Riset Lokal, Dampak Global: S2 PAI UIN Bukittinggi Siapkan Akademisi Menembus Jurnal Internasional

Bukittinggi (WartaBaru) _  Suasana akademik yang hangat dan penuh semangat intelektual menyelimuti pelaksanaan Studium General Program Studi S2 Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Bukittinggi pada Jumat, 22 Mei 2026. Mengusung tema “From Local Insights to Global Impact: Strengthening Islamic Education Research for International Publication”, kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan gagasan, harapan, dan cita-cita besar untuk membawa riset Pendidikan Islam dari ruang-ruang lokal menuju panggung akademik dunia.

Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber internasional, Prof. TS. Dr. Anita Wati Mohd Lokman, akademisi dari Universiti Teknologi MARA yang dikenal luas memiliki kompetensi dan pengalaman akademik yang sangat mumpuni di bidang penelitian dan publikasi ilmiah internasional. Kehadiran beliau menjadi daya tarik tersendiri bagi peserta Studium General, sekaligus membuka ruang kolaborasi akademik lintas negara dalam pengembangan riset Pendidikan Islam.

Dengan gaya penyampaian yang inspiratif dan mendalam, Prof. Anita Wati memberikan banyak wawasan mengenai strategi membangun penelitian berkualitas, penguatan metodologi ilmiah, hingga langkah-langkah menembus jurnal internasional bereputasi. Ia juga mendorong mahasiswa dan dosen agar tidak ragu mengangkat persoalan lokal sebagai tema penelitian global.

“Penelitian terbaik sering lahir dari kedekatan peneliti dengan realitas masyarakatnya sendiri. Ketika ditulis dengan pendekatan akademik yang kuat, maka isu lokal dapat berbicara kepada dunia,” ungkapnya di hadapan peserta Studium General.

Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan I FTIK Dr. Supratman yang mewakili Dekan FTIK. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat bertumbuhnya ilmu, tetapi juga menjadi pusat lahirnya pemikiran yang mampu menjawab tantangan global.

Menurutnya, kekayaan nilai, budaya, dan praktik pendidikan Islam yang tumbuh di tengah masyarakat Indonesia merupakan sumber pengetahuan yang sangat berharga. Jika diteliti secara serius dan ditulis dengan pendekatan akademik yang kuat, maka penelitian tersebut dapat menjadi kontribusi besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan dunia.

“Riset-riset lokal yang lahir dari realitas masyarakat sesungguhnya memiliki kekuatan besar untuk berbicara di tingkat internasional. Tugas akademisi hari ini adalah menjembatani pengalaman lokal itu menjadi karya ilmiah yang diakui dunia,” ujar Supratman.

Sementara itu, Ketua Prodi S2 PAI Dr. Hidayani Syam dalam penyampaiannya menuturkan bahwa ilmu pengetahuan sejatinya tidak mengenal batas geografis. Menurutnya, gagasan besar sering kali lahir dari ruang-ruang sederhana, dari pengalaman masyarakat yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, lalu tumbuh menjadi cahaya pengetahuan yang menerangi dunia akademik.

“Kadang-kadang dunia tidak membutuhkan gagasan yang paling rumit, tetapi membutuhkan penelitian yang lahir dari kejujuran melihat realitas. Dari tanah-tanah lokal yang kita pijak hari ini, semoga lahir pemikiran yang mampu mengetuk pintu peradaban dunia,” tuturnya dengan penuh harapan.

Ia juga menegaskan bahwa mahasiswa Pascasarjana harus memiliki keberanian intelektual untuk menulis, meneliti, dan memperkenalkan wajah Pendidikan Islam Indonesia ke tingkat internasional. Baginya, publikasi ilmiah bukan sekadar tuntutan akademik, melainkan jalan untuk menghadirkan manfaat ilmu bagi masyarakat yang lebih luas.

Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa Pascasarjana untuk memperluas cakrawala berpikir akademik, terutama dalam memahami strategi menulis artikel ilmiah yang mampu menembus jurnal bereputasi internasional. Tidak hanya berbicara tentang teknik penulisan, Studium General ini juga mengajak peserta membangun keberanian intelektual untuk menjadikan isu-isu lokal sebagai sumber inspirasi penelitian yang bernilai universal.

Di tengah arus globalisasi ilmu pengetahuan, Prodi S2 PAI UIN Bukittinggi menunjukkan komitmennya dalam membangun budaya akademik yang produktif, kritis, dan kompetitif. Melalui kegiatan ini, mahasiswa didorong agar tidak sekadar menjadi konsumen ilmu, tetapi juga menjadi produsen gagasan yang mampu memberi dampak luas bagi masyarakat global.

Atmosfer diskusi berlangsung hidup dan inspiratif. Para peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi, mencatat berbagai gagasan penting, serta berdialog mengenai tantangan dan peluang publikasi internasional. Semangat kolaborasi dan optimisme akademik terasa begitu kuat sepanjang kegiatan berlangsung.

Studium General ini bukan sekadar agenda akademik rutin, melainkan sebuah ikhtiar untuk menyalakan harapan bahwa dari ruang-ruang kecil penelitian lokal, dapat lahir pemikiran besar yang menggema hingga ke tingkat dunia. (HISYAM).

 

Exit mobile version