Bukittinggi (Wartabaru.Id) – Melakukan perjalanan traveling ke Pulau Dewata Bali pada 10–15 September 2026, tidak hanya menikmati keindahan alam dan berbagai objek wisata, tetapi juga melakukan penelusuran terhadap jejak-jejak sejarah dan peninggalan leluhur yang terdapat di sejumlah kawasan di Bali.
Perjalanan tersebut mengunjungi sejumlah tempat , di antaranya Pura Luhur Uluwatu, Goa Garba, Ulu Tirta, Pantai Pandawa serta beberapa objek wisata lainnya yang memiliki keindahan alam maupun nilai sejarah dan budaya.
Menurut Sidi Novi Zulfikar yang ikut bersama – sama dengan rombongan lainnya, menyebutkan daerah Bali merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki kekayaan alam, budaya dan sejarah yang sangat menarik untuk dipelajari.
“Bali ini tidak hanya indah dari sisi alamnya, tetapi juga memiliki banyak peninggalan sejarah dan budaya yang masih dapat kita lihat sampai sekarang. Karena itu, perjalanan ke Bali bagi saya bukan hanya sekadar traveling, tetapi juga menjadi bagian dari penelusuran sejarah,” ujar Sidi Novi Zulfikar.
Ia mengatakan, bangunan pura yang terdapat di berbagai daerah di Bali, terutama pura-pura luhur yang sudah tua, menjadi salah satu bagian yang menarik perhatiannya. Pura-pura tersebut selain memiliki nilai bagi masyarakat Bali, juga banyak dijadikan sebagai lokasi objek wisata yang dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara.
“Bangunan pura, apalagi pura-pura luhur yang sudah tua, mempunyai cerita sejarah tersendiri. Masyarakat Bali juga mampu menjaga dan merawat peninggalan tersebut sehingga sampai sekarang masih dapat kita lihat dan menjadi salah satu daya tarik wisata,” katanya.
Dalam perjalanan tersebut, Sidi Novi Zulfikar juga melihat secara langsung sejumlah tempat yang menurutnya memiliki jejak-jejak sejarah Darin Dartha di Bali.
“Di beberapa tempat di Bali kita dapat melihat jejak-jejak sejarah Darin Dartha. Jauh sebelum adanya beragam agama yang berbeda seperti yang kita kenal sekarang, Darin Dartha telah lebih dahulu meyakini dan mengamalkan ajaran kebenaran yang merupakan ajaran para leluhur masyarakat pada masa peradaban Lemurian dahulunya,” ungkapnya.
Menurutnya, perjalanan sejarah kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari keberadaan para leluhur dan berbagai peninggalan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Di dalam sejarah terukir karya nyata bangsa Lemurian hingga saat ini. Namun yang lebih penting lagi adalah bagaimana kita mampu untuk konsisten melakukan penelusuran terhadap setiap sejarah yang ada saat ini. Sejarah harus terus dipelajari, ditelusuri dan dipahami agar generasi sekarang tidak kehilangan jejak perjalanan kehidupan para leluhurnya,” jelasnya.
Selain melakukan penelusuran sejarah, perjalanan ke Bali juga memberikan pengalaman dalam menikmati suasana alam yang begitu indah dan masyarakatnya yang ramah. Kawasan pantai, perbukitan, pura dan lingkungan alam yang masih terjaga memberikan suasana tersendiri bagi para pengunjung.
“Saya melihat suasana alamnya di Bali begitu segar dan indah beserta masyarakatnya yang ramah. Alamnya, budayanya dan peninggalan sejarahnya menjadi satu kesatuan yang memiliki daya tarik tersendiri,” ujarnya.
Ia menilai, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Bali sampai saat ini tetap menjadi tujuan wisata yang banyak dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia maupun wisatawan mancanegara.
“Wajar kalau para turis lokal maupun mancanegara berdatangan ke Bali. Keindahan alam dan kekayaan budaya yang dimiliki Bali memang menjadi daya tarik tersendiri,” kata Sidi Novi Zulfikar.
Bagi Sidi Novi Zulfikar, perjalanan ke Bali menjadi pengalaman untuk melihat secara langsung keindahan alam sekaligus mengenal lebih dekat sejarah dan peninggalan leluhur yang masih tersimpan di berbagai tempat.
“Setiap perjalanan memberikan pengalaman dan pembelajaran baru. Kita tidak hanya datang untuk melihat keindahan suatu daerah, tetapi juga bagaimana kita dapat mengenal sejarah, budaya dan kehidupan masyarakat yang ada di dalamnya,” pungkasnya.












