
Pamekasan – Isu pemberitaan di media nasional terkait dugaan kekerasan, perundungan, dan fitnah terhadap dunia pesantren kembali mencuat dan menuai respons keras dari kalangan pelajar Nahdlatul Ulama (NU) di Kabupaten Pamekasan.
Sebagai bagian dari kaum santri, M. Ghufron Hadi sebagai Ketua Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Pamekasan menyampaikan sikap tegas terhadap tayangan program Expose Trans 7 yang dinilai tidak berimbang dan berpotensi menodai marwah pesantren.
“Kami, pelajar NU yang juga santri, mengecam keras pemberitaan yang tidak berimbang dan menyesatkan publik. Sebagai konsumen media massa, PC IPNU Pamekasan siap menjaga marwah pesantren rumah besar yang menjadi sumber lahirnya kemerdekaan Indonesia. Tidak boleh ada pihak yang menodai dedikasi pesantren dan para kiai,” tegasnya, Senin (14/10/2025).
Santri dan Ulama, Penjaga Moral di Tengah Arus Media
Bagi Pria yang akrab disapa Ghufron tersebut, tayangan dengan narasi “Santrinya minum susu saja kudu jongkok, emang gini kehidupan di pondok?” bukan hanya bentuk framing yang tidak berimbang, tetapi juga mengabaikan nilai luhur adab dan kesopanan yang telah menjadi ciri khas dunia pesantren.
“Santri sejak dulu diajarkan adab sebelum ilmu. Makan dan minum dengan tata krama bukanlah bentuk perundungan, tetapi cerminan penghormatan terhadap ilmu dan guru. Nilai-nilai itu yang kini seolah dianggap asing di tengah budaya modern,” terangnya.
Pernyataan ini sejalan dengan ajaran para ulama dalam kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh karya Syekh Wahbah Az-Zuhaili, yang menyebut:
ويجوز الشرب قائماً، والأفضل القعود
Artinya: “Minum sambil berdiri boleh. Tetapi afdhalnya minum dilakukan sambil duduk.”
(Darul Fikr, Beirut, 1985 M/1405 H, juz III, hlm. 536).
Dari pandangan ini jelas bahwa adab santri bukanlah bentuk kekerasan, melainkan implementasi nilai akhlak dan keteladanan ulama dalam kehidupan sehari-hari.
Pesantren Sebagai Benteng Moral Bangsa
Pria yang pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Sumber Panjalin tersebut menegaskan bahwa pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan agama, tetapi benteng moral bangsa yang telah terbukti menjaga nilai keislaman dan keindonesiaan.
Peran santri dan ulama selama ini menjadi penyeimbang di tengah derasnya arus informasi dan budaya media yang seringkali mengaburkan nilai-nilai luhur.
“Diera banjir informasi, peran santri dan ulama menjadi sangat penting untuk menjaga keseimbangan moral publik. Pesantren bukan tempat kegelapan, tetapi cahaya yang menuntun generasi agar tidak kehilangan arah,” ungkapnya.
Oleh karena itu, Pria kelahiran Palengaan itu sangat mendukung penuh langkah PCNU Pamekasan untuk memboikot Trans 7, sebagai bentuk protes atas ketidakseimbangan pemberitaan yang dinilai mencederai perjuangan para kiai.
Doa dan Seruan Moral: “Pray for Expose Trans 7”
Menariknya, dalam sikap resminya Ketua PC IPNU Pamekasan tidak hanya menyampaikan kritik, tetapi juga mengajak masyarakat untuk mendoakan media agar lebih bijak.
Gerakan simbolik bertajuk “Pray for Expose Trans 7” menjadi bentuk perlawanan moral yang elegan — bukan dengan amarah, melainkan dengan doa dan keteladanan.
“Iman dan Amin bukan tontonan, tapi keteladanan. Akhlak dan budi bukan bahan sensasi, tapi tuntunan. Semoga media di Indonesia lebih arif, berimbang, dan menghormati nilai luhur pesantren,” tutupnya.
Editor: Redaktur