara & Iacoviello, 2018).
IPO pada dasarnya adalah refleksi optimisme. Perusahaan melantai di bursa dengan harapan ekspansi, sementara investor membeli saham dengan ekspektasi pertumbuhan. Namun, dalam kondisi geopolitik yang tidak menentu, optimisme tersebut sering kali tergantikan oleh kehati-hatian. Studi menunjukkan bahwa peningkatan risiko geopolitik berkorelasi dengan penurunan aktivitas pasar modal, termasuk IPO (Narayan et al., 2022).
Data dari Bursa Efek Indonesia menunjukkan bahwa pasar IPO Indonesia sempat mengalami pertumbuhan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Tercatat sekitar 51 perusahaan melakukan IPO pada 2020, meningkat menjadi 54 pada 2021, dan mencapai 59 pada 2022. Bahkan pada 2023, jumlahnya melonjak hingga sekitar 79 IPO menjadi salah satu yang tertinggi di kawasan. Namun, memasuki 2024 hingga 2025, tren tersebut mulai melambat seiring meningkatnya tekanan global.
Di tengah perlambatan ini, muncul pertanyaan penting: apakah semua IPO terdampak sama? Atau justru ada segmen tertentu yang lebih tahan terhadap guncangan? Salah satu yang menarik untuk dicermati adalah saham IPO berbasis syariah. Berbeda dengan saham konvensional, saham syariah memiliki karakteristik khusus: berbasis pada aktivitas usaha riil, memiliki batasan utang, dan menghindari praktik spekulatif. Di Indonesia, instrumen ini diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan dan diseleksi berdasarkan kriteria yang ditetapkan oleh Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia.
Karakteristik tersebut bukan sekadar formalitas. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa saham syariah cenderung memiliki volatilitas yang lebih rendah dan lebih tahan terhadap tekanan pasar dibandingkan saham konvensional (Hassan & Girard, 2011; Ho et al., 2014). Dalam konteks geopolitik yang tidak stabil, keunggulan ini menjadi semakin relevan.
Fenomena ini sebenarnya telah lama dijelaskan dalam pemikiran ekonomi klasik. Ibn Khaldunmenekankan bahwa stabilitas ekonomi sangat bergantung pada aktivitas riil, bukan spekulasi. Dalam kondisi pasar global yang saat ini sarat dengan sentimen dan reaksi cepat, prinsip tersebut terasa semakin kontekstual.
Namun, realitas pasar tidak selalu sejalan dengan teori. Di Indonesia, saham IPO termasuk yang berbasis syariah masih sering diperdagangkan secara spekulatif oleh investor ritel yang mengejar keuntungan jangka pendek. Ini menciptakan paradoks: instrumennya berbasis nilai, tetapi perilaku pasarnya belum sepenuhnya mencerminkan prinsip tersebut.
Di sisi lain, dinamika geopolitik juga membuka peluang yang jarang disadari. Ketegangan di Timur Tengah berpotensi mendorong investor dari kawasan tersebut untuk melakukan diversifikasi investasi. Dalam konteks ini, Indonesia dengan ekosistem pasar modal syariahnya memiliki daya tarik tersendiri sebagai tujuan alternatif.
Apalagi, tren global saat ini semakin mengarah pada investasi berbasis nilai dan keberlanjutan. Pendekatan seperti ESG (Environmental, Social, Governance) memiliki irisan yang kuat dengan prinsip syariah. Penelitian bahkan menunjukkan bahwa investasi berbasis etika dapat membantu meningkatkan stabilitas dan menekan risiko (El Ghoul et al., 2011).
Dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan dukungan regulasi yang relatif kuat, Indonesia berada dalam posisi strategis untuk memanfaatkan momentum ini. Peran Bursa Efek Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan menjadi kunci dalam menjaga kredibilitas dan daya tarik pasar.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Literasi investor yang belum merata, dominasi trading jangka pendek, serta ketergantungan pada sentimen global menjadi pekerjaan rumah yang tidak ringan. Tanpa perbaikan di sisi ini, potensi saham syariah bisa tereduksi.
Pada akhirnya, dinamika geopolitik global mengingatkan bahwa pasar keuangan bukan sekadar soal angka, tetapi juga soal kepercayaan dan stabilitas. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian, saham IPO berbasis syariah menawarkan alternatif yang lebih berakar pada nilai dan sektor riil.
Saham Initial Public Offering (IPO) dalam Bayang-Bayang Ketidakpastian Global
IPO merupakan salah satu indikator penting dalam mengukur optimisme pasar. Ketika kondisi ekonomi stabil, perusahaan cenderung lebih percaya diri untuk melantai di bursa, sementara investor juga lebih bersedia mengambil risiko untuk berinvestasi pada perusahaan baru.
Namun, dalam situasi geopolitik yang tidak menentu, kondisi ini berubah drastis. Banyak perusahaan menunda rencana IPO karena sejumlah alasan diantaranya: valuasi yang tidak optimal, tingginya volatilitas pasar, dan Menurunnya minat investor. Fenomena ini tidak hanya terjadi di negara maju, tetapi juga di emerging markets seperti Indonesia.
Investor menjadi lebih selektif dan cenderung menghindari instrumen yang belum memiliki rekam jejak panjang. Namun demikian, penting untuk dicatat bahwa tidak semua IPO memiliki karakteristik yang sama. Dalam konteks Indonesia, terdapat segmen IPO berbasis syariah yang memiliki struktur dan prinsip berbeda dibandingkan IPO konvensional.
Dampak Geopolitik terhadap IPO Syariah: Analisis Kontekstual
Dalam konteks konflik Timur Tengah, dampak terhadap IPO syariah dapat dianalisis melalui beberapa aspek:
1. Sentimen Pasar Global
Ketidakpastian global menurunkan minat terhadap IPO secara umum. Namun, IPO syariah yang memiliki fundamental kuat cenderung tetap menarik bagi investor jangka panjang.
2. Harga Energi dan Sektor Riil
Kenaikan harga energi dapat memengaruhi kinerja perusahaan, terutama yang bergantung pada biaya produksi tinggi. Namun, bagi sektor tertentu seperti energi dan komoditas, kondisi ini justru menjadi peluang.
3. Aliran Modal Internasional
Investor dari kawasan Timur Tengah yang memiliki preferensi terhadap instrumen syariah dapat melihat Indonesia sebagai alternatif investasi yang menarik.
Peluang Strategis Indonesia di Tengah Ketidakpastian Global, Indonesia memiliki sejumlah keunggulan yang dapat dimanfaatkan yaitu populasi Muslim terbesar di dunia, Stabilitas ekonomi relatif terjaga, infrastruktur pasar modal yang berkembang, dan dukungan regulasi yang kuat.
Dengan kombinasi ini, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi pusat pasar modal syariah global. IPO berbasis syariah dapat menjadi instrumen penting dalam menarik investasi jangka panjang, khususnya dari investor yang mencari stabilitas dan keberlanjutan. Selain itu, tren global seperti ESG (Environmental, Social, Governance) juga semakin sejalan dengan prinsip-prinsip syariah, yang menekankan etika dan tanggung jawab sosial.
Tantangan dan Risiko ke Depan
Meskipun peluang besar terbuka, terdapat beberapa tantangan yang harus diatasi diantaranya: literasi investor yang masih terbatas, dominasi tradingspekulatif, kurangnya diferensiasi antara saham syariah dan konvensional di level praktik, dan ketergantungan pada sentimen global.
Tanpa perbaikan pada aspek-aspek ini, potensi saham IPO syariah tidak akan optimal. Dalam menuju pasar modal berbasis nilai Dinamika geopolitik global, khususnya di Timur Tengah, telah mengubah cara pasar keuangan beroperasi. Ketidakpastian menjadi norma baru, dan investor dituntut untuk lebih selektif dalam mengambil keputusan.
Dalam konteks ini, saham IPO berbasis syariah di Indonesia menawarkan alternatif yang menarik. Dengan struktur yang berbasis pada sektor riil dan prinsip etika, saham ini memiliki potensi untuk lebih tahan terhadap guncangan global. Namun, keunggulan tersebut hanya akan terwujud jika didukung oleh perilaku investor yang rasional dan sistem pasar yang transparan.
Tanpa itu, saham syariah hanya akan menjadi label tanpa makna substantif. Di tengah dunia yang semakin kompleks dan tidak pasti, pendekatan berbasis nilai bukan lagi sekadar pilihan, tetapi menjadi kebutuhan. Indonesia memiliki peluang besar untuk memimpin arah ini tidak hanya sebagai pasar, tetapi sebagai model bagi sistem keuangan yang lebih adil dan berkelanjutan.