SYEKH BURHANUDDIN ULAKAN Ulama yang Mengubah Surau Menjadi Pusat Peradaban Islam Minangkabau

Editor

Oleh: Sidi Novi Zulfikar 

Makam Ulama Tariqat Satariyah kharismatik Sjech Burhanudin di Ulakan Tapakis Pdg Pariaman.

Berbicara tentang sejarah Islam di Sumatera Barat, kita tidak hanya berbicara tentang bagaimana Islam datang ke Ranah Minang, tetapi juga bagaimana Islam kemudian tumbuh, berakar dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Minangkabau.

Di antara nama yang memiliki tempat penting dalam perjalanan panjang tersebut adalah Syekh Burhanuddin Ulakan.

Ia bukan hanya dikenal sebagai ulama dan tokoh Tarekat Syattariyah. Ia adalah seorang guru, pendidik, mursyid, pembangun surau dan pembentuk jaringan keilmuan Islam yang pengaruhnya terus hidup jauh setelah dirinya wafat.

Menurut sejumlah kajian sejarah, Syekh Burhanuddin diperkirakan lahir sekitar tahun 1646 M/1056 H dengan nama kecil Pono. Beberapa sumber menyebut ia berasal dari kawasan Pariangan dan kemudian tumbuh di Sintuk, Lubuk Alung, wilayah yang secara geografis menghubungkan kawasan pedalaman Minangkabau dengan pesisir.

Namun, dalam membaca sejarah Syekh Burhanuddin, kita perlu memahami bahwa tidak semua sumber tradisional memiliki data yang sama. Ada perbedaan mengenai nama orang tua, tempat kelahiran dan terutama tahun wafatnya. Karena itu, data biografi beliau lebih tepat dibaca dengan membandingkan sumber tradisi lokal dengan penelitian akademik.

Dari Pono Menjadi Syekh Burhanuddin

Perjalanan seorang ulama besar biasanya tidak dimulai dari gelar.

Ia dimulai dari keinginan mencari ilmu.

Pono muda dalam sejumlah riwayat belajar kepada Syekh Abdullah Arif di Tapakis. Setelah itu, perjalanan keilmuannya berlanjut ke Aceh untuk berguru kepada Syekh Abdurrauf al-Singkili, atau yang lebih dikenal sebagai Syiah Kuala.

Di Aceh inilah Pono memasuki lingkungan intelektual dan spiritual yang lebih luas.

Syekh Abdurrauf al-Singkili sendiri merupakan salah satu ulama besar Nusantara yang memiliki hubungan dengan jaringan ulama Timur Tengah. Melalui Abdurrauf, tradisi Tarekat Syattariyah yang berkembang dalam jaringan Haramain kemudian memperoleh jalur transmisi menuju Minangkabau.

Oman Fathurahman dalam kajiannya mengenai Tarekat Syattariyah di Minangkabau memperkirakan Pono datang ke Singkil sekitar 1662 M, ketika Abdurrauf telah kembali dan mengembangkan pusat pengajaran Islam di Aceh.

Di sinilah kita dapat melihat bahwa perjalanan Syekh Burhanuddin sesungguhnya bukan perjalanan seorang ulama lokal yang berdiri sendiri.

Ia merupakan bagian dari jaringan intelektual Islam Nusantara.

Ada hubungan antara Madinah, Aceh dan Minangkabau.

Ada guru dan murid.

Ada sanad.

Ada ilmu yang berpindah dari satu pusat keilmuan menuju pusat keilmuan lainnya.

Dan akhirnya, ilmu tersebut sampai ke surau-surau Minangkabau.

Syattariyah sebagai Jalan Pendidikan Jiwa

Tarekat Syattariyah bagi Syekh Burhanuddin bukan sekadar persoalan zikir atau ritual.

Tarekat merupakan jalan pendidikan jiwa.

Dalam tradisi tasawuf, seorang murid tidak hanya dituntut mengetahui ilmu agama, tetapi juga menjalani proses riyadhah, pengendalian diri, pembentukan akhlak dan penyucian jiwa.

Karena itu, ketika Syekh Burhanuddin mengembangkan Syattariyah di Minangkabau, yang dibangun sesungguhnya bukan hanya kelompok pengikut tarekat.

Ia membangun manusia.

Manusia yang belajar agama.

Manusia yang belajar adab.

Manusia yang belajar mengendalikan diri.

Manusia yang kemudian diharapkan mampu menjadi guru bagi masyarakatnya.

Di sinilah tarekat kemudian bertemu dengan pendidikan.

Dan pendidikan bertemu dengan dakwah.

Pulang dari Aceh, Membangun Surau

Setelah memperoleh pendidikan dan kepercayaan dari gurunya, Syekh Burhanuddin kembali ke Minangkabau.

Ia memilih Ulakan sebagai salah satu pusat dakwahnya.

Di Tanjung Medan, Ulakan, ia mendirikan surau yang kemudian dikenal sebagai salah satu pusat penting perkembangan Islam dan Tarekat Syattariyah di Minangkabau.

Surau pada masa itu jangan dibayangkan hanya sebagai tempat shalat.

Surau adalah tempat belajar.

Tempat tidur para murid.

Tempat berdiskusi.

Tempat mengaji.

Tempat berzikir.

Tempat membentuk karakter.

Bahkan dalam konteks masyarakat Minangkabau, surau kemudian berkembang menjadi pusat pembentukan intelektual dan sosial masyarakat.

Karena itu, menurut saya, kekuatan terbesar Syekh Burhanuddin bukan semata-mata pada kemampuan berdakwah, tetapi pada kemampuannya membangun sistem pendidikan melalui surau.

Ia memahami bahwa dakwah yang hanya bergantung kepada seorang mubalig akan berhenti ketika mubalig tersebut meninggal.

Tetapi dakwah yang dibangun melalui pendidikan akan melahirkan guru-guru baru.

Guru melahirkan murid.

Murid melahirkan guru berikutnya.

Dan akhirnya terbentuk jaringan keilmuan.

Dari Satu Surau Menjadi Jaringan Ulama

Inilah yang membuat pengaruh Syekh Burhanuddin tidak berhenti di Ulakan.

Murid-murid datang belajar.

Setelah memperoleh ilmu dan sanad, mereka kembali ke daerah masing-masing.

Mereka mendirikan surau.

Mengajar Al-Qur’an.

Mengajarkan fikih.

Mengajarkan tauhid.

Mengajarkan tasawuf.

Dan meneruskan Tarekat Syattariyah.

Sejumlah kajian sejarah menunjukkan bahwa perkembangan Syattariyah kemudian meluas ke berbagai wilayah Minangkabau, bahkan sampai ke daerah lain di Sumatera. Penelitian mengenai jaringan Syattariyah memperlihatkan bahwa hubungan guru-murid menjadi salah satu faktor utama yang membuat tarekat tersebut mampu bertahan selama berabad-abad.

Maka, kalau kita ingin memahami rahasia mengapa pengaruh Syekh Burhanuddin begitu panjang, jawabannya bukan hanya karena masyarakat mengingat namanya.

Tetapi karena ia meninggalkan jaringan manusia yang meneruskan ilmunya.

Syekh Burhanuddin dan Islam Minangkabau

Ada satu hal penting yang perlu ditempatkan secara proporsional.

Syekh Burhanuddin tidak tepat disebut sebagai satu-satunya orang yang pertama membawa Islam ke Sumatera Barat.

Islam telah hadir di wilayah Minangkabau sebelum masa beliau.

Kajian sejarah modern bahkan secara tegas menempatkan Syekh Burhanuddin bukan sebagai pelopor awal Islam di Ranah Minang, melainkan sebagai salah satu tokoh sentral dalam penguatan dan penyebaran Islam melalui jaringan surau dan Tarekat Syattariyah pada abad ke-17.

Menurut saya, justru di situlah kebesaran Syekh Burhanuddin.

Seorang tokoh besar tidak harus selalu disebut sebagai orang pertama.

Kadang-kadang seseorang menjadi besar karena mampu mengembangkan sesuatu yang sudah ada menjadi sebuah sistem yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Syekh Burhanuddin melakukan itu.

Ia menjadikan dakwah sebagai pendidikan.

Ia menjadikan pendidikan sebagai jaringan.

Ia menjadikan jaringan sebagai tradisi.

Dan tradisi tersebut kemudian menjadi bagian dari sejarah Islam Minangkabau.

Islam dan Adat dalam Ruang Dakwah

Syekh Burhanuddin hidup dalam masyarakat Minangkabau yang telah memiliki struktur adat, budaya dan sistem sosial sendiri.

Maka dakwah Islam tidak berlangsung di ruang kosong.

Ada adat.

Ada budaya.

Ada tradisi.

Ada struktur penghulu.

Ada sistem kekerabatan.

Di sinilah diperlukan kebijaksanaan seorang ulama.

Penelitian sejarah tentang Syekh Burhanuddin menunjukkan bahwa pendekatan dakwahnya mampu berinteraksi dengan adat dan kebudayaan lokal. Surau bukan hanya berfungsi sebagai lembaga agama, tetapi juga mempunyai fungsi sosial dan budaya.

Menurut saya, keberhasilan dakwah Syekh Burhanuddin justru dapat dibaca dari kemampuannya membawa Islam ke dalam kehidupan masyarakat tanpa harus memutus masyarakat dari realitas sosialnya.

Islam diajarkan.

Adat dihargai.

Akhlak dibentuk.

Ilmu dikembangkan.

Dan masyarakat dibimbing secara bertahap.

Pandangan Para Ilmuwan Sejarah

Azyumardi Azra menempatkan ulama-ulama Nusantara dalam sebuah jaringan intelektual yang menghubungkan kawasan Melayu-Indonesia dengan pusat-pusat keilmuan Islam di Timur Tengah.

Dalam konteks ini, Syekh Burhanuddin dapat dipahami sebagai salah satu mata rantai penting dari jaringan transmisi keilmuan tersebut melalui Syekh Abdurrauf al-Singkili.

Sementara Oman Fathurahman, melalui penelitian terhadap manuskrip dan jaringan Tarekat Syattariyah, menunjukkan bahwa perkembangan Syattariyah di Minangkabau tidak dapat dipahami hanya sebagai perkembangan sebuah tarekat, tetapi sebagai perkembangan jaringan intelektual, spiritual dan pendidikan.

Inilah yang menarik.

Syekh Burhanuddin tidak sekadar mewariskan ajaran.

Ia mewariskan sanad ilmu.

Dan sanad ilmu itulah yang membuat sebuah pemikiran tidak mudah terputus oleh pergantian zaman.

Surau: Universitas Masyarakat Minangkabau

Kalau menggunakan istilah sekarang, saya berani mengatakan bahwa surau pada masa itu memiliki fungsi seperti universitas masyarakat.

Memang tentu bukan universitas dalam pengertian kelembagaan modern.

Tetapi dari suraulah lahir orang-orang yang kemudian menjadi guru, ulama, imam dan pemimpin masyarakat.

Di surau orang belajar membaca Al-Qur’an.

Di surau orang belajar fikih.

Di surau orang belajar tasawuf.

Di surau orang belajar adab.

Dan di surau pula seorang anak muda belajar bagaimana hidup bersama masyarakat.

Karena itu, sejarah surau sebenarnya adalah sejarah pendidikan masyarakat Minangkabau.

Dan sejarah pendidikan tersebut tidak dapat dipisahkan dari perjalanan Syekh Burhanuddin.

Warisan yang Tidak Mati Bersama Kematian

Syekh Burhanuddin akhirnya wafat.

Namun, kematian seorang ulama tidak selalu berarti berakhirnya pengaruh.

Justru di sinilah kita bisa mengukur kebesaran seorang ulama.

Apa yang terjadi setelah ia tidak ada?

Jika setelah seorang guru meninggal tidak ada lagi ilmu yang diteruskan, maka pengaruhnya berhenti pada dirinya.

Tetapi kalau setelah ia meninggal masih ada murid yang mengajar, masih ada surau yang berdiri, masih ada sanad yang diteruskan, masih ada kitab yang dibaca dan masih ada masyarakat yang menjalankan tradisi keilmuannya, maka sesungguhnya ia masih hidup melalui ilmu yang diwariskannya.

Itulah yang terjadi pada Syekh Burhanuddin.

Tradisi Syattariyah masih bertahan di Sumatera Barat.

Tradisi ziarah dan Basapa di Ulakan masih menjadi bagian dari kehidupan keagamaan masyarakat.

Jaringan ulama Syattariyah masih dapat ditemukan.

Surau-surau yang menjadi pusat tarekat masih hidup.

Dan nama Syekh Burhanuddin masih menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat Minangkabau.

Syekh Burhanuddin dan Makna Seorang Guru

Bagi saya, ada pelajaran besar dari kehidupan Syekh Burhanuddin.

Seorang guru sebenarnya tidak diukur dari berapa banyak orang yang mengenal namanya.

Seorang guru diukur dari berapa banyak manusia yang berubah karena ilmunya.

Syekh Burhanuddin mungkin tidak meninggalkan gedung-gedung besar seperti yang kita kenal dalam dunia pendidikan modern.

Tetapi ia meninggalkan sesuatu yang jauh lebih panjang umurnya.

Ia meninggalkan tradisi.

Tradisi belajar.

Tradisi mengaji.

Tradisi berguru.

Tradisi bersanad.

Tradisi bersurah.

Tradisi membangun akhlak.

Dan tradisi mengembangkan Islam melalui pendidikan.

Empat Warisan Besar Syekh Burhanuddin

Kalau perjalanan hidup Syekh Burhanuddin kita ringkas dalam perspektif peradaban, saya melihat sedikitnya ada empat warisan besar yang ditinggalkannya.

Pertama, SURau sebagai pusat pendidikan.

Ia memperkuat surau sebagai tempat belajar dan pembentukan manusia.

Kedua, TAREKAT sebagai pendidikan spiritual.

Syattariyah menjadi jalan pembinaan jiwa dan akhlak.

Ketiga, SANAD sebagai kesinambungan ilmu.

Ilmu tidak berdiri sendiri, tetapi mempunyai mata rantai guru dan murid.

Keempat, JARINGAN ULAMA sebagai kekuatan dakwah.

Murid-muridnya kemudian menyebarkan ilmu ke berbagai wilayah.

Jadi, kalau kita berbicara mengenai Syekh Burhanuddin, jangan hanya berbicara mengenai makamnya.

Berbicaralah mengenai ilmu yang diwariskannya.

Jangan hanya berbicara mengenai Basapa.

Berbicaralah mengenai tradisi pendidikan yang melahirkannya.

Jangan hanya berbicara mengenai tarekat.

Berbicaralah mengenai pembentukan manusia yang menjadi tujuan dari tarekat itu sendiri.

Biodata Singkat Syekh Burhanuddin

Nama: Syekh Burhanuddin Ulakan
Nama kecil: Pono
Perkiraan lahir: 1646 M/1056 H
Asal: Minangkabau; sejumlah sumber menyebut Pariangan dan kemudian Sintuk/Lubuk Alung
Guru awal: Syekh Abdullah Arif
Guru utama: Syekh Abdurrauf al-Singkili/Syiah Kuala
Tarekat: Syattariyah
Pusat dakwah: Ulakan, Padang Pariaman
Lembaga dakwah: Surau
Peran: Ulama, guru tarekat, pendidik dan penyebar Islam
Warisan: jaringan surau, sanad keilmuan dan Tarekat Syattariyah Minangkabau
Makam: Tanjung Medan, Ulakan, Padang Pariaman

Untuk tahun wafat, sumber sejarah tidak sepenuhnya seragam. Karena itu, lebih aman menyebutnya sekitar akhir abad ke-17, dengan sejumlah sumber akademik dan tradisional memberikan angka yang berbeda. Perbedaan ini justru menunjukkan pentingnya melakukan pembacaan kritis terhadap sumber sejarah.

Penutup: Yang Sesungguhnya Diwariskan

Pada akhirnya, Syekh Burhanuddin Ulakan mengajarkan kepada kita satu hal yang sangat sederhana.

Dakwah tidak selalu harus dimulai dengan kekuasaan.

Kadang-kadang dakwah dimulai dari sebuah surau kecil.

Dari seorang guru.

Dari beberapa orang murid.

Dari kitab yang dibaca berulang-ulang.

Dari zikir yang dilakukan dengan penuh kesungguhan.

Dari ilmu yang kemudian diajarkan kembali.

Lalu dari satu murid lahir murid yang lain.

Dari satu surau berdiri surau yang lain.

Dari satu guru lahir guru berikutnya.

Dan akhirnya, dari sebuah tempat kecil bernama Ulakan, tumbuh sebuah jaringan keilmuan Islam yang pengaruhnya menyebar jauh melampaui zamannya.

Maka menurut saya, kebesaran Syekh Burhanuddin bukan terletak pada seberapa besar bangunan yang ditinggalkannya.

Tetapi pada seberapa panjang umur ilmu yang diwariskannya.

Ia telah menunjukkan bahwa membangun peradaban tidak selalu dimulai dari istana.

Tidak selalu dari kekuasaan.

Tidak selalu dari gedung yang megah.

Kadang-kadang sebuah peradaban justru dimulai dari surau sederhana, seorang guru yang ikhlas, beberapa orang murid dan ilmu yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Dan dalam konteks sejarah Islam Minangkabau, Syekh Burhanuddin Ulakan adalah salah satu nama yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang tersebut.

Exit mobile version