Setiap pembangunan selalu membawa harapan. Jalan yang lebih baik menjanjikan perjalanan yang lebih singkat, distribusi yang lebih lancar, dan peluang ekonomi yang lebih besar. Namun, kemajuan baru benar-benar bermakna apabila mampu berjalan seiring dengan nilai-nilai yang membentuk jati diri sebuah masyarakat.
Polemik Jalan Tol Sicincin–Bukittinggi memperlihatkan bahwa persoalannya tidak sesederhana memilih antara pembangunan dan pelestarian budaya. Yang dipertaruhkan bukan hanya trase jalan, melainkan ruang hidup yang selama ini menjaga keberlanjutan adat dan identitas Minangkabau.
Karena itu, pemerintah dan masyarakat sesungguhnya tidak sedang berada pada dua kutub yang saling berhadapan. Pemerintah berkepentingan memperkuat konektivitas dan daya saing ekonomi, sementara masyarakat ingin memastikan tanah ulayat, Rumah Gadang, dan warisan leluhur tetap menjadi bagian dari masa depan.
Tantangannya bukan menentukan siapa yang harus mengalah, melainkan merancang pembangunan yang mampu menghubungkan pertumbuhan ekonomi dengan pelestarian budaya. Sebab, kemajuan yang paling bernilai bukanlah yang memutus akar, melainkan yang membuat akar itu tetap menghidupi generasi mendatang.
Pembangunan yang Menghubungkan Budaya
Selama ini keberhasilan pembangunan kerap diukur dari panjang jalan, besarnya investasi, atau singkatnya waktu tempuh. Ukuran itu memang penting, tetapi belum cukup menjelaskan apakah pembangunan benar-benar memperkuat kualitas hidup masyarakat. Jalan semestinya tidak hanya menghubungkan ruang, melainkan juga menjaga hubungan manusia dengan sejarah dan budayanya.
Persoalan itu menjadi semakin relevan di Sumatera Barat, ketika pariwisata tumbuh sebagai salah satu penopang ekonomi daerah. Jalan tol dapat mempercepat perjalanan menuju Bukittinggi, tetapi kemudahan akses tidak otomatis membuat wisatawan tinggal lebih lama atau ingin kembali.
Dalam pemasaran pariwisata, daya saing tidak lahir dari infrastruktur semata. Wisatawan datang karena mencari pengalaman yang otentik, sementara identitas budaya menjadi pembeda yang tidak dimiliki daerah lain. Jalan membuka akses perjalanan, tetapi budaya memberi makna atas perjalanan itu.
Karena itu, pembangunan akan mencapai nilai tertingginya ketika mampu menghubungkan mobilitas dengan identitas. Infrastruktur yang menghormati karakter lokal bukan hanya mempercepat pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga daya tarik Sumatera Barat sebagai destinasi yang hidup oleh adat dan budayanya.
Lanskap Budaya sebagai Modal Masa Depan
Perdebatan mengenai trase Jalan Tol Sicincin–Bukittinggi menjadi sensitif karena yang dipertaruhkan bukan sekadar ruang fisik. Rencana investasi senilai sekitar Rp25,23 triliun itu bersinggungan dengan kawasan yang menyimpan jejak sejarah kehidupan masyarakat.
Di Nagari Kubang Putiah, ratusan bidang lahan dan puluhan Rumah Gadang diperkirakan terdampak, sehingga yang berubah bukan hanya bentang wilayah, tetapi juga ruang sosial yang diwariskan oleh leluhur.
Di sinilah pembangunan perlu dibaca lebih luas. UNESCO memperkenalkan konsep cultural landscape untuk menjelaskan bahwa nilai suatu kawasan lahir dari keterhubungan antara alam, budaya, dan kehidupan masyarakat. Dalam lanskap Minangkabau, Rumah Gadang, tanah ulayat, surau, sawah, dan nagari membentuk satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Kesatuan itulah yang melahirkan identitas sebuah destinasi. Keunikan Sumatera Barat bukan hanya terletak pada panorama alamnya, melainkan pada budaya yang masih hidup dalam keseharian masyarakat. Lanskap budaya menjadi pembeda yang tidak mudah ditiru oleh daerah lain.
Dalam kajian pemasaran pariwisata, keterikatan tersebut dikenal sebagai place attachment, yakni hubungan emosional antara masyarakat dan ruang hidupnya. Bagi wisatawan, Rumah Gadang mungkin hanya objek yang menarik untuk dipotret. Namun, bagi masyarakat Minangkabau, ia adalah ruang tempat adat dijalankan, silaturahmi dipelihara, dan sistem matrilineal terus diwariskan.
Karena itu, nilai lanskap budaya tidak dapat diukur semata dengan besaran investasi ataupun ganti rugi. Menjaganya bukan berarti menghambat pembangunan, melainkan memastikan bahwa kemajuan ekonomi tetap bertumpu pada identitas yang selama ini menjadi kekuatan utama Sumatera Barat, sekaligus modal pariwisata yang berkelanjutan.
Jalan Tengah untuk Masa Depan
Polemik Jalan Tol Sicincin–Bukittinggi tidak semestinya berakhir pada pilihan antara pembangunan atau pelestarian budaya. Jalan keluarnya terletak pada cara merancang pembangunan yang menjadikan warisan budaya sebagai bagian dari infrastruktur itu sendiri. Ketika budaya diposisikan sebagai aset, bukan hambatan, kepentingan pemerintah dan masyarakat menemukan titik temu yang lebih adil.
Karena itu, masyarakat yang terdampak perlu diposisikan sebagai penerima manfaat, bukan sekadar objek kompensasi. Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa pembangunan yang membagi manfaat ekonomi kepada komunitas lokal lebih mudah diterima dan mampu menjaga keberlanjutan sosial. Prinsip ini sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan yang menempatkan kesejahteraan masyarakat sebagai ukuran utama keberhasilan.
Dalam konteks Sumatera Barat, manfaat tersebut dapat diwujudkan dengan menjadikan setiap interchange sebagai gerbang ekonomi budaya menghubungkan wisatawan dengan desa wisata, sentra tenun Pandai Sikek, Rumah Gadang, kuliner lokal, hingga Geopark Marapi. Strategi ini selaras dengan tren UN Tourism menempatkan pengalaman autentik sebagai faktor utama daya saing destinasi.
Tidak kalah penting ialah memastikan dialog tetap hidup dengan masyarakat. Pemerintah, Hutama Karya, ninik mamak, bundo kanduang, akademisi, pelaku pariwisata, dan masyarakat perlu bersama-sama mengawal pelaksanaan proyek agar manfaat ekonomi berjalan seiring dengan terpeliharanya marwah adat. Musyawarah tidak berhenti sampai lahirnya kesepakatan, namun tetap berlanjut pada pengawasan bersama.
Pada akhirnya, masyarakat mungkin tidak mengingat panjang jalan yang dibangun ataupun besarnya investasi yang ditanamkan. Yang akan dikenang ialah bagaimana jalan itu hadir: apakah sekadar membelah ruang hidup, atau justru menghubungkan kemajuan dengan warisan budaya. Sebab, pembangunan yang bermakna bukan hanya mempersingkat perjalanan, melainkan juga menjaga akar yang membuat Minangkabau tetap dikenali dunia.
