Bukittinggi (WartaBaru)_ Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Ushuluddin Adab & Dakwah (KPI-FUAD) UIN Bukittinggi mennggelar acara Kuliah Tamu dengan tema Komunikasi di Era Artificial Intelegence (AI) yang disampaikan oleh narasumber Prof. Dr. Iswandi Syahputra, S.Ag. M.Si / Guru Besar Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta di Aula Gedung FUAD UIN Bukittinggi (25/06/2026). Acara kuliah tamu tersebut dihadiri Rektor UIN Bukittinggi Prof. Dr. Silfia Hanani, M.Si, Wakil Dekan FUAD II Dr. Darul Ilmi, Wakil Dekan III FUAD Dr. Nurlizam, Ka.Prodi KPI, Kabag. TU FUAD Ratnawilis , mahasiswa Prodi KPI dan dosen-dosen FUAD UIN Bukittinggi lainnya.
Rektor UIN Bukittinggi Prof Silfia Hanani dalam sambutannya menyampaikan perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau yang disebut Artificial Intelegence (AI), telah membawa perubahan besar terhadap cara manusia berkomunikasi, memproduksi informasi, serta membangun interaksi sosial di berbagai ruang kehidupan sehari-hari.
“Artificial Intelligence bukan lagi sekadar teknologi masa depan, melainkan telah menjadi bagian dari realitas kehidupan saat ini. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan generasi muda yang tidak hanya mampu memanfaatkan teknologi AI, tetapi juga memiliki kemampuan kritis, etis, dan humanis dalam menggunakannya,” ujar Prof. Silfia Hanani.
Prof. Silfia Hanani juga menyampaikan apresiasi kepada Program Studi KPI FUAD UIN Bukittinggi yang menghadirkan narasumber kompeten di kuliah tamu ini, Prof. Iswandi Syahputra, sehingga sivitas akademika memperoleh perspektif yang lebih luas mengenai tantangan dan peluang komunikasi di tengah – tengah revolusi digital saat ini.
“Kehadiran Prof. Iswandi Syahputra memberikan kontribusi penting bagi kami dalam penguatan kapasitas akademik mahasiswa kami di KPI. Saya berharap kegiatan seperti ini dapat melahirkan insan komunikasi yang adaptif dalam perkembangan teknologi, namun tetap berpegang teguh pada prinsip nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan,” tambahnya.
Prof. Silfia Hanani juga menegaskan bahwa UIN Bukittinggi terus mendorong integrasi antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan nilai-nilai keislaman dalam proses pendidikan tinggi. Menurutnya, AI harus dipandang sebagai instrumen untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, riset, dan pengabdian kepada masyarakat, bukan sebagai pengganti peran manusia.
“Di era AI, yang paling dibutuhkan bukan hanya kecanggihan teknologi, tetapi juga kebijaksanaan dalam mengelolanya. Karena itu, UIN Bukittinggi berkomitmen mencetak lulusan yang unggul secara akademik, melek teknologi, serta memiliki integritas moral yang kuat sebagai bekal menghadapi perubahan zaman,” jelas Rektor.
Dalam pemaparannya, Prof. Iswandi Syahputra menjelaskan bahwa perkembangan AI telah membawa perubahan besar dalam dunia komunikasi, baik pada aspek produksi, distribusi, maupun konsumsi informasi. AI telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang memengaruhi cara manusia memperoleh informasi, berinteraksi, dan membangun opini di ruang publik digital.
Menurut Prof. Iswandi, untuk memahami AI ini perlunya mengetahui asal usul nya AI ini. Algoritma menjadi dasar AI. Konsep algoritma pertama kali diperkenalkan oleh ilmuwan Islam Al Khwarizmi. AI bekerja berdasarkan data, algoritma, pola, dan kalkulasi matematis. AI dapat meniru bahasa manusia, menganalisis informasi dalam jumlah besar, bahkan menghasilkan berbagai bentuk karya secara cepat. Namun, AI tidak memiliki pengalaman hidup, kesadaran eksistensial, perasaan yang autentik, maupun kemampuan merasakan makna kemanusiaan sebagaimana yang dimiliki manusia.
” Dasar AI ini dari Algoritma yang pertama kali ditemukan oleh ilmuwan Islam Al Khwarizmi atau nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad bin Musa Al Khwarizmi. Al khwarizmi adalah seorang matematikawan, astronom, dan geograf dari Persia yang hidup sekitar tahun 780-850 Masehi. AI dapat meniru kata-kata empati, tetapi AI tidak pernah merasakan empati itu sendiri. AI dapat menghasilkan kalimat tentang kasih sayang, tetapi ia tidak pernah mencintai. AI dapat menjelaskan tentang kesedihan, tetapi ia tidak pernah merasakan kehilangan. Di sinilah batas yang tidak dapat ditembus oleh teknologi, yaitu wilayah sanubari dan nurani manusia,” jelasnya.
Beliau menjelaskan juga tentang sanubari merupakan pusat kehalusan rasa yang memungkinkan manusia merasakan kasih sayang, keikhlasan, cinta, kepedulian, dan pengorbanan. Sementara nurani adalah sumber pertimbangan moral yang membimbing manusia untuk membedakan antara yang benar dan yang salah, yang adil dan yang tidak adil.
Dalam perspektif komunikasi, keberhasilan komunikasi tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan penyampaian pesan, tetapi juga oleh kehadiran nilai-nilai kemanusiaan yang lahir dari hati dan nurani. Karena itu, komunikasi yang paling efektif bukan sekadar komunikasi yang informatif, melainkan komunikasi yang mampu menghadirkan ketulusan, kepercayaan, dan makna.
Prof. Iswandi mengingatkan bahwa di tengah perkembangan AI yang semakin pesat, manusia tidak boleh kehilangan identitas kemanusiaannya. Justru ketika teknologi semakin canggih, kebutuhan akan nilai-nilai kemanusiaan menjadi semakin penting.
“Masa depan tidak ditentukan oleh siapa yang memiliki teknologi paling canggih, tetapi oleh siapa yang mampu menjaga nurani kemanusiaannya. Walaupun AI adalah alat yang luar biasa, semakin dilawan semakin sakti, tetapi hati nurani tetap menjadi kompas yang menentukan arah perjalanan manusia” tegasnya.
Beliau juga mengajak mahasiswa untuk memanfaatkan AI sebagai instrumen pendukung pembelajaran, riset, dan produktivitas, tanpa menyerahkan sepenuhnya kemampuan berpikir kritis, refleksi moral, dan kebijaksanaan kepada mesin. Menurutnya, kecerdasan buatan dapat membantu manusia menjadi lebih cepat dan efisien, tetapi hanya manusia yang dapat memberikan makna, nilai, dan kebijaksanaan dalam kehidupan.
Sebagai penutup, Prof. Iswandi menegaskan bahwa kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan penguatan karakter, etika, dan spiritualitas. Sebab, teknologi dapat memperluas kemampuan manusia, tetapi hanya sanubari dan nurani yang mampu menjaga kemanusiaan itu sendiri. “AI dapat mengolah data, tetapi hanya hati yang mampu mengolah makna kehidupan,” pungkasnya.
Sebelum kuliah tamu berakhir, peserta cukup antusias mendengarkan penjelasan pemaparan narasumber dan aktif dalam sesi diskusi dengan narasumber dalam mengupas tema tentang Komunikasi di Era Artificial Intelegence (AI) tersebut.
(EditorWartaBaru/169)
