Oleh : Moh Dahlan (Sekum PCNU Pamekasan)
Pendahuluan
NU sebagai Kapal Besar
Nahdlatul Ulama (NU) bukan sekadar organisasi massa Islam terbesar di dunia; ia adalah sebuah “gerakan” (harakah) yang dibangun di atas fondasi sanad ilmu yang ketersambungannya sampai kepada Rasulullah SAW. Bagi banyak warga Nahdliyin, bergabung dengan NU bukanlah keputusan politik praktis atau sekadar ikut-ikutan tren sosial. Ada dorongan spiritual yang jauh lebih kuat, yakni keinginan untuk berada dalam barisan para kekasih Allah (waliyullah) dan ulama yang tulus.
Namun, di era informasi ini, tantangan muncul ketika loyalitas sering kali terfragmentasi pada figur-figur personal. Tulisan ini akan membedah mengapa ber-NU harus didasari oleh pencarian barokah ulama secara kolektif dan institusional, melampaui sekat-sekat kekaguman personal terhadap individu tertentu.
Konsep Barokah dalam Tradisi Santri
Dalam kamus kaum santri, barokah (keberkahan) adalah ziyadatul khair atau bertambahnya kebaikan. Barokah bukanlah sesuatu yang tampak secara empiris atau bisa diukur dengan angka, melainkan rasa cukup, ketenangan batin, dan kemudahan dalam menjalankan ketaatan.
Para pendiri NU, seperti Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri, adalah figur-figur yang ilmu dan amalnya telah diakui. Ber-NU berarti “nderek” (ikut) pada jalur yang mereka rintis. Ketika seseorang ber-NU dengan niat mencari barokah, ia sebenarnya sedang menghubungkan dirinya pada sanad spiritual yang panjang. Ia meyakini bahwa dengan berada di dalam organisasi yang didirikan oleh para kekasih Allah, maka rahmat Allah akan ikut mengalir kepadanya.
Jebakan Personalitas vs. Keutuhan Jam’iyyah
Masalah muncul ketika motivasi ber-NU hanya disandarkan pada kekaguman terhadap tokoh tertentu (personal). Jika tokoh tersebut berhaluan A, maka ia ikut A; jika tokoh tersebut melakukan kesalahan, ia kecewa dan meninggalkan organisasi. Ini adalah cara berorganisasi yang rapuh.
Ber-NU karena personalitas cenderung menciptakan pengkultusan yang tidak sehat. Padahal, ulama sendiri selalu mengajarkan bahwa “kebenaran tidak diukur dari orangnya, tetapi orang dikenal karena kebenarannya” (al-haqqu la yu’rafu bir-rijal). Dengan niat mencari barokah ulama secara umum—yakni institusi ulama yang terjaga dalam sistem jam’iyyah—seorang Nahdliyin tidak akan mudah goyah oleh dinamika internal atau perilaku oknum pengurus.
NU sebagai Manhaj, Bukan Sekadar Organisasi
Ber-NU karena ingin barokah berarti mengikuti manhaj (metode) berpikir dan bertindak para ulama. Manhaj ini mencakup:
- Tawasut (Moderat): Tidak ekstrem kanan maupun kiri.
- Tawazun (Seimbang): Menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat, serta teks dan konteks.
- Tasamuh (Toleran): Menghargai perbedaan pendapat.
- I’tidal (Tegak Lurus): Berpihak pada kebenaran.
Keberkahan akan didapat ketika prinsip-prinsip ini dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Ulama-ulama sepuh NU selalu berpesan bahwa NU adalah ” *keramat* “. Siapa yang mengurus NU dengan tulus, akan diurus hidupnya oleh Allah . Janji spiritual inilah yang menjadi motor penggerak jutaan warga NU, melampaui kepentingan materi atau popularitas tokoh.
Sanad dan Keselamatan Akhirat
Bagi kita dan warga NU, organisasi ini adalah “wasilah” (perantara) untuk sampai pada ridha Allah. Dalam akidah Ahlussunnah wal Jama’ah, memiliki guru yang jelas sanad ilmunya adalah keharusan. Dengan ber-NU, seseorang secara otomatis menyandarkan pemahaman agamanya pada konsensus para ulama nusantara yang telah teruji zaman.
Niat mencari barokah ulama adalah bentuk ketawaduan. Ia mengakui bahwa dirinya bukan siapa-siapa dan tidak memiliki ilmu yang cukup, sehingga ia butuh “bergandengan tangan” dengan jubah para ulama agar tidak tersesat di jalan yang gelap.
Kesimpulan
Ber-NU karena ingin barokah ulama adalah bentuk loyalitas tertinggi. Ini adalah loyalitas yang melampaui ego, melampaui batas umur manusia, dan melampaui kepentingan politik sesaat. Ketika niat sudah ditata untuk mencari barokah, maka setiap langkah di NU—baik sebagai pengurus maupun anggota biasa—akan terasa ringan dan penuh makna.
Kita tidak ber-NU karena si Fulan atau si Allan. Kita ber-NU karena kita ingin diakui sebagai santri oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, yang dalam doanya menjanjikan bahwa siapa pun yang mau mengurus NU akan dianggap santrinya, dan siapa yang menjadi santrinya akan didoakan husnul khatimah beserta anak cucunya. Itulah barokah sejati yang kita cari.
