
SURABAYA — Berasal dari keluarga sederhana tidak membuat Habib Nihla Thohari berhenti memiliki mimpi besar. Pemuda asal Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, itu berhasil menyelesaikan studi S-1 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dengan IPK 3,91 predikat pujian sekaligus menjadi Wisudawan Terbaik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Negeri Surabaya pada wisuda periode 121 tahun 2026.
Di balik pencapaian tersebut ada perjuangan keluarga yang selalu ia ingat. Kedua orang tuanya, Busairi dan Noor Wahidatun, bekerja sebagai penenun sekaligus Guru Madrasah Diniyah di kampung halamannya. Meski hidup dalam kesederhanaan, keduanya selalu menempatkan pendidikan sebagai hal penting bagi anak-anaknya. Kesempatan Habib untuk menempuh pendidikan tinggi kemudian semakin terbuka setelah memperoleh KIP Kuliah hingga menyelesaikan studinya.
Perjalanan di bangku kuliah pun tidak selalu mudah. Habib mengaku sempat menjadi pribadi yang minder ketika pertama kali memasuki dunia kampus. Namun, organisasi perlahan menjadi ruang yang membentuk keberanian dan kepercayaan dirinya. Selama menjadi mahasiswa, ia dipercaya sebagai Ketua PMII Rayon Sosial periode 2025–2026 dan Ketua Forum Mahasiswa Jepara UNESA periode 2025–2026. Dari sana, ia belajar tentang kepemimpinan, komunikasi, tanggung jawab, hingga bagaimana bekerja bersama banyak orang.
Dalam bidang prestasi, kegagalan justru menjadi bagian penting dalam perjalanannya. Setelah beberapa kali gagal dalam kompetisi pada semester awal, Habib terus berusaha hingga akhirnya meraih Juara I Kompetisi Debat Mahasiswa Indonesia (KDMI) tingkat FISIPOL sekaligus Best Speaker, lolos pendanaan Program Mahasiswa Wirausaha dan LPPM, menjadi semifinalis debat nasional tingkat Otorita Ibu Kota Nusantara, serta meraih Juara II Lomba Karya Tulis Ilmiah tingkat internasional bersama tim. Konsistensinya juga mengantarkannya menjadi Mahasiswa Berprestasi tingkat Program Studi PPKn pada tahun 2024.
Di tengah kesibukan organisasi dan kompetisi tidak membuat Habib meninggalkan akademik. Melalui skripsinya, ia mengangkat persoalan penguatan karakter cinta damai dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila sebagai upaya pencegahan bullying. Penelitian tersebut kemudian dikembangkan menjadi artikel ilmiah dan berhasil dipublikasikan pada jurnal nasional terakreditasi SINTA 3. Seluruh proses itu akhirnya mengantarkannya menjadi Wisudawan Terbaik FISIPOL UNESA. Namun, bagi Habib, pencapaian tersebut bukan semata-mata tentang IPK maupun penghargaan yang diberikan, melainkan tentang keberanian untuk terus bertumbuh.
“Saya pernah minder, pernah kalah, dan pernah merasa belum cukup baik. Dari perjalanan itu saya belajar bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Selama mau belajar, berani mengambil kesempatan, konsisten, dan selalu melibatkan Tuhan dalam setiap proses, selalu ada jalan untuk bertumbuh,” ungkapnya.
Baginya, menjadi wisudawan terbaik bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal untuk membawa ilmu dan pengalaman yang diperolehnya agar dapat memberikan manfaat lebih luas bagi orang lain.













