OPINI  

Sekolah Berbasis Teknologi Adalah Mimpi Masa Depan Indonesia

Oleh: Sidi Novi Zulfikar, S.Sos, S.Pd, M.AP

Indonesia merupakan negeri yang dianugerahi Allah SWT dengan kekayaan sumber daya alam yang sangat melimpah. Hutan tropis yang luas, lautan yang kaya, cadangan mineral, energi, hasil pertanian, perkebunan, hingga keanekaragaman hayati merupakan anugerah yang tidak dimiliki oleh banyak negara di dunia. Tidak mengherankan apabila banyak negara maju melirik Indonesia karena besarnya potensi kekayaan alam tersebut.

Namun, sejak kita duduk di bangku Sekolah Dasar hingga perguruan tinggi, hampir semua pernah mendengar ungkapan yang sama dari Bapak dan Ibu Guru. Indonesia memang kaya akan sumber daya alam, tetapi masih tertinggal dibandingkan negara-negara maju karena kualitas sumber daya manusianya belum berkembang secara optimal. Ungkapan tersebut bukan sekadar kalimat yang diulang-ulang dalam proses pembelajaran, melainkan sebuah kenyataan yang harus menjadi bahan renungan seluruh bangsa.

Jika ditelusuri lebih mendalam, sesungguhnya persoalan Indonesia bukan terletak pada kurangnya kekayaan alam, melainkan belum optimalnya kemampuan manusia Indonesia dalam mengelola kekayaan tersebut menjadi ilmu pengetahuan, teknologi, dan industri yang bernilai tinggi. Akibatnya, Indonesia masih lebih banyak menjadi pemasok bahan baku, sedangkan nilai tambah ekonomi justru dinikmati oleh negara-negara yang memiliki kemampuan teknologi lebih maju.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT telah menegaskan bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah fil ardh (QS. Al-Baqarah: 30). Sebagai khalifah, manusia memiliki amanah untuk mengelola bumi dengan ilmu pengetahuan, kebijaksanaan, dan tanggung jawab. Oleh karena itu, kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alamnya, tetapi juga oleh kualitas manusia yang mengelolanya.

Berbicara mengenai kualitas sumber daya manusia tentu tidak dapat dipisahkan dari mutu pendidikan nasional. Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun peradaban bangsa. Apabila sistem pendidikan berhasil melahirkan manusia yang kreatif, inovatif, dan menguasai teknologi, maka bangsa tersebut akan mampu berdiri sejajar dengan negara-negara maju.

Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara, menegaskan bahwa pendidikan bertujuan menuntun segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar mereka mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya sebagai manusia dan anggota masyarakat. Makna pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara bukan sekadar mentransfer pengetahuan, tetapi mengembangkan seluruh potensi manusia agar mampu berkarya bagi bangsanya.

Pandangan tersebut diperkuat oleh Prof. Jujun S. Suriasumantri, filsuf ilmu pengetahuan Indonesia, yang menjelaskan bahwa kemajuan bangsa hanya dapat dicapai apabila ilmu pengetahuan dikembangkan menjadi budaya berpikir ilmiah, rasional, dan kreatif. Dalam bukunya Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, beliau menekankan bahwa ilmu pengetahuan merupakan kekuatan utama dalam membangun peradaban modern.

Sementara itu, Presiden Ketiga Republik Indonesia, Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie, berkali-kali mengingatkan bahwa bangsa yang ingin maju harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut Habibie, sumber daya alam suatu saat dapat habis, tetapi ilmu pengetahuan akan terus berkembang apabila manusianya terus belajar dan berinovasi. Pemikiran beliau melahirkan filosofi bahwa investasi terbesar bangsa bukan hanya membangun infrastruktur, tetapi membangun kecerdasan manusianya.

Pandangan yang hampir senada juga disampaikan oleh Prof. Dr. Arief Rachman, pakar pendidikan Indonesia. Menurut beliau, pendidikan masa depan harus mampu membentuk manusia yang memiliki karakter kuat, mampu berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan mampu memecahkan persoalan kehidupan. Pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan lulusan yang pandai menghafal, tetapi juga mampu menghasilkan karya nyata.

Dalam konteks perkembangan teknologi dunia, Indonesia sudah saatnya melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan nasional. Evaluasi tersebut bukan untuk menyalahkan sistem yang telah berjalan, tetapi sebagai langkah memperbaiki arah pendidikan agar sesuai dengan kebutuhan zaman. Dunia kini memasuki era kecerdasan buatan, robotika, komputasi awan, bioteknologi, dan transformasi digital. Apabila Indonesia tidak mempersiapkan generasi mudanya sejak dini, maka bangsa ini akan terus menjadi pengguna teknologi buatan negara lain.

Di sinilah pentingnya membangun Sekolah Berbasis Teknologi sebagai model pendidikan masa depan Indonesia. Sekolah berbasis teknologi bukan hanya sekolah yang memiliki komputer, internet, atau laboratorium modern. Lebih jauh, sekolah harus menjadi tempat lahirnya para peneliti muda, inovator, insinyur, programmer, dan pencipta teknologi yang mampu menjawab berbagai persoalan bangsa.

Peserta didik sejak usia dini harus dibiasakan melakukan riset sederhana, merancang alat yang bermanfaat, mengenal pemrograman komputer, kecerdasan buatan, robotika, Internet of Things, energi baru terbarukan, hingga teknologi pertanian dan kelautan yang sesuai dengan potensi Indonesia. Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi tempat mempelajari teknologi yang diciptakan bangsa lain, tetapi juga menjadi pusat lahirnya teknologi karya anak bangsa.

Prof. Rhenald Kasali mengingatkan bahwa era disrupsi menuntut perubahan pola pikir dalam dunia pendidikan. Menurutnya, sekolah harus menjadi ruang yang membangun kreativitas, inovasi, kemampuan beradaptasi, dan keberanian menciptakan solusi baru, bukan hanya mencetak lulusan yang mencari pekerjaan.

Indonesia sebenarnya memiliki modal besar untuk menjadi negara maju. Bonus demografi yang dimiliki bangsa ini merupakan peluang emas apabila dikelola melalui pendidikan yang berkualitas. Dengan sistem pendidikan berbasis teknologi, Indonesia akan memiliki jutaan generasi muda yang mampu mengolah kekayaan alam Nusantara menjadi produk teknologi yang memiliki nilai tambah tinggi.

Sudah saatnya Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi teknologi dunia. Sudah saatnya bangsa ini berdiri di atas kemampuan sendiri dengan memberikan ruang seluas-luasnya kepada ide, gagasan, penelitian, dan inovasi anak bangsa. Pemerintah, perguruan tinggi, sekolah, dunia usaha, industri, dan masyarakat harus membangun ekosistem inovasi yang berkelanjutan agar hasil karya generasi Indonesia mampu berkembang menjadi teknologi yang bermanfaat bagi bangsa.

Pada akhirnya, Sekolah Berbasis Teknologi adalah mimpi besar masa depan Indonesia. Dari sekolah-sekolah itulah akan lahir generasi yang mampu mengubah kekayaan alam menjadi kekuatan ekonomi berbasis ilmu pengetahuan. Dari sekolah-sekolah itulah akan lahir ilmuwan, insinyur, dan inovator yang membawa Indonesia sejajar dengan bangsa-bangsa maju. Sebab sesungguhnya, kemajuan suatu bangsa tidak ditentukan oleh seberapa besar kekayaan alam yang dimilikinya, tetapi oleh seberapa cerdas manusia mengelola anugerah tersebut menjadi kemajuan peradaban.

Referensi Pustaka
1. Habibie, B.J. (2006). Detik-Detik yang Menentukan. THC Mandiri.
2. Dewantara, Ki Hajar. Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.
3. Suriasumantri, Jujun S. (2009). Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
4. Kasali, Rhenald. (2017). Disruption. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
5. Rachman, Arief. (2009). Sekolahnya Manusia Indonesia. Jakarta: Kompas.
6. Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah ayat 30 tentang manusia sebagai khalifah fil ardh.
Exit mobile version